Ketika Pondasi Keimanan Siswa Runtuh, Kewibawaan Guru Terpuruk
Oleh : Dewi Poncowati
Aktivis Muslimah Peduli Generasi
Ibu Atun Syamsiah guru PKN SMAN 1 Purwakarta mendadak viral menjadi diskusi publik, beliau sendiri tidak menyadari bila dirinya menjadi korban pelecehan etika dari 9 muridnya. Tampak dalam rekaman video ketika sedang memberikan penilaian beliau profesional menjalan tugasnya, ada salah seorang dari 9 siswa tengah melecehkan dirinya dengan mimik wajah meledek dan gestur tubuh mengacungkan jari tengah. Mengutip dari berita detik.com mengenai kronologi terjadinya pelecehan, menurut keterangan dari Kepala Dinas Pendidik Jawa Barat bapak Purwanto menjelaskan rinci kejadiannya pada hari Senin, 20 April 2026. Usai Kepala Disdik menjadi Pembina upacara bendera.
Peristiwa pelecehan etika ini terjadi karena dipicu adanya kekesalan terpendam. Pada awalnya kelompok 9 siswa ini mendapat jadwal sebagai urutan ke 2, kemudian jadwal presentasinya dirubah menjadi urutan terakhir. Presentasi tetap berlangsung dengan lancar sampai pada akhir pelajaran, kelompok dari 9 siswa ini meminta foto bersama guru Pembina yaitu bu Atun, panggilan akrab ibu Syamsiah. Kejadian tersebut dilakukan dalam keadaan sadar oleh ke 9 siswa. Setelah sesi foto bersama, ketika guru sedang berbalik badan meninggalkan kelas anak anak secara spontan melakukan tindakan pelecehan untuk meluapkan kekesalan yang masih terpendam.
Tindakan ini berakibat panjang dan menuai kecaman dari warga netizen. Pada akhirnya sejumlah Alumi SMAN 1 Purwakarta merespon bahwa sangat kecewa dan menyayangi sikap adik kelasnya bukan hanya menyakiti guru tapi mencoreng nama baik sekolah. Kemudian para Alumni meminta pada 9 siswa dan didampingi oleh para guru mengadakan klarifikasi dan meminta maaf atas kejadian pelecehan tersebut serta menyesali perbuatannya. Dalam hal sanksi pihak sekolah memberikan hukuman skorsing selama 19 hari kepada para pelaku.
Hukuman skorsing membuat gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi angkat bicara bahwa beliau menilai skorsing bukan hukuman yang efektif, tidak memberikan efek jera apalagi dalam hal upaya pembentukan dan pembinaan karakter. Gubernur Jawa Barat mengungkapkan dalam Instagram pribadinya bahwa akan mengirim 9 siswa ke barak militer dan memberikan hukuman berupa kerja sosial membersihkan fasilitas sekolah selama 1 – 3 bulan. Bagi kang Dedi panggilan akrab gubernur Jawa Barat, hukuman kerja sosial selama 3 bulan akan dipantau apakah ada perubahan sosial dan perilaku, jika tidak hukuman harus ditambah durasinya karena semata mata demi pembinaan karakter siswa menjadi lebih baik.
Jika menelaah kasus kasus pelecehan pada guru di negeri ini terus meningkat bagaikan bola salju. Sistem pendidikan sekulerisme dan kapitalisme yang diemban di negeri ini seringkali terjadi stagnasi solusi. Pada akhirnya menuai penumpukan kasus yang sama dengan beragam kejahatan. Negara kurang serius menangani kasus kenakalan remaja sedangkan fakta derasnya informasi kekerasan di media sosial berdampak paparan yang menyebabkan tontonan jadi tuntunan. Media sosial dijadikan ajang melampiaskan emosi dan kekecewaan. Sistem algoritma sekulerisme menggiring dan menghipnotis para pelajar cenderung merasa benar melakukan validasi apapun, termasuk tindakan immoral.
Sekulerisme menjauhkan pelajar dari nilai nilai agama akan standar perbuatan benar dan salah. Tanpa terasa algoritma sekulerisme menggerus adab para siswa kepada guru dan adab bersosialisasi. Pelecehan terhadap guru adalah salah satu cermin keruntuhan pondasi keimanan siswa. Menyimak hukuman yang dibebani oleh 9 siswa tersebut membuktikan bahwa sebetulnya sekolah tidak memiliki standar hukuman, tidak memiliki visi pembinaan dan pembentukan karakter. Dalam kurikulum pendidikan kapitalisme penilaian berorientasi pada pencapaian standar nilai akademis maka siswa dituntut mampu memenuhi standar tersebut.
Maka pada akhirnya rasa hormat dan patuh kepada guru yang seharusnya menjadi nilai ibadah dan memupuk adab sebelum ilmu menjadi hal yang tidak diutamakan. Sebaliknya hukum dan undang undang saat ini perlahan lahan menggerus kewibawaan guru dihadapan siswa. Bu Atun bukanlah satu satu korban kezoliman murid, tapi lebih dari puluhan guru di negara ini menjadi korban pelecehan dan bullying yang menjurus menjadi kasus pembunuhan. Sebetulnya upaya pemerintah dalam pembinaan dan pembentukan karakter sudah diterapkan di sekolah sekolah dari level PAUD, sekolah dasar, menengah, atas bahkan perguruan tinggi.
Faktanya penanaman materi Profil Pelajar Pancasila di sekolah hanyalah sebatas wacana. Hampir semua kurikulum pelajaran menyelipkan slogan tersebut. Pelajaran PPKN yang identik dengan sikap Pancasilais justru sekedar transfer ilmu namun minim pada praktek. Mirisnya sekolah sekolah hanya bertolak ukur pada program program standarnisasi sekolah sebatas administratif. Alih alih berharap kristalisasi karakter pancasila, pada akhirnya retak dan tergerus oleh derasnya paparan algoritma Pendidikan kapitalisme. Aturan dan pembinaan apapun tidak akan menyelesaikan permasalahan kenakalan siswa selama sistem Pendidikan kapitalisme masih diterapkan.
Berbeda halnya dalam sistem Islam, siswa adalah aset generasi penopang peradaban Islam. Kurikulum pendidikan yang diterapkan negara Islam adalah Pendidikan Islam. Konsep kurikulum pedidikan Islam menerapkan akidah Islam sebagai asas membentuk kepribadian Islam. Kepribadian Islam yang tertanam dalam setiap diri generasi cenderung memiliki konsep pemikiran Islam yang cemerlang dengan mengedepankan akal sebelum bertindak. Dalam menyikapi permasalahan mereka sadar bahwa dirinya adalah hamba Allah yang senantiasa terikat atas hukum syariah Islam. Sikap generasi muslim sesungguhnya selalu berorientasi pada keimanan kepada Allah, yang melahirkan ketakwaan dalam segala hal. Memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan bangga atas jati diri muslim. sehingga kesempurnaan beramal berlandaskan Ihsan (merasa dalam pengawasan Allah SWT).
Dalam Institusi negara Islam, negara menempatkan pemimpin sebagai Raa’in/pelindung atas rakyatnya. Periayahan atas rakyatnya akan dipertanggungjawabkan di yaumil akhir nanti. Dalam tata Kelola dunia digital negara berada pada garda terdepan dalam mengkounter perusahaan platform. Negara akan memastikan keselamatan masa depan generasi dari konten konten yang merusak moral. Negara memfasilitasi secara gratis Platform dengan konten khusus diperuntukan pada hal hal sarana pendidikan, kesehatan, perkembangan teknologi dan industri perdagangan yang menunjang pertumbuhan ekonomi negara berbasis perekenomian sistem Islam.
Dengan diterapkannya aturan Islam maka kecil kemungkinan terjadinya pelecehan etika kepada guru. Aturan Islam yang diterapkan akan selaras dengan sanksi Islam. Para penegak hukum akan menjalankan tugas dengan amanah sebagai bentuk ketakwaan kepada Allah SWT. Ketegasan hukum dan penegak hukum membuat sanksi yang dibebani kepada pelaku tindak kejahatan akan memberikan efek jera dan sekaligus penebus dosa (Jawabir) di dunia. Dikutip dari penggalan hadist Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Bukhari dari ‘Ubadah bin Shamit,:… siapa saja yang melanggarnya kemudian dihukum di dunia maka hukuman itu akan menjadi penebus (siksa akhirat) baginya”.
Ketegasan hukum Syara’ bukan hanya memberikan efek jera bagi pelaku kejahatan akan tetapi lebih pada pencegahan terjadinya kejahatan terulang. Para guru dan ulama adalah penanam benih benih kebaikan dan kemuliaan. Pengemban tugas mendidik, mengajarkan serta membimbing wahyu dan akhlak warisan rasulullah Saw. Negara dalam sistem Islam memberikan penghargaan tertinggi dengan faslilitas yang sangat layak. Dikutip dari Lubab Al Hadist karya Imam Jalaludin Al Suyuthi: “Barang siapa memuliakan orang alim (guru), maka sungguh ia telah memuliakan aku. Barangsiapa memuliakan aku, maka sungguh ia telah memuliakan Allah”. Ketegasan penerapan hukum akan menggiring para peserta didik dan masyarakat menjaga kewibawaan guru.
Tercatat dalam sejarah Islam sebagai Negara adidaya memberikan fasilitas yang sangat layak dengan gaji ribuan dinar. Pada masa daulah Abbasiyah khalifah Harun Al Rasyid mencapai 2000 dinar, periwayat hadist dan ahli fiqih 4000 dinar. Jika dikonversikan dalam rupiah dapat mencapai 9 – 18 miliar pertahun. Para ulama dan para peserta didik saling bersinergi dalam perkembangan dakwah Islam ke seluruh dunia. Pendidikan yang baik adalah salah satu faktor terwujudnya perubahan peradaban yang hakiki yaitu mengembalikan peradaban Islam menjadi negara adidaya. Negara yang memiliki kedaulatan bidang politik dan ekonomi serta militer mampu melindungi umat dalam persatuan Islam global.

Posting Komentar