Sistem Islam, Tangguh Secara Internasional
Oleh Kaysa Shidqin
Penamabda.com-Perang Iran-Israel masih menjadi perbincangan hangat. Obrolan warung kopi hingga berbagai dialog di televisi terjadi setiap hari. Perang ini menjadi sorotan dunia, yang kian menunjukkan betapa rapuhnya hubungan internasional saat ini. Iran yang pernah menjadi sahabat karib AS kini justru menjadi lawan beradu senjata api. Kepentingan politik, militer dan arogansi sebuah negara adidaya nyata terlihat di mata dunia.
Konflik ini tak hanya berdampak pada kedua belah pihak, namun akhirnya memicu problem sektor energi global. Bagaimana tidak? Konflik ini sempat mengganggu jalur distribusi minyak dunia terutama di kawasan strategis seperti Selat Hormuz. Dikutip dari riset Ashmore Asset Management Indonesia, Minggu (5/4/2026). "Konflik yang berkepanjangan jelas bukan hanya peristiwa geopolitik tetapi juga mempengaruhi perekonomian global terutama guncangan inflasi harga energi, yang mempengaruhi suku bunga global, aset safe haven, serta selera risiko.”
Seperti yang kita alami saat ini, di dalam negeri yang sering disindir sebagai negeri “Konoha” terasa sekali efek dari perang tersebut. Nampak adanya dampak cukup signifikan terhadap sektor energi. Sebagai negara yang masih bergantung pada impor minyak, kenaikan harga minyak dunia akibat ketegangan di Timur Tengah dapat menyebabkan harga bahan bakar dalam negeri ikut meningkat. Meski hingga kini penguasa negeri ini belum menaikkan harga di tataran konsumen.
Namun, satu sisi rakyat sudah dibuat heboh dan repot dengan naiknya harga plastik hingga mencapai 50%. Bahkan di konsumen paling bawah ada yang mencapai hingga 100%. Pedagang dan pengusaha kecil yang paling terdampak. Mereka terpaksa rela menurunkan margin keuntungan atau membebankan harga plastik kepada konsumen. Lagi-lagi rakyat secara keseluruhan dirugikan. Terlebih ketergantungan pada kantong plastik di negeri ini cukup besar.
Kondisi ini juga berdampak pada biaya produksi listrik. Jelas, ini akan menambah beban anggaran negara melalui subsidi energi. Selain itu, ketidakstabilan global dapat melemahkan nilai tukar rupiah, sehingga impor energi menjadi lebih mahal dan berpotensi memicu inflasi. Bahkan sampai disebutkan oleh Pemberdayaan Masyarakat (PM) Abdul Muhaimin Iskandar atau Cak Imin menyampaikan bahwa penduduk rentan miskin semakin meningkat. Salah satu faktornya karena krisis ekonomi global yang terjadi.
Belum cukup menderita kini rakyat pula ditekankan untuk menghemat energi. Contoh katakanlah, kalau masak pakai LPG, kalau masakannya sudah masak, ya harus dimatikan. Padahal rakyat sudah sedemikian hebat mengencangkan ikat pinggang. Masalah penghematan rakyatlah pakar dan juaranya. Tidak perlu ada tuntutan penghematan, hanya akan menuai cacian dari rakyat atas kebodohan penguasa.
Seharusnya bukan rakyat yang terus dituntut harus bertindak tetapi justru langkah strategis dari pemerintah solusinya. Sebuah negara harus mandiri, tidak melulu hidup dalam ketergantungan terhadap energi impor. Terlebih negeri ini yang begitu kaya akan sumber energi. Sebagai contoh pemanfaatan dan pengembangan energi terbarukan seperti energi surya. Ini adalah energi yang dihasilkan oleh sinar matahari akan diubah menjadi listrik menggunakan panel surya. Dan masih banyak lagi sumber energi yang bisa dimanfaatkan. Namun dalam sistem hidup yang diterapkan hari ini, semuanya seolah sulit terealisasi.
Inilah wajah asli kapitalisme yang diadopsi hampir di seluruh negeri di dunia. Kapitalisme hanya akan membawa kesengsaraan. Negara-negara besar imperialis memposisikan diri sebagai polisi dunia yang bisa berbuat semena-mena. Negeri-negeri kecil hanya akan menerima apapun sebagai dampak sepak terjang negara penjajah. Termasuk negeri yang saat ini kita diami, tak mampu berbuat apa-apa, selain menerima nasib buruk tanpa daya.
Untuk itu, saat nyata-nyata kapitalisme sebagai sistem hidup tak mampu menyejahterakan umat, rakyat dan bangsa sudah sepantasnya dicampakkan. Kapitalisme telah usang, harus digantikan dengan sistem baru yang manusiawi. Dan satu-satunya sistem yang manusiawi berasal dari Sang Khaliq (Pencipta) sekaligus Mudabbir (Pengatur), yaitu Allah Swt.
Sistem Islam yang berasal dari Allah akan mampu menjaga stabilitas kehidupan rakyatnya. Stabilitas politik, militer maupun ekonomi dalam negeri terus terjaga. Sistem Islam yang diterapkan dalam Khilafah Islamiyyah membuat negara mandiri, tidak membebek kepada asing. Khilafah tidak akan pernah membiarkan dirinya terjajah oleh asing.
Khilafah akan mengeluarkan kebijakan yang tepat agar masyarakat tidak terbebani oleh kenaikan harga energi. Dengan Khilafah, negeri ini dapat lebih siap, tangguh dan kokoh menghadapi gejolak global hingga meminimalkan konsekuensi dari konflik internasional yang tidak dapat diprediksi. Bahkan, dengan sistem Khilafah negeri ini akan mampu memimpin dunia dengan seadil-adilnya. Wallahu a'lam bishawab. []


Posting Komentar