-->

Ketika Nyawa Terenggut Konten Viral Sosial Media

Oleh : Rinica M

Gaya bebas atau freestyle yang tengah viral dianggap berbahaya. Kejadian fatal dilaporkan terjadi pada siswa SD dari Desa Lenek Baru, Kecamatan Lenek, Lombok Timur. Ia meninggal dunia diduga setelah meniru aksi freestyle. [1] Fenomena ini kembali memberikan pelajaran bahwa konten viral tidak selamanya positif, bahkan tidak sedikit yang kerap membahayakan keselamatan. 

Sebelum aksi freestyle, pernah viral di media sosial "Challenge Malaikat Maut"/Menghadang Truk: Tren berbahaya di kalangan remaja yang melibatkan aksi mengadang truk yang sedang melaju kencang, berharap sopir mengerem, namun sering berakhir dengan tabrakan fatal. Pernah ada juga tantangan online yang mengancam nyawa, seperti Benadryl Challenge (meminum obat alergi dosis berlebih) atau tantangan fisik lain yang menyiksa tubuh. 

Walaupun berbahaya, namun frasa "tantangan" tetap saja berhasil menarik minat sebagian orang untuk tetap meniru. Psikolog anak dari Kancil, Evryanti Putri, mengikuti tren di media sosial membuat anak merasa mendapat pengakuan dari teman-temannya. Di sisi lain, skema likes dan views di media sosial juga dianggap penghargaan oleh anak. 

Terkait konten Freestyle atau Handstand, Putri menerangkan, tren tersebut bisa memberikan dampak positif ketika diarahkan melalui pendampingan profesional. Dengan demikian, aktivitas anak dapat terwadahi. Meski begitu, ia juga mengingatkan dampak negatif dari tren tersebut. Tanpa ada pelatih dan pengamanan, risiko kecelakaan fisik bahkan kematian bisa terjadi pada anak. [2]

Dijelaskan dr. Arina Heidyana, tren sujud dengan gerakan handstand ini sangat berbahaya bila tidak dilakukan oleh profesional atau orang terlatih. Terlebih lagi untuk anak yang tulangnya belum terlalu kuat dan lebih kecil dibandingkan orang dewasa. Postur tulang yang relatif lebih kecil dan tipis pada anak-anak lebih berisiko mengalami patah tulang. Apalagi gerakan sujud freestyle ini dilakukan tanpa peregangan otot serta latihan memadai.

Pada gerakan sujud freestyle, leher juga punya risiko cedera. Leher yang menopang berat badan juga bisa keseleo hingga patah tulang. Saat tangan dan leher tidak kuat atau sempurna menahan beban tubuh, risiko jatuh dengan kepala terbentur ke lantai juga besar. Dalam kondisi tersebut, kepala bisa memar, bengkak, berdarah, hingga dapat berujung gegar otak. [3]

Dari paparan di atas, dapat dipelajari bahwa mudahnya akses informasi media sosial ibarat dua mata pisau yang bisa membahayakan jika tidak dimanfaatkan secara benar. Apalagi jika yang mengaksesnya adalah anak-anak. Mereka belum matang secara nalar, apa yang menarik bisa langsung saja diikuti tanpa menimbang lebih jauh baik buruknya. Oleh karenanya, kehadiran orang tua memang sangat dibutuhkan. Hadir secara fisik, sekaligus secara hati untuk benar-benar mengawal dan menjelaskan mana yang aman dan mana yang berbahaya. 

Namun, sayangnya tidak semua orang tua memiliki waktu dan kemampuan melakukan pendampingan. Tak sedikit orang tua yang harus berperang dengan peluang ekonomi demi bertahan hidup. Anak dibiarkan bermain dengan temannya, melihat apa yang dilihat temannya, dengan asumsi "yang penting aman, tidak jauh-jauh". Dari sini, maka sebenarnya diharapkan ada peran  lingkungan untuk membantu mengawal peran orang tua. Yakni lingkungan yang peduli dan memberikan kontrol kegiatan anak-anak di sekitarnya. Namun sayangnya kondisi lingkungan juga tidak jauh beda dengan orang tua, masing-masing sama-sama berjuang untuk ekonominya. 

Tidak salah jika pada akhirnya harapan ini ditujukan pada negara. Sebab negara adalah sosok berpower yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan dunia maya. Termasuk di dalamnya memblokir konten viral yang dianggap berbahaya. Negara pula yang memiliki peraturan untuk menentukan jenis konten apa saja yang bisa naik ke sosial media. Sehingga jika sudah diakses publik, termasuk anak-anak, dampak negatifnya bisa dihindarkan. 

Jika melihat realita saat ini, apakah harapan pada kedua elemen tersebut bisa maksimal terwujud? Jika paradigma menjaga generasi masih sebatas wacana, maka aksi nyata melindungi mereka juga tidak jauh beda. Realita ini seakan berbalik dengan sejarah perlakuan Islam di masa kejayaannya dulu. Sebutlah di masa kepemimpinan Kekhalifahan Abbasiyah. Sepanjang masa itu, mercusuar peradaban masih di bawah bayangan Islam. Dari tanah-tanah Islam, generasi yang dilahirkan adalah generasi emas yang karya dan namanya masih ada hingga saat ini. Ibnu Sina yang masyur di kedokteran, Ibnu Haitham yang terkenal dengan dunia optiknya, Al Khawarizmi di matematika nya, dan banyak sekali lainnya yang viral ataupun tidak. 

Generasi emas seperti itu lahir bukan karena kebetulan. Pelajaran yang bisa diambil untuk ditiru dimasa tersebut adalah bahwa penyiapan generasi terbaik membutuhkan sinergi aktif dari elemen negara, masyarakat, dan orang tua. Negera yang waktu itu menerapkan Islam, mengambil dan memainkan peran dominan. Suasana yang dihidupkan di lingkungan masyarakat adalah suasana belajar untuk berkarya yang memberikan manfaat bagi umat sekaligus menjadi jariyah bagi penemunya.

Untuk peran tersebut negara dengan ekonomi Islamnya mengeluarkan dana yang tidak receh. Sarana pendidikan diberikan, biaya belajar digratiskan, infrastruktur menuju tempat belajar diperhatikan, bahkan keamanan dan pelayanan kesehatan dioptimalkan. Baitul hikmah, Bimaristan, dan tata kota di sekitarnya adalah saksi sejarah yang menunjukkan bagaimana kualitas hidup begitu diperhatikan. 

Pada saat segala kebutuhan dan keamaan belajar hingga rumah sakit telah ada, beban orang tua sedikit teringankan. Orang tua memiliki waktu dan pikiran lebih untuk menjalankan perannya dalam mengawal tumbuh kembang anak sehari-hari. Pun demikian masyarakat, akan memiliki waktu dan kesempatan untuk peduli pada keadaan anak-anak di lingkungan terdekatnya. Terlebih lagi dorongan amar makruf nahi mungkar juga dikondisikan untuk aktif oleh negara. Maka betapa hebatnya ekosistem hidup generasi di masa seperti itu. 

Jikalau ekosistem IsIam dengan peran aktif ketiga elemennya ada saat ini, maka dampak buruk konten viral sosial media bukan hal mustahil untuk ditiadakan. Bukan hanya bahaya karekter yang dapat dicegah, tapi korban nyawapun bisa dihindarkan. Alasan-alasan inilah yang menunjukkan mengapa Islam itu penting untuk diperjuangkan supaya hadir kembali dalam kehidupan.[]

Referensi:
1. https://www.tribunnews.com/kesehatan/7827704/kisah-pilu-siswa-sd-di-lombok-meninggal-kepala-benjol-usai-aksi-freestyle-ini-bahaya-medisnya
2. https://www.metrotvnews.com/read/NleC93qD-konten-viral-kerap-membahayakan-anak-psikolog-ungkap-penyebabnya
3. https://www.klikdokter.com/info-sehat/berita-kesehatan/selain-tak-terpuji-sujud-freestyle-juga-berbahaya-bagi-tubuh