-->

Generasi dalam Bahaya, Anak-anak dan Konten Digital


Oleh : Ummu Aqila 

Dua anak di Lombok Timur meninggal dunia setelah meniru aksi “freestyle” yang viral di media sosial dan diduga terinspirasi dari game online populer. Korbannya bukan remaja dewasa, melainkan anak usia TK dan SD—usia ketika rasa ingin tahu sedang tinggi, tetapi kemampuan memahami risiko belum sempurna.

Peristiwa ini bukan sekadar kecelakaan biasa. Ini adalah alarm keras tentang kondisi generasi hari ini yang tumbuh di tengah arus konten digital tanpa perlindungan yang cukup.

Media sosial dan game online kini bukan lagi sekadar hiburan. Tanpa disadari, keduanya telah menjadi ruang yang sangat memengaruhi cara berpikir dan perilaku anak-anak.

Anak-anak Mudah Meniru Apa yang Mereka Lihat

Pada usia anak-anak, rasa penasaran sangat besar. Apa yang terlihat menarik sering langsung ditiru tanpa mempertimbangkan bahaya.

Ketika aksi ekstrem ditampilkan sebagai sesuatu yang keren, lucu, atau viral, anak-anak mudah menganggapnya sebagai permainan biasa. Mereka belum mampu membedakan mana hiburan dan mana ancaman bagi keselamatan.

Inilah mengapa anak-anak tidak bisa dibiarkan sendirian menghadapi dunia digital. Mereka membutuhkan pendampingan dan pengarahan dari orang dewasa.

Ketika Gawai Menggantikan Peran Pengasuhan

Hari ini banyak anak menghabiskan waktu berjam-jam bersama telepon genggam. Tidak sedikit orang tua merasa anak aman selama berada di rumah dan tidak keluar bermain.

Padahal, melalui layar kecil itu, anak bisa mengakses berbagai informasi tanpa batas—baik yang bermanfaat maupun yang berbahaya.

Tanpa disadari, gawai sering berubah menjadi “pengasuh pengganti”. Anak menjadi lebih dekat dengan media sosial dibanding dengan orang tua. Akibatnya, tren viral lebih cepat memengaruhi perilaku anak dibanding nasihat keluarga.

Padahal pengasuhan bukan hanya soal memenuhi kebutuhan materi atau memberi fasilitas, tetapi hadir, mengawasi, dan membimbing anak memahami mana yang baik dan mana yang membahayakan.

Lingkungan dan Negara Belum Maksimal Melindungi Anak

Selain keluarga, lingkungan sosial juga semakin lemah dalam mengawasi anak-anak. Dahulu masyarakat ikut menjaga dan menegur jika ada perilaku berbahaya. Kini banyak anak tumbuh lebih dekat dengan dunia digital dibanding lingkungan sekitarnya.

Di sisi lain, pembatasan terhadap konten berbahaya juga belum berjalan efektif. Konten sensasional jauh lebih mudah viral dibanding konten edukatif. Anak-anak akhirnya lebih sering melihat tayangan berisiko daripada tontonan yang membangun karakter.

Kondisi ini menunjukkan bahwa perlindungan terhadap generasi belum dilakukan secara menyeluruh.

Islam Memandang Anak sebagai Amanah yang Harus Dijaga

Dalam Islam, anak-anak yang belum balig belum dibebani hukum syariat karena akalnya belum sempurna. Karena itu mereka membutuhkan pendampingan dan perlindungan dari orang dewasa.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah At-Tahrim ayat 6:

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”

Ayat ini menegaskan bahwa menjaga keluarga bukan hanya memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga menjaga keselamatan akal, moral, dan masa depan mereka.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya, orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam mendidik dan melindungi anak-anak dari berbagai pengaruh buruk.

Tiga Pilar Penjaga Generasi dalam Islam
Islam membangun pendidikan anak melalui tiga pilar utama:

Pertama, Orang tua menjadi pendidik pertama yang menanamkan akhlak, adab, dan pengawasan sejak dini.

Kedua, Lingkungan masyarakat harus menciptakan suasana yang sehat dan peduli terhadap tumbuh kembang anak.

Ketiga, Negara wajib melindungi generasi dari informasi dan tontonan yang membahayakan serta memperbanyak konten edukatif yang membangun karakter.

Dengan sinergi ketiganya, anak-anak dapat tumbuh dalam lingkungan yang aman dan sehat.

Jangan Biarkan Generasi Diasuh Media Sosial

Tragedi freestyle yang merenggut nyawa anak-anak ini harus menjadi peringatan bersama bahwa generasi hari ini sedang menghadapi ancaman yang nyata.

Anak-anak memang hidup di era digital, tetapi mereka tetap membutuhkan perhatian, pengawasan, dan pendidikan yang benar. Mereka tidak cukup hanya diberi akses internet, tetapi juga harus dibimbing agar mampu menggunakan teknologi dengan aman dan bertanggung jawab.

Jika pengawasan keluarga lemah, lingkungan tidak peduli, dan negara lambat bertindak, maka media sosial akan mengambil alih peran pendidikan anak-anak kita. Dan saat itu terjadi, yang menjadi korban adalah generasi masa depan itu sendiri. 

Wallahu alam Bishowab