-->

Buramnya Wajah Pendidikan Saat Ini : Prestasi Meningkat, Moral Menurun


Oleh : Rae Lin

Setiap tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan dunia pendidikan dan jasa Ki Hadjar Dewantara. Berbagai kegiatan seremonial digelar di sekolah maupun perguruan tinggi, mulai dari upacara hingga penyampaian pidato tentang pentingnya pendidikan bagi masa depan bangsa. Namun di balik peringatan tersebut, kondisi pendidikan Indonesia justru menghadirkan kenyataan yang memprihatinkan. Kemajuan dalam bidang akademik dan teknologi ternyata belum berjalan seiring dengan kualitas moral generasi muda yang justru menunjukkan banyak kemunduran.

Beberapa waktu terakhir, masyarakat dihadapkan pada berbagai kasus kekerasan yang melibatkan pelajar dan mahasiswa. Salah satunya adalah kasus meninggalnya seorang pelajar di Bantul akibat pengeroyokan brutal yang dilakukan sekelompok remaja. Di daerah lain, dua siswa SMA di Bogor menjadi korban penyiraman air keras hingga mengalami luka serius pada bagian wajah. Selain itu, kasus perundungan, pelecehan seksual, serta tindakan kekerasan lain di lingkungan sekolah dan kampus juga semakin sering terjadi. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran karena lembaga pendidikan yang seharusnya menjadi tempat aman dan nyaman justru tidak mampu sepenuhnya melindungi peserta didik.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa dunia pendidikan sedang mengalami persoalan serius dalam pembentukan karakter. Sekolah dan perguruan tinggi mungkin berhasil mencetak siswa yang unggul dalam nilai dan kemampuan akademik, tetapi belum sepenuhnya berhasil membangun pribadi yang memiliki empati, akhlak, dan pengendalian diri yang baik. Tidak sedikit pelajar yang cerdas secara intelektual, tetapi mudah terlibat dalam tindakan kekerasan dan perilaku menyimpang. Bahkan, sebagian remaja mulai menganggap tindakan agresif sebagai sesuatu yang biasa dalam pergaulan mereka.

Selain krisis moral dalam perilaku sosial, masalah integritas akademik juga semakin terlihat jelas. Praktik kecurangan dalam pelaksanaan UTBK kembali terungkap pada tahun 2026. Aparat menemukan adanya jaringan joki ujian yang menggunakan berbagai cara, mulai dari pemalsuan identitas, manipulasi dokumen, hingga pemanfaatan alat komunikasi tersembunyi selama ujian berlangsung. Fenomena ini memperlihatkan bahwa budaya mencari jalan pintas demi meraih keberhasilan masih terus berkembang di dunia pendidikan.

Tidak hanya dalam ujian masuk perguruan tinggi, budaya mencontek dan plagiat juga semakin sering ditemukan di berbagai jenjang pendidikan. Sebagian pelajar tampak lebih fokus mengejar hasil akhir daripada menghargai proses belajar yang jujur. Kesuksesan diukur dari nilai tinggi, gelar pendidikan, dan peluang materi, sementara nilai kejujuran perlahan mulai diabaikan. Kondisi ini menggambarkan bahwa pendidikan saat ini lebih banyak menghasilkan persaingan akademik daripada pembentukan karakter yang sehat.

Permasalahan lain yang tidak kalah mengkhawatirkan adalah meningkatnya penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar dan mahasiswa. Banyak generasi muda terjerumus dalam lingkungan pergaulan bebas hingga terlibat sebagai pengguna maupun pengedar narkotika. Di sisi lain, penghormatan terhadap guru pun mulai mengalami penurunan. Saat ini semakin banyak ditemukan kasus siswa yang berani melawan, menghina, bahkan melaporkan guru ke jalur hukum karena merasa tidak terima terhadap bentuk pendisiplinan tertentu. Hubungan antara peserta didik dan pendidik yang dahulu dipenuhi rasa hormat kini mulai mengalami perubahan yang cukup drastis.

Keadaan tersebut menunjukkan adanya kegagalan dalam arah pendidikan yang diterapkan saat ini. Sistem pendidikan modern cenderung lebih menekankan aspek akademik dan pencapaian materi dibanding pembinaan moral. Pendidikan diarahkan untuk menghasilkan individu yang mampu bersaing dalam dunia kerja, tetapi kurang memberi perhatian serius terhadap pembentukan kepribadian dan nilai kemanusiaan. Akibatnya, lahirlah generasi yang berpikir pragmatis dan cenderung menghalalkan berbagai cara demi mencapai kesuksesan.
Kurangnya penanaman nilai agama juga menjadi faktor yang memperparah kondisi tersebut. Banyak pelajar mempelajari agama hanya sebagai materi pelajaran, bukan sebagai pedoman hidup yang membentuk sikap dan perilaku sehari-hari. Ditambah lagi dengan pengaruh media sosial, budaya bebas, dan lingkungan yang kurang sehat, generasi muda menjadi semakin rentan terhadap penyimpangan moral. Ketika pendidikan kehilangan dasar spiritual dan etika, kecerdasan yang dimiliki justru dapat digunakan untuk melakukan tindakan negatif dengan cara yang lebih terorganisasi.

Oleh karena itu, peringatan Hari Pendidikan Nasional seharusnya tidak hanya dijadikan acara tahunan yang bersifat simbolis. Momentum ini perlu dijadikan bahan evaluasi bersama terhadap kondisi dunia pendidikan Indonesia. Pendidikan seharusnya tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga harus menempatkan pembentukan akhlak dan karakter sebagai tujuan utama. Sekolah dan kampus perlu kembali menjadi tempat yang tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai kejujuran, tanggung jawab, dan rasa hormat.

Dalam pandangan Islam, pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk manusia yang utuh, yaitu individu yang cerdas sekaligus bertakwa. Pendidikan Islam menekankan keseimbangan antara ilmu dan akhlak melalui pembentukan syakhsiyah Islamiyah atau kepribadian Islam. Ilmu dipandang bukan sekadar sarana meraih kesuksesan duniawi, tetapi juga jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memberikan manfaat bagi sesama manusia. Karena itu, Islam sangat menekankan pentingnya adab, kejujuran, disiplin, dan penghormatan terhadap guru.

Islam juga menempatkan negara sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam membangun sistem pendidikan yang benar. Lingkungan pendidikan harus mampu menciptakan suasana yang mendukung ketakwaan dan perilaku baik di tengah masyarakat. Selain itu, penerapan sanksi yang tegas terhadap pelanggaran dan tindak kriminal diperlukan agar penyimpangan tidak dianggap sebagai hal yang biasa atau sekadar kenakalan remaja semata.

Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh tingginya nilai akademik atau kemajuan teknologi yang dimiliki. Pendidikan yang sesungguhnya adalah pendidikan yang mampu melahirkan generasi berilmu sekaligus berakhlak mulia. Jika krisis moral terus dibiarkan, maka kemajuan akademik tidak akan cukup untuk membawa bangsa menuju masa depan yang lebih baik. Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi momentum untuk menyadari bahwa bangsa ini tidak hanya membutuhkan generasi yang pintar, tetapi juga generasi yang memiliki integritas, adab, dan tanggung jawab moral yang kuat.