Daya Beli Masyarakat Makin Rendah, Imbas Kebijakan Kapitalisme
Oleh: Hamnah B. Lin
Inflasi tahunan Indonesia yang mencapai 3,08 persen pada Mei 2026 dinilai mulai menekan daya beli masyarakat, terutama kelompok menengah bawah yang sebagian besar pengeluarannya digunakan untuk kebutuhan pokok sehari-hari. Kepala Pusat Makroekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman mengatakan kenaikan harga sejumlah komoditas pangan seperti cabai merah, minyak goreng, bawang merah, tomat, dan beras mulai mengurangi ruang belanja rumah tangga.
"Inflasi tahunan Mei 2026 yang mencapai 3,08 persen mulai memberikan tekanan terhadap daya beli masyarakat, terutama kelompok menengah bawah yang sebagian besar pengeluarannya digunakan untuk kebutuhan pangan," ujar Rizal kepada Kompas.com, Kamis (4/6/2026).
Pelemahan nilai tukar Rupiah yang sempat menembus kisaran Rp17.600 – Rp17.700 per dolar AS ini jelas sangat membebani rakyat. Sebab kondisi ini langsung memicu lonjakan biaya produksi dan harga barang, terutama kebutuhan pokok. Sementara itu, imbas dari kenaikan dolar ini membuat daya beli masyarakat kian menurun.
Melemahnya rupiah terhadap dolar sesungguhnya tidak lepas dari berbagai aspek. Dari aspek eksternal, melemahnya rupiah tidak lepas dari konstelasi politik internasional, yakni perang AS-Iran. Meningkatnya tensi konflik antara AS dan Iran memberikan dampak signifikan terhadap stabilitas ekonomi global, termasuk terhadap nilai tukar mata uang negara berkembang seperti Indonesia. Konflik ini bukanlah peristiwa militer semata, melainkan sebagai fenomena geopolitik yang memicu ketidakpastian global dan mengganggu keseimbangan pasar internasional.
Sayang, komunikasi pejabat publik dalam merespons ketakpastian global ini terkesan antipati pada rakyatnya. Bahkan, sekelas presiden pun dengan santainya mengatakan bahwa mereka yang tinggal di pelosok tidak terganggu dengan kenaikan dolar terhadap rupiah. Alasan klisenya, rakyat di perdesaan tidak menggunakan dolar dalam bertransaksi.
Padahal, dampak kenaikan kebutuhan akibat kenaikan dolar tidak memandang seseorang domisilinya di mana. Jika pemerintah mau sedikit saja peka, dari rantai distribusi pasokan kebutuhan pokok, makin panjang rantai distribusi makin naik pula biaya yang dikeluarkan rakyat. Di pelosok, beberapa kebutuhan justru naik akibat jalur distribusi yang lebih panjang.
Miris, ketakpekaan pemerintah terhadap realitas kondisi masyarakat, berujung pada kekeliruan penyelesaian masalah ekonomi ini. Selain mengeluarkan pernyataan blunder yang minim solusi, hingga saat ini pemerintah belum tampak mengambil langkah-langkah strategis di tengah naiknya harga-harga kebutuhan pokok.
Masyarakat pada akhirnya menanggung sendiri beban hidup karena ketiadaan peran pemerintah untuk menyelesaikan problem tersebut. Bahkan, kebijakan yang dibuat makin memperburuk keadaan. Melemahnya rupiah terhadap dolar tidak hanya berdampak pada naiknya harga bahan pokok tetapi juga membuat jumlah utang makin melambung.
Sedangkan dalam sistem Islam, Islam menetapkan sistem mata uang berbasis emas. Sistem ini lebih stabil dan adil sehingga dari aspek ekonomi akan aman dan jauh dari krisis. Emas dan perak sudah lama dipakai sebagai sistem mata uang sejak masa Rasulullah SAW. Emas dan perak adalah mata uang paling stabil yang pernah ada. Sejak masa awal Islam hingga hari ini, nilai mata uang Islam dwilogam itu tetap stabil dalam hubungannya dengan barang-barang konsumtif.
Jika emas digunakan sebagai mata uang resmi oleh negara, ketiga syarat tersebut akan terpenuhi dan bukan sekadar menjadi komoditas biasa. Jika khilafah menggunakan mata uang emas, negara ini akan memiliki kekuatan ekonomi.
Ini karena mata uang emas tidak akan bisa dipermainkan atau terombang-ambing nilai tukarnya oleh mata uang kertas mana pun, sekuat apa pun mata uang kertas tersebut. Sebaliknya, justru seluruh mata uang kertas dunia akan menstandarkan nilai tukarnya pada mata uang emas ini. Semua mata uang kertas dunia akan bertekuk lutut pada mata uang emas ini. Dengan penggunaan sistem mata uang emas yang diterapkan oleh negara khilafah, ekonomi rakyat akan berjalan stabil. Kehidupan masyarakat juga akan tenang tanpa merasa was-was dengan krisis ekonomi, resesi, atau pelemahan nilai tukar mata uang.
Kondisi melemahnya rupiah akan terus berulang selama negeri ini menerapkan ideologi kapitalisme yang mana sistem ekonominya berbasis ribawi dan fiat money.
Sedangkan jika menerapkan sistem Islam, kondisi perekonomian akan lebih stabil dan kuat karena ditopang sistem ekonomi Islam berbasis emas dan perak yang memiliki beragam keunggulan, baik dari aspek bahannya, jangka waktu penggunaannya, dan nilainya.
Wallahu a'lam.

Posting Komentar