-->

Derita Palestina adalah Derita Kita (Refleksi 78 Tahun Peringatan Nakba)


Oleh : Lihna Novia

Tahun ini menandai peringatan 78 tahun peristiwa Nakba. Peringatan ini menyoroti isu krisis pengungsian terlama di dunia dan menjadi pengingat bahwa jutaan rakyat Palestina terus hidup di tengah-tengah konflik, kekerasan, dan penguasaan penjajah Zionis Yahudi.

Nakba sendiri dalam bahasa Arab artinya bencana atau malapetaka. Tepatnya tanggal 15 Mei 1948, entitas Yahudi dengan dukungan Inggris melakukan penjajahan dan merebut paksa tanah Palestina, mengusir penduduk Palestina dari tanah kelahiran mereka. Ini menjadi cikal bakal malapetaka bagi rakyat Palestina. Ratusan ribu rakyat Palestina dipaksa keluar dari tanah Palestina dan mengungsi ke wilayah lain.

Saat ini umat Muslim di sana masih terus berjuang mengusir penjajahan di tengah diamnya para pemimpin Muslim dunia. Kebiadaban dan kejahatan entitas Yahudi dipertontonkan secara telanjang. Entitas Yahudi terus membantai dan mengusir paksa penduduk Palestina tanpa memedulikan kecaman dunia internasional. Dukungan Amerika dan diamnya para penguasa Muslim terhadap kebiadaban entitas Yahudi menjadi legitimasi perbuatan keji mereka.

Mengapa Terus Terjadi?

Perlu dipahami, tragedi Nakba bukan sekadar sejarah masa lalu, melainkan siklus kekerasan dan perampasan hak yang masih terus membayangi Palestina hingga hari ini. Dalam 78 tahun sejak Nakba, entitas Yahudi terus melakukan pelanggaran terhadap wilayah Palestina, menggusur keluarga, dan melanggar hukum internasional dalam prosesnya. Salah satu contoh utama dari hal ini adalah Perang Enam Hari tahun 1967, di mana pasukan Israel menduduki seluruh wilayah Palestina bersejarah, termasuk Gaza dan Tepi Barat, dan mengusir 300.000 orang dari rumah mereka.

Dalam beberapa dekade sejak itu, ketegangan di kawasan tersebut tetap tinggi. Pascataufan Al-Aqsa pada Oktober 2023 merupakan eskalasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di Gaza, lebih dari 72.700 orang telah tewas, dan banyak lagi yang terpaksa meninggalkan rumah mereka. Dan ini terjadi berulang kali. Di antara para pengungsi tersebut adalah warga Palestina yang pindah ke Gaza dari tempat lain di Palestina setelah Nakba, dan keturunan mereka.

Umat Islam harus sadar bahwa berlanjutnya penjajahan Palestina adalah potret kegagalan sistem yang tegak saat ini. Sistem demokrasi sekuler terbukti gagal menciptakan perdamaian, keamanan, dan kerahmatan di dunia.

Sistem ini juga menunjukkan kebusukan konsep negara bangsa yang membuat umat Islam kehilangan kekuatan dan rasa ukhuwahnya. Umat Islam juga harus menyadari, pembebasan Palestina tidak bisa diharapkan datang dari negara-negara adidaya, lembaga-lembaga internasional, ataupun regional. Semuanya justru ada untuk mengukuhkan penjajahan terhadap umat Islam. Dukungan dunia internasional terhadap rakyat Palestina hanya sebatas lip service. Mereka hanya mengutuk dan mengecam kebiadaban entitas Yahudi tanpa ada tindakan nyata.

Desakan Liga Arab agar memberikan perlindungan internasional bagi rakyat Palestina dan meminta komunitas global untuk memaksa Israel agar menghentikan pendudukan ilegal mereka atas tanah Palestina, termasuk Yerusalem Timur, tidak menghentikan entitas Yahudi untuk terus mengusir rakyat Palestina dan terus membangun pemukiman ilegal. Begitu juga dengan seruan BRICS agar Palestina memperoleh kemerdekaannya. Hal ini pun tidak berhasil menjadikan Palestina negara yang merdeka. Entitas Zionis pun tidak pernah mengindahkan berbagai perundingan damai dan resolusi PBB karena dukungan veto dari Amerika.

Derita Rakyat Palestina Derita Kita  
Refleksi peristiwa Nakba dan siklus kekerasan yang menimpa kaum Muslimin di Palestina seharusnya membuka mata dunia, khususnya dunia Islam. Kaum Muslimin harus memahami bahwa penderitaan yang dialami oleh rakyat Palestina pada hakikatnya adalah derita umat Islam seluruhnya. Bukankah Rasulullah saw. bersabda:  

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ  

Artinya: “Seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lainnya, tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya (dizalimi).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pembebasan dan kemerdekaan Palestina tidak bisa bergantung pada negara yang menerapkan sistem demokrasi sekuler. Sistem ini membentuk negara bangsa dengan ikatan nasionalisme. Setiap wilayah disekat oleh batas negara dan nation. Ikatan nasionalisme mengikis dan menghapus ikatan akidah Islam di tubuh kaum Muslimin sehingga kaum Muslimin di satu negeri tidak peduli dengan saudaranya di negeri Islam lainnya.

Karena itu, menjadi tugas dan kewajiban kita bersama untuk berdakwah memahamkan umat akan pentingnya persatuan umat Islam di bawah satu kepemimpinan, yaitu Khilafah Islamiyah.

Umat pun harus dipahamkan bahwa semua penderitaan yang menimpa mereka, termasuk di Palestina dan di seluruh negeri-negeri Islam lainnya, karena tidak adanya seorang khalifah yang menjadi perisai dan pelindung umat.  
Oleh karena itu, memahamkan umat akan pentingnya hidup di bawah naungan kepemimpinan Islam harus menjadi agenda utama perjuangan kita sebagai wujud keimanan kita kepada Allah. Kepemimpinan Islam akan menyatukan dan memobilisir kekuatan umat Islam. Dengan kekuatan militer Khilafah Islam, entitas Yahudi dan seluruh kekuatan pendukungnya bisa dikalahkan dan diusir dari tanah Palestina. Dengan komando seorang khalifah, Palestina bisa dibebaskan. Kewibawaan umat ini akan kembali dan umat Islam siap merebut kepemimpinan dunia dan menebar rahmat ke seluruh alam.

Wallahu a‘lam bish-shawab