Pesantren Tercoreng Kasus Cabul, Buah Rusaknya Sistem Sekuler
Oleh : Henise
Lembaga pendidikan Islam yang seharusnya menjadi tempat lahirnya generasi bertakwa kembali tercoreng oleh kasus asusila. Ketika pesantren ikut terseret dalam kasus pelecehan dan pemerkosaan, publik pun terguncang. Namun persoalan ini tidak cukup dilihat hanya sebagai kesalahan individu semata. Ada kerusakan sistemik yang lebih besar yang sedang menggerogoti dunia pendidikan dan kehidupan masyarakat hari ini.
Fakta: Kasus Asusila Kembali Menyeret Dunia Pesantren
Kasus dugaan pemerkosaan santriwati di sebuah pondok pesantren di Pati menjadi sorotan publik. Pengasuh ponpes dilaporkan telah ditetapkan sebagai tersangka dan diamankan aparat. Kasus ini memicu kemarahan masyarakat sekaligus keprihatinan mendalam terhadap keamanan lembaga pendidikan agama.
Fenomena kekerasan seksual di lingkungan pendidikan sebenarnya bukan kasus baru. Berbagai kasus serupa terus bermunculan, baik di sekolah umum maupun lembaga berbasis agama. Korbannya pun mayoritas perempuan dan anak-anak yang seharusnya mendapatkan perlindungan penuh.
Kasus ini memperlihatkan bahwa ruang pendidikan hari ini semakin kehilangan rasa aman. Bahkan lembaga yang identik dengan pendidikan agama pun tidak luput dari kerusakan moral yang melanda masyarakat.
Yang lebih memprihatinkan, banyak kasus baru terbongkar setelah viral di media sosial atau mendapat tekanan publik besar. Artinya, mekanisme perlindungan dan pengawasan masih lemah, sementara korban sering kali tidak memiliki keberanian atau perlindungan untuk melapor sejak awal.
Kritik Islam: Sekularisme Melahirkan Krisis Moral
Dalam pandangan Islam, maraknya kasus asusila bukan sekadar masalah individu menyimpang, tetapi akibat dari sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan.
Sekularisme menjadikan agama hanya sebatas ritual, bukan landasan perilaku. Akibatnya, banyak orang memiliki identitas keagamaan, tetapi tidak menjadikan halal-haram sebagai standar dalam bertindak.
Sistem kapitalisme juga memperparah kerusakan moral melalui budaya liberal yang mengumbar syahwat dan kebebasan tanpa batas. Konten pornografi, pergaulan bebas, dan budaya permisif terus membanjiri masyarakat hingga merusak pola pikir manusia.
Akibatnya, hawa nafsu menjadi liar dan sulit dikendalikan. Bahkan orang yang berada di lingkungan pendidikan agama pun bisa terjerumus jika tidak dibangun dengan sistem yang benar dan pengawasan yang kuat.
Di sisi lain, negara sekuler gagal membangun sistem pendidikan yang benar-benar melahirkan ketakwaan. Pendidikan lebih fokus pada aspek administratif dan formalitas, sementara pembinaan kepribadian Islam tidak menjadi prioritas utama.
Sanksi yang diterapkan pun sering kali tidak memberikan efek jera yang kuat. Akibatnya, kasus serupa terus berulang dari waktu ke waktu.
Dengan demikian, problem utamanya bukan hanya pada pelaku, tetapi pada sistem kehidupan yang rusak dan tidak menjadikan syariat sebagai landasan utama.
Solusi Islam: Membangun Sistem Pendidikan Berbasis Ketakwaan
Islam memiliki solusi yang menyeluruh untuk mencegah kerusakan moral dan menjaga kehormatan manusia.
Pertama, Islam menjadikan akidah sebagai dasar pendidikan. Tujuan pendidikan bukan sekadar mencetak orang pintar, tetapi membentuk manusia bertakwa yang takut kepada Allah dalam setiap keadaan.
Kedua, Islam mengatur sistem pergaulan secara rinci untuk menutup pintu-pintu kerusakan. Interaksi laki-laki dan perempuan diatur dengan menjaga kehormatan dan menghindari khalwat maupun hal-hal yang memicu syahwat.
Ketiga, negara wajib memastikan seluruh lembaga pendidikan berjalan sesuai syariat dan berada dalam pengawasan yang ketat. Negara tidak boleh membiarkan adanya celah yang membahayakan peserta didik.
Keempat, Islam menetapkan sanksi tegas terhadap pelaku kekerasan seksual. Sanksi ini berfungsi sebagai pencegah (zawajir) sekaligus penebus dosa (jawabir), sehingga mampu memberikan efek jera nyata.
Kelima, masyarakat juga dibangun dalam suasana ketakwaan. Media, lingkungan sosial, dan sistem kehidupan diarahkan untuk menjaga moral, bukan merusaknya.
Dengan penerapan Islam secara kaffah, lembaga pendidikan akan benar-benar menjadi tempat lahirnya generasi berilmu dan berakhlak mulia, bukan ruang yang rawan terhadap kerusakan moral.
Penutup
Kasus asusila di pesantren bukan alasan untuk membenci Islam atau lembaga pendidikan Islam. Justru, ini menjadi alarm keras bahwa sistem sekuler hari ini telah merusak berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan.
Selama agama tidak dijadikan landasan utama dalam mengatur kehidupan, maka kerusakan moral akan terus bermunculan, bahkan di tempat yang seharusnya menjaga nilai-nilai agama.
Karena itu, solusi tidak cukup hanya dengan mengecam pelaku atau memperketat aturan administratif. Yang dibutuhkan adalah perubahan sistemik dengan kembali menerapkan Islam secara kaffah agar kehormatan manusia benar-benar terjaga dan pendidikan kembali menjadi tempat lahirnya generasi yang bertakwa.
Wallahu a'lam

Posting Komentar