Bengkel Motor Sepi, Dampak Penurunan Daya Beli
Oleh : Dian Ummu Farrah
Masyarakat Indonesia saat ini semakin resah, bukan hanya kenaikan harga kebutuhan pokok seperti beras, gula dan minyak goreng saja yang merangkak naik, tapi ternyata harga kebutuhan penyertapun ikut naik. Kebutuhan penyerta seperti perawatan transportasi motor atau mobil yang bisa tiap hari mereka kendarai untuk mencari nafkah dan beraktifitas lain, ternyata juga kena imbasnya.
Kondisi pendapatan yang stagnan dan bahkan bisa jadi mengalami penurunan akibat banyaknya orang-orang yang mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK), otomatis membuat banyak masyarakat (kembali dan kembali lagi) 'mengencangkan ikat pinggang' alias berhemat.
Untuk membeli kebutuhan pokok saja, mereka harus memutar otak agar tetap cukup mengenyangkan perut anggota keluarga sampai akhir bulan, apalagi kalau harus memikirkan biaya perawatan atau kerusakan motor mereka. Para kepala keluarga (ayah) maupun manager rumah tangga (ibu) pasti sudah sangat pusing dengan itu semua.
Daya beli masyarakat yang menurun ini juga mengakibatkan sepinya konsumen di bengkel-bengkel motor. Seperti yang disampaikan Roni, seorang montir sebuah bengkel di Jakarta, yang merasakan sepinya pengunjung sejak sebulan yang lalu. Bahkan, Ilyas, seorang montir bengkel di wilayah yang sama, mengatakan bahwa sepinya bengkel tempat ia bekerja sudah terjadi sekitar 2 bulan lalu (cnbcindonesia.com,5/6/2026).
Apalagi saat ini, terjadi kenaikan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax, di tengah semakin dibatasinya jumlah BBM yang paling murah yaitu jenis Pertalite. Pertamax berubah harga menjadi Rp 16.250 per liter mulai tanggal 10 Juni 2026, setelah sempat ditahan pada level Rp 12.300 per liter (detikfinance.com,10/6/2026).
Tentu saja kenaikan harga Pertamax dan semakin berkurangnya pasokan Pertalite ini semakin mencekik kondisi sebagian masyarakat di negeri ini. Boro-boro memenuhi kebutuhan sekunder maupun tersier, untuk memenuhi kebutuhan primer saja, rakyat sudah 'ngos-ngosan'.
Ketergantungan negeri ini kepada cengkeraman Barat, membuat penguasanya tidak mampu membendung 'ajakan kerjasama' mereka, yang sebetulnya hanya tipu muslihat untuk semakin menjerumuskan negeri ini dalam kubang kemiskinan.
Negeri yang kaya akan sumber daya alam ini, 'bertekuk lutut' terhadap Barat, akibat jebakan utang riba yang semakin menggunung jumlahnya. Kekayaan alam negara, seperti tidak ada 'rasa'nya bagi rakyatnya sendiri. Bukannya rakyat bisa menikmati hasil kekayaan alam yang melimpah ini, tapi yang dirasakan rakyat malahan kesulitan ekonomi dan pajak yang membumbung.
Indonesia yang begitu subur, sampai-sampai disebut bahwa ia termasuk dari 3 negara "Paru-Paru Dunia" bersama Brazil dan Kongo (okezone.com,20/10/2022), yang hampir semua keanekaragaman hayati ada di negeri ini, ternyata tidak membuat rakyatnya sejahtera.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat masih ada 23,36 juta penduduk Indonesia hidup dalam kemiskinan (nu.or.id,7/2/2026).
Akar masalah semua ini adalah dijalankannya pemerintahan yang menganut sistem Kapitalis. Sistem yang menganggap bahwa materi adalah segala-galanya, sehingga mampu berpengaruh kepada kebahagiaan seseorang. Jadinya dalam sistem ini, manusia berlomba-lomba mengejar materi, termasuk juga para pemimpin yang diharapkan rakyat akan bisa mengangkat martabat mereka, ternyata malah berupaya meraup materi sebanyak-banyaknya, kadang malah sudah seperti 'pendekar mabuk', harta harampun digasak, bukan untuk rakyat, tapi untuk dirinya sendiri beserta kroni-kroninya. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mencatat ada 1.880 orang yang tertangkap melakukan tindakan pidana korupsi sepanjang tahun 2004 sampai dengan pertengahan 2026. Seperti fenomena gunung es, jumlahnya bisa berkali-kali lipat lebih banyak dari jumlah yang tertera, hanya saja tidak terungkap dengan banyak sebab.
Bagaimana rakyat akan hidup tenang dan sejahtera, kalau pemimpinnya bertabiat tidak baik seperti itu? Karena itulah, kaum muslimin wajib mengkaji lagi bagaimana Islam mengatur seluruh lini kehidupan manusia.
Islam mengajarkan kepada kaum muslimin, bagaimana ia wajib membaktikan dirinya kepada Allah Swt. baik ia diamanahi sebagai pemimpin maupun tidak, yaitu wajib bertaqwa kepada Allah. Bertaqwa adalah sikap patuh, taat dan penuh kesadaran dalam menjalankan perintah Allah Swt. serta menjauhi segala laranganNya.
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. pernah ditanya, "Siapakah orang yang paling mulia?" Beliau menjawab: "Yang paling mulia di antara mereka di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara mereka" (HR Bukhari).
Bagaimana menjadi seorang pemimpin dalam Islam? Abu Hurairah ra. berkata bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda, "Ada tujuh macam orang yang bakal bernaung di bawah naungan Allah, pada hari tiada naungan kecuali naungan Allah yaitu Imam (pemimpin) yang adil, pemuda yang rajin ibadah kepada Allah, orang yang hatinya selalu gandrung kepada masjid, dua orang yang saling menyayangi karena Allah baik saat berkumpul atau berpisah, seorang laki-laki yang diajak berzina oleh wanita bangsawan nan cantik, yang ia menolak dengan berkata 'saya takut kepada Allah', orang yang sedekah dengan sembunyi-sembunyi hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya dan orang berdzikir ingat pada Allah saat sendirian hingga mencucurkan air matanya" (HR Bukhari Muslim).
Keshalehan berjamaah para pemimpin dan orang-orang yang dipimpin telah terbukti pernah menjadi kenyataan, yaitu saat ditegakkannya Islam secara kaffah (menyeluruh) mulai dari peristiwa Hijrah atau hijrahnya Rasulullah Saw. ke Madinah, sampai dengan runtuhnya kekhilafahan Turki Utsmani pada 3 Maret 1924. Jadi, sampai 13 abad Islam pernah menjadi mercusuar dunia yaitu menjadi pusat peradaban yang agung di dunia. Karena itulah, kaum muslimin wajib kembali untuk menegakkan syariat Islam kaffah seperti yang dicontohkan oleh para pendahulu, sehingga Islam bukan hanya sebagai agama mahdhoh saja seperti saat ini, tapi menjadi rahmatan lil 'alamiin (rahmah bagi seluruh umat di dunia).
Wallahu'alam bishshowwab.

Posting Komentar