Dari Daycare, Jadi #SaveDaycare
Oleh : Evi Derni, S.Pd
Kasus kekerasan terhadap anak yang dilakukan pengasuh penitipan anak atau daycare little arisia Jogja masih menjadi sorotan. Dengan fakta yang ada patut diduga kekerasan dilakukan secara terstruktur dan sistematis. Kombes Eva mengatakan anak-anak itu mendapat perlakuan tidak manusiawi dari para pengasuh. Meski tidak rinci ia mengungkapkan beberapa perlakuan para pengasuh perlakuan tidak manusiawi ini. Salah satunya penempatan dalam satu ruangan yang overload di mana sirkulasi udaranya sangat minim. Mengikat menggunakan kain tapi dibuat seperti tali mengikatnya ke pintu. Beberapa anak juga disebut mengalami luka lebam di pergelangan tangan atau kaki artinya itu mungkin luka dari ikatan tali. Anak-anak itu diikat sejak mereka tiba di daycare sampai sebelum mereka dijemput orang tuanya. Ikatan hanya dibuka pada saat tertentu yakni saat makan dan mandi. (detik Jogja. Selasa, 28 April 2026).
Mengapa ada daycare ini? Daycare ada untuk menjadi solusi bagi perempuan yang bekerja. Pada saat revolusi Perancis di abad pertengahan 19 (tahun 1840) sudah ada daycare pertama dipicu oleh meningkatnya pekerja perempuan pabrik. Saat itu banyak anak dan balita yang meninggal dunia terlalu dini dan tumbuh terlantar lantaran kurang perawatan dari orang tuanya. Mengapa perempuan akhirnya bekerja karena memang situasi pertengahan abad 19 juga para orang tua terancam. Upah ayah tidak cukup, terpaksa ibu bekerja. Kemudian para perawat yang prihatin dengan kondisi banyaknya kematian anak-anak di usia dini berinisiatif untuk membuka penitipan anak. Itulah akhirnya yang menjadi solusi bagaimana ibu yang masih punya bayi dan balita saat bekerja anak-anaknya kemudian dititipkan di daycare. Hari ini kita berada di abad ke-21 tapi kondisinya ternyata masih tidak jauh berbeda dengan pertengahan abad ke-19. Di Indonesia sendiri menurut data ada 197.000 daycare di seluruh Indonesia.
Kalau sekarang mungkin para ibu dan ayah yang bekerja dua-duanya tidak sampai miskin ekstrem buktinya mereka mampu membayar daycare, tetapi kalau dihitung-hitung memang upah ayah saja kalau hanya UMR hanya cukup untuk bertahan hidup, apalagi hitungan UMR di Indonesia hanya untuk kebutuhan seorang single, kalaupun ada tunjangan untuk istri dan anak sangat sedikit jadi hitungan di atas kertas. Kalau ayah saja yang bekerja tidak cukup maka ibu juga bekerja walaupun harus membayar (menitip anak ke daycare). Jadi daycare ini dianggap solusi.
Itulah realita sehingga mereka juga menghadapi dilema, kalau tidak bekerja ekonomi kurang layak tapi kalau ibu-ibu bekerja keluarga anak tentunya kurang ter-urus, karena apa? Karena peran ibu digantikan oleh daycare pengasuh bahkan juga digantikan oleh teknologi. Ada ibu-ibu yang memberikan anak-anaknya gadget sepanjang hari sambil dia bekerja, Apalagi dengan sistem kerja di peradaban kapitalis yang tidak ramah terhadap ibu, Ibu bekerja dari jam 08.00 pagi sampai jam 04.00 sore misalnya, tidak ada jeda untuk mengasuh anak, tidak ada cuti dengan longgar, pokoknya mereka tidak maksimal untuk menjalankan peran pengasuhan dan pendidikan anak pastinya.
Tentunya kondisi ini tidak ideal di peradaban sekuler seperti itu akhirnya mengubah peran Ibu. Maka harus dikembalikan peran ibu, dan diperlukan perubahan secara sistemik dari transformasi paradigmanya. Mengembalikan keyakinan bahwa peran ibu rumah tangga itu adalah peran yang mulia, mendidik generasi itu adalah investasi peradaban yang jauh lebih berharga daripada angka ekonomi yang disumbangkan oleh para ibu yang bekerja, sehingga harus ada negara yang hadir memberikan jaminan ekonomi di mana negara harus menciptakan atau menerapkan sistem ekonomi yang menjamin para ayah (kepala keluarga) untuk mendapatkan pekerjaan dan upah yang layak. Para ayah ini harus diberi kesempatan kerja yang seluas-luasnya. Kemudian penyediaan layanan publik seperti kesehatan dan pendidikan yang seharusnya terjangkau bagi masyarakat sehingga Ibu tidak terbebani mencari uang karena hari ini keluarga-keluarga di masyarakat urban akhirnya berbagi kontribusi. Suami mencari uang untuk biaya makan mungkin SPP anak, pendidikan anak, dan sewa rumah Istri yang cari uang untuk membeli kebutuhan-kebutuhan pelengkap lainnya biasanya ditanggung oleh ibu-ibu yang akhirnya turut bekerja. Maka dari itu, kondisi keluarga ideal ini hanya akan terwujud di dalam penerapan sistem Islam secara kaffah melalui institusi bernama khilafah.
Allahu a'lam bishawab.

Posting Komentar