-->

Suramnya Dunia Pendidikan Lahirkan Pejabat Korup: Buah Kapitalis Sekuler

Suramnya Dunia Pendidikan Lahirkan Pejabat Korup:Buah Kapitalis Sekuler

Oleh: Susi Ummu Musa

Belum lama tepatnya 2 Mei dunia pendidikan memperingati HARDIKNAS atau Hari Pendidikan Nasional suasana peringatan masih diwarnai dengan upacara bendera disekolah, pidato dan pesan pesan dari para guru untuk memajukan pendidikan. 
Tampak perhatian kepada pendidikan terus ditonjolkan dengan kegiatan yang penuh sukacita namun mengesampingkan berbagai problematika yang ada, sistem pendidikan yang carut marut terutama persoalan kesejahteraan guru sampai hari ini belum menjadi prioritas malah guru semakin dipinggirkan dengan kehadiran MBG. 

Dilema kebijakan pemerintah menggambarkan betapa hancurnya sistem yang ada di Indonesia karena nasib guru dipertaruhkan.
Bagaimana para guru bisa mengajar dengan tenang jika kesejahteraanya masih diabaikan begitu juga dengan kualitas guru yang semakin meresahkan.  banyak kasus kekerasan, pelecehan, kecurangan akademik hingga adab belajar yang kurang. 
Maka ada satu kekeliruan yang nyata yaitu pada pondasi sistem pendidikannya. 

Pendidikan Hilang Arah

Pendidikan adalah kunci keberhasilan seseorang dalam menyelami kehidupan,siapa yang bersungguh-sungguh maka dia akan sukses dia akan selamat bahkan hingga akhirat karna ilmu yang ia ambil bukan hanya dunia saja namun ilmu akhirat (agama). 
Namun, ternyata banyak sekali orang-orang yang telah tenggelam bersama ilmu yang ia dapatkan karena lemahnya iman dan tekanan disekitar, banyak orang berilmu namun terbawa kepada kesesatan mereka tergiur dengan harta dan jabatan sehingga peluang untuk berada dalam jebakan dosa tak bisa terelakkan. 

Maka lahirlah para pemimpin dzolim, khianat, korupsi, tidak amanah dan beragam jenis prilaku prilaku maksiat lainnya. 
Para pemimpin atau pejabat yang diamanahi kini telah berbelok arah lantas dimana ilmu yang ia dapatkan saat duduk di bangku sekolah? 
Ternyata sistem pendidikan yang hanya sekedar tranfer ilmu saja tidak membekas dibenak benak mereka hanya sedikit orang yang mampu mengendalikan dirinya karena keimanannya yang kuat. Maka lahirlah para pejabat korup dengan kehidupannya yang mewah. 

Berdasarkan data Indonesia Corruption Watch (ICW), terdapat 364 kasus korupsi dengan 888 tersangka pada tahun 2024. Sepanjang 2004-2022, ratusan pejabat dipenjara, termasuk 344 anggota DPR/DPRD, 38 menteri/kepala lembaga, 24 gubernur, dan 162 bupati/walikota. Korupsi menyebar di berbagai sektor dan eselon birokrasi.

Betapa mirisnya kondisi para pejabat dinegri ini padahal jelas mereka tau perbuatan korupsi adalah kesalahan dan mereka lahir dari didikan sistem dinegri ini. 
Kepatuhan dan rasa tanggung jawab telah pupus dari dirinya sehingga ilmu yang didapat tidak membekas dalam aplikasinya. 

Kapitalis Sekuler Biang Kehancuran

Dalam pandangan kapitalis sekuler, meraih sebanyak-banyaknya materi dan kesenangan dunia menjadi tujuan hidup manusia. Sehingga ketika hal itu tidak tercapai, ia merasa gagal dan mudah menyerah dalam hidup. Hal itu menyebabkan munculnya gangguan cemas, stres, depresi, dan sejenisnya yang memicu seseorang melakukan bunuh diri atau melakukan tindakan kriminal dan menyimpang. Inilah dua pangkal malapetaka kehidupan manusia yang telah melemahkan fungsi dari pendidikan. Pendidikan seolah mandul untuk melahirkan manusia berkarakter unggul dan tangguh.

Kembali Kepada Islam

Berbeda dengan sistem Islam, menurut M. Ismail Yusanto dalam bukunya yang berjudul Menggagas Sistem Pendidikan Islam bahwa pendidikan Islam terlahir dari sebuah paradigma Islam berupa pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan kehidupan dikaitkan dengan kehidupan sebelum dunia dan kehidupan setelahnya, serta kaitan antara kehidupan dunia dan kehidupan sebelum dan sesudahnya. Paradigma pendidikan Islam tidak bisa dilepaskan dari paradigma Islam. Pendidikan dalam sistem Islam memiliki visi yang jelas, yakni mencetak generasi dengan pola pikir dan pola sikap yang sesuai dengan Islam, 
Sehingga akan lahir generasi yang bertakwa dan berakhlak mulya. 

Wallahu a' lam bissawab