-->

Paradoks Pendidikan Sekuler, Membangun atau Menghancurkan Karakter?


Oleh : Dinda Kusuma W T

Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) diperingati dan dirayakan setiap tanggal 2 Mei. Namun polemik pendidikan di Indonesia seakan tak ada habisnya. Berbagai kebijakan, otak-atik kurikulum dan metode pembelajaran banyak dilakukan, masih tidak mampu meningkatkan kualitas pendidikan. Khususnya, tidak mampu meningkatkan kualitas mental, moral dan karakter peserta didik yang "katanya" menjadi "goal" utama dalam program pendidikan pemerintah.

Ironisnya, yang terjadi saat ini justru wajah pendidikan Indonesia yang makin suram. Banyaknya kasus di dunia pendidikan yang membuat masyarakat miris. Pada Akhir April 2026 lalu, seorang siswa SMK di Bantul tewas secara tragis dikeroyok beberapa orang laki-laki. Para pelakunya juga adalah siswa dari sebuah SMA di Bantul.

"Menurut JPW (Jogja Police Watch), perbuatan yang dilakukan oleh para pelaku ini sudah direncanakan. Mulai dari menjemput korban dari rumah, kemudian dibawa ke belakang SMA Negeri 1 Bambanglipuro, lalu dibawa lagi oleh dua orang yang berbeda menuju Lapangan Gadung Mlaten, Pandak, Bantul, DIY pada Selasa (14/4/2026) malam," kata Baharuddin.

"Di lokasi ini korban dikeroyok secara sadis, brutal, keji, tidak manusiawi, dan tanpa ampun oleh para pelaku. Korban dipukul menggunakan selang, paralon, hingga disundut dengan rokok. Bahkan korban digilas menggunakan sepeda motor berulang kali," ujarnya (kumparan.com, 21/04/2026)

Kronologi kasus ini sungguh sangat mengerikan. Bahkan hampir tidak masuk akal bahwa penganiayaan yang sedemikian kejam dilakukan oleh seseorang yang masih berstatus pelajar. Dimana harusnya, pada usia ini mereka sedang sibuk belajar mempersiapkan masa depan. Di usia SMA yang cukup matang, sangat miris ternyata pendidikan sekian tahun lamanya di sekolah dasar dan menengah tidak mampu membentuk mereka menjadi manusia yang beradab.

Lebih luas, kasus lain yang memilukan pun banyak terjadi. Pendidikan di Indonesia, tak main-main, bahkan diwarnai hilangnya nyawa. Seperti kasus diatas, yang lain misalnya kasus perundungan, dendam sesama teman, lelucon ulang tahun yang kebablasan, kegiatan sekolah seperti berenang yang minim pengawasan dan lain sebagainya. Meski tidak merenggut nyawa, kasus lain yang sangat menghancurkan hati adalah maraknya pelecehan seksual di lingkup pendidikan. Mulai dari pemerkosaan, pergaulan bebas, hingga LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender). Bayangkan, orang tua jaman ini, melepas anak mereka ke sekolah seolah melepas mereka ke hutan rimba yang penuh bahaya.

Inilah keniscayaan sebuah sistem pendidikan yang dibangun diatas konsep sekulerisme (pemisahan antara agama dan kehidupan) serta kapitalisme (mencari keuntungan materi). Sebab dua konsep ini tidak sesuai dengan fitrah dan kebutuhan umat manusia. Alih-alih melesat maju, pendidikan menjadi limbung tak terarah.

Bila dilihat dari segi kurikulum pendidikan Indonesia. Tentu masyarakat sudah tidak asing dengan tradisi "gonta-ganti" kurikulum yang entah apa tujuan dan perbedaan esensinya. Terkadang hanya berganti nama kurikulumnya saja, namun pelaksanaan pembelajaran tidak jauh berbeda. Banyak waktu dan biaya yang dihabiskan demi sosialisasi kurikulum baru namun hasil pendidikan sama saja.

Misalnya, kurikulum merdeka digadang-gadang akan menjadi kurikulum yang lebih efektif bagi peningkatan kualitas peserta didik. Sebagaimana namanya, kurikulum merdeka pada dasarnya memberikan kebebasan kepada siswa untuk memilih sendiri cara belajar yang efektif bagi dirinya. Meski diramu sedemikian rupa sehingga terdengar baik dan menarik, namun jelas kurikulum ini mengandung unsur liberalisme. Dan ujungnya, pendidikan agama diwacanakan akan dihapus sepenuhnya dari kurikulum.

Inilah paradoks yang sangat mengkhawatirkan, sebab konsep kehidupan liberal mulai dimasukkan lewat kurikulum pendidikan. Pendidikan sekuler berharap kemajuan dengan cara menghapus agama, disisi lain hanya nilai agama, khususnya agama islam yang mampu mencetak generasi bermoral. Patut dipertanyakan, apakah negara ini hendak membangun generasinya atau justru ingin menghancurkan mereka pelan-pelan. 

Kondisi ini harus segera disadari oleh seluruh pihak dan lapisan masyarakat, sebelum bangsa Indonesia benar-benar jatuh dalam jurang kehancuran. Satu-satunya jalan yang harus segera ditempuh adalah kembali pada ajaran dan hukum islam. Dengan menerapkan islam secara keseluruhan umat manusia akan hidup dalam kesejahteraan dan kemuliaan. Wallahu a'lam bishsawab.