-->

Sarjana Nganggur Nan Ngawur


Oleh : Tjandra Sarie Astoeti Sutisno, M. Pd., Pemerhati Pendidikan

Kelulusan sering kali dianggap sebagai sebuah garis finish, padahal secara esensial, ia adalah sebuah gerbang transisi. Di satu sisi ada rasa lega karena beban akademik telah usai, namun di sisi lain muncul urgensi untuk membuktikan diri di dunia nyata. Selain itu juga, lulus S1 (Sarjana) atau S2 (Pasca Sarjana) sebagai momen, teori harus mulai bernapas dalam bentuk aksi.

Cerita kontras antara kenyamanan bangku kuliah dengan ketidakpastian kolom lowongan kerja. Tekankan kelulusan bukan akhir dari belajar, melainkan awal dari belajar yang lebih mahal (pengalaman). Nyatakan kesiapan untuk melangkah. Menjadi pengangguran sementara bukan berarti tidak berharga, melainkan sedang dalam masa inkubasi untuk peluang yang tepat.

Kelulusan apa itu jenjang sekolah atau kampus adalah saat kita berhenti menjawab pertanyaan di atas kertas, dan mulai menjawab tantangan di lapangan. Esensi kelulusan dalam konteks hari ini bukan lagi sekadar upacara pemindahan tali toga, melainkan sebuah transformasi identitas dan pengujian ketangguhan.

Selama masa studi, esensi peran kita sebagai konsumen informasi. Menyerap ilmu, mengikuti kurikulum, dan menjawab pertanyaan yang sudah ada jawabannya. Di sini titik balik ketika kita berhenti menjadi penyerap dan mulai menjadi pemberi solusi. Dunia kerja tidak lagi memberi silabus namun kita sendiri yang harus menulis kurikulum karier kita.

Ijazah sering kali disalahpahami sebagai ukuran kecerdasan intelektual semata. Secara esensial, ijazah adalah bukti bahwa kita memiliki grit (ketekunan). Padahalkan, tidak seperti itu. Secara makna bisa dibilang kelulusan atau seorang sarjana memvalidasi bahwa kita mampu berkomitmen pada tujuan jangka panjang, melewati birokrasi, tekanan tenggat waktu, dan kegagalan kecil selama bertahun-tahun. Inilah kualitas yang sebenarnya dicari oleh lapangan pekerjaan. Di sini kemampuan untuk menuntaskan apa yang telah dimulai.

Fenomena kehidupan

Faktanya kelulusan adalah penyerahan kendali penuh ke tangan kita. Di kampus, kegagalan berarti nilai buruk namun di dunia nyata, kegagalan berarti konsekuensi hidup. Realita lain kelulusan itu momen ketika kita kehilangan pelindung berupa status mahasiswa, namun mendapatkan otonomi untuk menentukan siapa diri kita di masyarakat.

Dalam kenyataannya lapangan kerja tahun sekarang yang serba cepat, memahami esensi ini sangat krusial agar kita tidak terjebak dalam post-graduation blues. Maksudnya adalah psikologis berupa perasaan sedih, cemas, kehilangan arah, hingga depresi ringan yang dialami seseorang sesaat setelah menyelesaikan pendidikan formal (biasanya setelah wisuda) baik jenjang sekolah atau kampus.

Ini adalah kondisi yang sangat umum dan manusiawi, meski sering kali tertutup oleh ekspektasi bahwa sarjana seharusnya menjadi momen paling bahagia dalam hidup. Pemicu utama mengapa hal ini terjadi biasanya, kehilangan struktur dan rutinitas yang selama sekian tahun, hidup kita diatur oleh jadwal lalu jam kuliah, tenggat waktu tugas, dan kalender akademik. Saat lulus, struktur itu tiba-tiba hilang.

Kita bangun di pagi hari tanpa tugas yang jelas, dan kekosongan jadwal ini sering kali memicu rasa cemas akan masa depan. Ada lagi, krisis identitas mahasiswa. Ketika gelar sarjana (strata 1, strata 2 dan lain-lain) sudah diraih, label itu tanggal. Ada perasaan asing saat kita tidak lagi memiliki institusi untuk bernaung, sementara identitas baru sebagai Profesional atau sarjana wan/wati belum kunjung didapatkan karena masih dalam proses mencari kerja.

Lebih dalam adalah, tekanan sosial dan perbandingan banyak melihat unggahan teman di media sosial yang sudah mulai bekerja, lanjut studi, atau terlihat sukses hal ini bisa memicu perasaan tertinggal. Di masa depan, arus informasi begitu cepat, tekanan untuk langsung sukses setelah lulus terasa jauh lebih berat. Perasaan takut akan penolakan terus menghantuinya. Inilah fase seseorang menghadapi banyak penolakan (atau bahkan diabaikan oleh perusahaan). Bagi lulusan baru, penolakan seperti itu sering kali dianggap sebagai penilaian terhadap harga diri mereka secara personal, bukan sekadar proses bisnis.

Kasus nyata yang viral, terjadi di Jakarta Timur, seorang pelamar kerja menjadi korban penipuan berkedok rekrutmen (www.gobekasi.com pada April 2026). Atau modus penipuan tanpa modal misalnya, janji pekerjaan mudah dengan gaji tinggi, namun berujung permintaan uang. Dan masih banyak lagi kisah ngawur lainnya.

Bagaimana pandangan Islam

Dalam hal ini, fase kelulusan dan masa mencari kerja bukan sekadar urusan duniawi, melainkan bagian dari perjalanan spiritual dan pemenuhan amanah. Islam melihat transisi ini sebagai momen krusial dalam pembentukan karakter seorang hamba. Bekerja sebagai bentuk ibadah, Islam menempatkan kemandirian ekonomi pada posisi yang sangat mulia. Bekerja bukan hanya untuk mencari uang, tapi untuk menjaga kehormatan diri agar tidak meminta-minta dan untuk menafkahi keluarga.

Dengan prinsip tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Upaya Anda mencari kerja (ikhtiar) sudah dicatat sebagai pahala, bahkan sebelum kita mendapatkan pekerjaan tersebut. Konsep rezeki yang sudah terukur, sebagai salah satu penawar utama post-graduation blues dalam Islam adalah keyakinan pada qada dan qadar.

Islam mengajarkan rezeki tidak akan tertukar. Jika sesuatu memang ditetapkan untuk kita, seluruh dunia tidak bisa menghalanginya. Sebaliknya, jika bukan milik kita, sekeras apa pun usaha, ia tidak akan menetap. Kelulusan baik sarjana ekonomi, sarjana muda, sarjana pendidikan atau yang lain nya adalah ujian keyakinan. Apakah kita lebih percaya pada ijazah kita atau pada Sang Pemberi Rezeki.

Tawakal adalah gabungan ikhtiar maksimal dan pasrah, banyak yang salah mengartikan tawakal sebagai istilah menyerah. Padahal, tawakal hanya sah jika dilakukan setelah usaha maksimal. Ibarat mengikat unta, Ikatlah dengan kuat (dengan belajar, buat CV bagus, networking terbaik), baru kemudian berserah diri kepada Allah. Kondisi saat ini, jika belum dapat kerja setelah lulus, dalam Islam itu dianggap sebagai masa sabar dan evaluasi, bukan tanda kegagalan.

Manfaat bagi sesama (khairunnas) arti kelulusan dalam Islam adalah persiapan untuk menjadi "khairunnas anfa'uhum linnas" (Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain). Gelar yang kita raih adalah amanah ilmu. Pertanyaannya bukan lagi di mana saya bisa digaji besar, tapi dengan ilmu ini, masalah umat mana yang bisa saya selesaikan.

Menghadapi kecemasan (istianah) di Islam menawarkan solusi praktis untuk kecemasan pasca lulus dapat label sarjana. Pastinya dengan salat Dhuha, untuk melapangkan pintu rezeki. Salat Istikharah, saat ragu memilih tawaran pekerjaan. Zikir dan syukur, mengingat bahwa Anda bisa sampai lulus adalah nikmat besar yang harus disyukuri agar nikmat-nikmat berikutnya (pekerjaan) ditambah.[]