Politik Demokrasi Gagal Menjamin Kesejahteraan Rakyat
Oleh Shofiy Aridhotul
Penamabda.com-Indonesia merupakan negara yang dikenal kaya akan sumber daya alam serta memiliki jumlah penduduk yang besar. Potensi tersebut seharusnya mampu menjadi modal utama dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat secara merata. Namun, realitas yang terjadi saat ini justru menunjukkan kondisi yang cukup memprihatinkan.
Berbagai persoalan muncul di tengah masyarakat, mulai dari tekanan ekonomi akibat kenaikan harga kebutuhan pokok, tingginya angka masalah gizi, hingga ketimpangan dalam dunia pendidikan. Hal ini menunjukkan adanya persoalan mendasar dalam pengelolaan negara yang tidak dapat diabaikan.
Berbagai persoalan yang terjadi di Indonesia saat ini menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, prevalensi stunting pada tahun 2024 masih berada di angka 19,8%, atau sekitar 4,4 juta anak terdampak, dan penurunannya dinilai masih perlu dipercepat untuk mencapai target nasional di tahun-tahun mendatang.
Di sisi lain, kebijakan ekonomi seperti penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) turut memberikan dampak luas terhadap kehidupan masyarakat. Kenaikan harga energi berkontribusi pada meningkatnya harga kebutuhan pokok serta menurunnya daya beli masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah. Kondisi sosial ini juga tercermin dari meningkatnya gelombang aksi demonstrasi di berbagai daerah sepanjang tahun 2025, yang dipicu oleh ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah serta tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat.
Selain itu, pemerintah juga meluncurkan berbagai program seperti program makan bergizi gratis untuk mengatasi masalah gizi. Namun dalam perkembangannya pada tahun 2026, program tersebut mengalami penyesuaian skala akibat keterbatasan anggaran, yang menunjukkan adanya tantangan dalam implementasi kebijakan kesejahteraan secara menyeluruh. Bahkan, pemerintah mengalihkan sebagian dana kesehatan dari BPJS dan juga dana pendidikan.
Padahal, jika program ini berjalan dipaksa dalam tekanan ekonomi yang saat ini, hal ini akan berdampak negatif yang berlebih. Sedangkan yang kita butuhkan adalah kesehatan dan pendidikan warga yang seharusnya dijamin oleh negara. Ketika ada permasalahan maka semua orang heboh memikirkan solusi terbaik untuk sistemnya yang sudah jelas gagal bertahun tahun lamanya.
Di sisi lain, Indonesia adalah negara dengan agama mayoritas Muslim. Banyak gerakan muncul untuk kebangkitan Islam akan tetapi tidak ada dampak perubahannya. Hal ini terjadi karena metode nya yang masih simpang siur. Pada sistem politik yang diemban negara demokrasi ini bukan nya malah mencetuskan solusi tapi kesalahan yang terus diulang meskipun telah dipoles sedemikian rupa.
Pada hakikatnya, kebutuhan mendasar yang harus dipenuhi oleh negara adalah kesehatan dan pendidikan masyarakat. Kedua aspek ini merupakan hak dasar setiap warga yang seharusnya dijamin secara optimal. Namun, realitas menunjukkan bahwa ketika berbagai permasalahan muncul, perhatian publik justru tersita pada upaya mencari solusi dalam sistem yang selama ini belum mampu memberikan hasil yang signifikan.
Indonesia sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim sebenarnya memiliki potensi besar untuk bangkit dengan nilai-nilai Islam. Berbagai gerakan kebangkitan Islam pun telah banyak bermunculan. Akan tetapi, perubahan yang diharapkan belum terlihat secara nyata. Hal ini tidak terlepas dari metode yang digunakan masih simpang siur.
Dengan banyaknya persoalan yang belum tuntas menunjukkan bahwa sistem politik yang diterapkan saat ini belum mampu menghadirkan solusi yang menyeluruh. Alih-alih menyelesaikan permasalahan, kebijakan yang dihasilkan seringkali hanya mengulang pola yang sama, meskipun telah dikemas dengan berbagai pembaruan. Akibatnya, permasalahan yang ada tidak kunjung terselesaikan secara tuntas.
Selain itu, sistem yang memisahkan nilai-nilai agama dari kehidupan bernegara turut berkontribusi pada lemahnya landasan moral dalam pengambilan kebijakan. Hal ini berdampak pada kurangnya rasa tanggung jawab dalam mengelola amanah kekuasaan.
Dalam perspektif Islam, kepemimpinan merupakan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan keadilan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 58 yang artinya,
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya…”
Ayat ini menegaskan bahwa kekuasaan bukanlah sarana untuk kepentingan pribadi atau golongan, melainkan untuk melayani dan mensejahterakan rakyat. Rasulullah SAW juga bersabda,
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadits ini memperkuat bahwa tanggung jawab seorang pemimpin mencakup seluruh aspek kehidupan masyarakat.
Islam menawarkan solusi yang menyeluruh dalam mengatasi berbagai persoalan tersebut. Dalam sistem Islam, negara memiliki kewajiban untuk menjamin kebutuhan dasar setiap individu, seperti pangan, pendidikan, dan kesehatan. Sumber daya alam dikelola oleh negara untuk kepentingan rakyat, bukan diserahkan kepada pihak tertentu yang hanya mengejar keuntungan. Selain itu, sistem ekonomi Islam mengatur distribusi kekayaan secara adil, sehingga tidak terjadi kesenjangan yang tajam di masyarakat. Pendidikan juga menjadi tanggung jawab negara untuk diberikan secara merata dan berkualitas kepada seluruh rakyat tanpa diskriminasi. Dengan demikian, penerapan syariat Islam secara menyeluruh dapat menjadi solusi dalam mewujudkan kesejahteraan yang hakiki.
Oleh karena itu, kondisi yang terjadi saat ini seharusnya menjadi bahan refleksi bersama. Diperlukan upaya yang serius untuk memperbaiki arah kebijakan agar lebih berpihak kepada rakyat dan berlandaskan nilai-nilai yang benar. Sudah saatnya konsep amanah dalam kepemimpinan benar-benar diwujudkan dalam praktik, bukan sekadar menjadi wacana. Dengan menjadikan syariat Islam sebagai pedoman dalam mengelola kehidupan bernegara, diharapkan Indonesia dapat keluar dari berbagai krisis yang ada dan bertransformasi menjadi negara yang adil, sejahtera, dan diridai oleh Allah Swt.
Wallahu a'lam bisshowab. []


Posting Komentar