-->

Gaza Terus Dibombardir, Di Mana Perisai Umat Islam?


Oleh : Ghooziyah

Darah terus mengalir di Gaza. Rumah-rumah hancur, rumah sakit lumpuh, jurnalis dibunuh, bantuan kemanusiaan dihalangi, dan rakyat Palestina terus hidup di bawah blokade yang mencekik. Namun yang lebih menyakitkan, tragedi ini terjadi di hadapan dunia Islam yang memiliki ratusan juta penduduk dan kekuatan militer besar, tetapi tetap tak mampu menghentikan kezaliman Zionis. Pertanyaannya, mengapa umat sebesar ini tidak memiliki kekuatan nyata untuk melindungi saudara-saudaranya sendiri?

Fakta: Gaza Diblokade, Dunia Hanya Mengecam

Agresi Zionis terhadap Gaza terus berlanjut tanpa henti. Bahkan kapal-kapal pembawa bantuan kemanusiaan yang berlayar menuju Gaza dicegat dan disita di perairan internasional dekat Yunani. Dalam insiden tersebut, sebanyak 211 aktivis ditangkap dan puluhan lainnya mengalami luka-luka akibat tindakan militer Zionis.

Ironisnya, tindakan ini coba dibenarkan dengan tuduhan bahwa kapal tersebut beroperasi di bawah arahan Hamas. Label “teroris” kembali digunakan untuk melegitimasi tindakan represif dan membungkam solidaritas internasional terhadap Palestina.

Di sisi lain, kekejaman terhadap warga sipil terus berlangsung. OHCHR melaporkan hampir 300 jurnalis telah terbunuh sejak agresi besar dimulai pada Oktober 2023. Gaza bahkan disebut sebagai tempat paling mematikan bagi jurnalis di dunia.

Data korban juga menunjukkan skala kehancuran yang luar biasa. Serangan Zionis selama dua tahun terakhir dilaporkan menewaskan lebih dari 72.000 orang, melukai sekitar 172.000 lainnya, dan menghancurkan hampir 90 persen infrastruktur sipil di Gaza.

Namun di tengah tragedi sebesar ini, negeri-negeri Muslim hanya sebatas mengeluarkan kecaman diplomatik. Tidak ada armada laut yang dikirim untuk melindungi kapal bantuan. Tidak ada kekuatan militer yang benar-benar bergerak menghentikan blokade. Fakta ini menunjukkan betapa lemahnya posisi umat Islam dalam sistem dunia hari ini.

Kritik Islam: Nation-State Gagal Melindungi Umat

Dalam pandangan Islam, tragedi Gaza bukan sekadar konflik politik biasa, melainkan bukti nyata kegagalan sistem negara-bangsa (nation-state) yang diwariskan penjajah Barat.

Negeri-negeri Muslim hari ini terpecah menjadi puluhan negara dengan kepentingan nasional masing-masing. Loyalitas dibatasi oleh batas wilayah dan kepentingan politik domestik, bukan oleh ikatan akidah Islam.

Akibatnya, penderitaan Palestina sering dianggap hanya urusan “negara lain”, bukan persoalan seluruh kaum Muslimin. Padahal, dalam Islam, kaum Muslim adalah satu tubuh. Ketika satu bagian disakiti, seluruh tubuh seharusnya ikut merasakan sakit.

Sistem internasional hari ini juga dibangun untuk menjaga kepentingan negara-negara besar dan melindungi eksistensi Zionis. Pelanggaran hukum internasional yang dilakukan Zionis terus dibiarkan tanpa hukuman nyata. Bahkan bantuan kemanusiaan pun bisa dicegat di laut internasional tanpa konsekuensi serius.

Label “teroris” yang terus digunakan terhadap Hamas atau pihak yang mendukung Palestina hanyalah alat propaganda untuk membenarkan penjajahan. Barat dan Zionis menggunakan narasi ini untuk mengkriminalisasi perjuangan umat Islam dan membungkam solidaritas dunia.

Akar masalah sebenarnya adalah tidak adanya kepemimpinan politik Islam yang menyatukan umat. Ketika umat kehilangan institusi politik yang melindungi mereka, maka negeri-negeri Muslim menjadi lemah, mudah dipecah, dan terus menjadi sasaran penjajahan kapitalisme global.

Solusi Islam: Khilafah sebagai Perisai Umat

Islam memiliki solusi yang jelas terhadap persoalan ini. Gaza adalah bagian dari tanah kaum Muslimin yang wajib dilindungi. Membiarkan blokade dan pembantaian terus berlangsung tanpa tindakan nyata adalah kemungkaran besar.

Dalam Islam, negara memiliki kewajiban melindungi darah dan kehormatan kaum Muslimin. Karena itu, keberadaan institusi politik Islam yang menyatukan umat menjadi kebutuhan mendesak.

Khilafah Islamiyyah adalah institusi yang secara syar’i memiliki kewajiban menjaga umat dan menghadapi agresi musuh melalui jihad fii sabilillah. Khalifah bukan hanya pemimpin administratif, tetapi juga pelindung umat (junnah) yang memastikan keamanan dan kehormatan kaum Muslimin.

Dengan persatuan politik umat di bawah Khilafah, kekuatan militer negeri-negeri Muslim tidak akan tercerai-berai. Armada laut, kekuatan ekonomi, dan sumber daya umat dapat digunakan untuk melindungi Palestina dan menghentikan agresi Zionis.

Islam juga tidak membiarkan penjajahan atas tanah kaum Muslimin. Palestina adalah amanah umat yang wajib dibebaskan. Karena itu, perjuangan membela Gaza tidak cukup hanya dengan aksi solidaritas, bantuan kemanusiaan, atau kecaman diplomatik.

Yang dibutuhkan adalah perjuangan politik dan dakwah untuk mengembalikan kepemimpinan Islam yang mampu menjadi perisai umat. Inilah metode perjuangan yang diwariskan Rasulullah saw., yakni membangun kekuatan politik Islam yang menerapkan syariat secara kaffah.

Kemarahan umat terhadap tragedi Gaza seharusnya diarahkan bukan hanya pada emosi sesaat, tetapi pada kesadaran untuk memperjuangkan perubahan sistem yang mampu melindungi umat secara nyata.

Penutup

Tragedi Gaza adalah luka besar umat Islam sekaligus bukti nyata lemahnya posisi kaum Muslimin hari ini. Ketika bantuan kemanusiaan dicegat, jurnalis dibunuh, dan puluhan ribu warga sipil dibantai tanpa perlindungan nyata, maka jelas ada yang salah dengan sistem politik dunia saat ini.

Negeri-negeri Muslim yang terpecah dalam sistem nation-state terbukti gagal menjadi pelindung umat. Sementara Zionis terus bertindak brutal karena tahu tidak ada kekuatan yang benar-benar akan menghentikan mereka.

Islam menawarkan solusi yang lebih mendasar, persatuan umat di bawah kepemimpinan Islam yang menjadikan syariat sebagai landasan dan jihad sebagai mekanisme perlindungan umat.

Karena itu, perjuangan membela Gaza tidak boleh berhenti pada simpati dan kecaman. Umat harus bergerak menuju perubahan hakiki dengan memperjuangkan tegaknya Khilafah Islamiyyah sebagai perisai (junnah) bagi seluruh kaum Muslimin.

Wallahu a'lam