Carut-Marut Indonesia, Saat Aturan Hidup Islam Ditinggalkan
Oleh : Ghooziyah
Indonesia hari ini seperti berjalan tanpa arah. Di tengah pembangunan yang terus digembar-gemborkan, rakyat justru menghadapi berbagai persoalan yang semakin kompleks. Korupsi merajalela, judi online menghancurkan generasi, kriminalitas brutal meningkat, pengangguran meluas, moral generasi muda rusak, hingga hukum kehilangan kepercayaan publik. Hampir setiap hari masyarakat disuguhi berita kerusakan yang datang silih berganti.
Ironisnya, semua itu terjadi di negeri dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia. Berbagai regulasi, program pemerintah, dan pergantian pemimpin terus dilakukan, tetapi problem tidak pernah benar-benar selesai. Bahkan kerusakan tampak semakin sistemik dan mengakar. Hal ini menunjukkan bahwa problem Indonesia bukan sekadar kesalahan individu atau lemahnya pengawasan negara, melainkan ada persoalan mendasar dalam sistem kehidupan yang diterapkan.
Fakta: Problematika Indonesia Kian Mengkhawatirkan
Berbagai sektor kehidupan di Indonesia sedang mengalami krisis serius. Di bidang hukum, korupsi terus terjadi dengan nilai fantastis. Mafia peradilan, suap pejabat, dan praktik jual beli perkara membuat masyarakat semakin kehilangan kepercayaan terhadap hukum. Hukum terlihat tajam kepada rakyat kecil, tetapi tumpul kepada pemilik modal dan penguasa.
Di bidang ekonomi, kemiskinan dan pengangguran masih menjadi persoalan besar. Lapangan kerja semakin sempit, sementara kebutuhan hidup terus meningkat. Banyak rakyat akhirnya bekerja di sektor informal dengan penghasilan minim dan tanpa jaminan kesejahteraan.
Fenomena judi online juga berkembang sangat mengkhawatirkan. Anak muda, pelajar, bahkan orang tua terjerat perjudian digital yang menghancurkan ekonomi keluarga. Indonesia bahkan disebut menjadi sasaran empuk mafia judi online internasional karena lemahnya perlindungan negara dan mudahnya akses digital.
Dunia pendidikan juga mengalami krisis moral. Kekerasan pelajar, pelecehan seksual di sekolah dan kampus, budaya mencontek, joki ujian, hingga rendahnya adab kepada guru menjadi fenomena yang terus berulang. Pendidikan lebih diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri daripada membentuk manusia berkepribadian mulia.
Di bidang sosial, kasus narkoba, pornografi, pergaulan bebas, hingga kekerasan seksual semakin meningkat. Media sosial dan dunia digital menjadi ruang bebas penyebaran konten yang merusak generasi muda. Anak-anak tumbuh di tengah lingkungan yang permisif terhadap kemaksiatan tanpa perlindungan moral yang kuat.
Semua fakta ini menunjukkan bahwa kerusakan di Indonesia bukan persoalan yang berdiri sendiri, tetapi saling berkaitan dan berasal dari akar masalah yang sama.
Kritik Islam: Sekularisme dan Kapitalisme Menjadi Akar Kerusakan
Dalam pandangan Islam, akar problem Indonesia adalah diterapkannya sistem sekuler kapitalistik. Sekularisme memisahkan agama dari kehidupan. Islam hanya ditempatkan sebagai urusan ibadah ritual, sementara aturan ekonomi, politik, pendidikan, hukum, dan sosial dibuat berdasarkan akal manusia serta kepentingan penguasa dan pemilik modal.
Akibatnya, standar halal dan haram tergeser oleh standar manfaat dan keuntungan. Selama sesuatu dianggap menghasilkan uang atau menguntungkan secara politik, maka tetap dijalankan meski merusak masyarakat.
Kapitalisme juga menjadikan materi sebagai tujuan utama kehidupan. Kesuksesan diukur dari kekayaan, jabatan, dan popularitas, bukan dari ketakwaan dan kemuliaan akhlak. Sistem ini melahirkan budaya korupsi, eksploitasi ekonomi, gaya hidup hedonis, dan persaingan tidak sehat.
Negara dalam sistem kapitalisme lebih banyak berpihak kepada pemilik modal dibanding rakyat. Kebijakan dibuat demi investasi dan pertumbuhan ekonomi, meski harus mengorbankan kesejahteraan masyarakat kecil. Kekayaan alam diserahkan kepada oligarki dan asing, sementara rakyat hanya menjadi penonton di negerinya sendiri.
Sistem hukum sekuler juga kehilangan keadilan karena dibuat berdasarkan kompromi politik dan kepentingan manusia. Akibatnya hukum mudah diperjualbelikan dan mafia hukum tumbuh subur.
Dunia pendidikan sekuler gagal membentuk manusia bertakwa. Pendidikan hanya diarahkan untuk mencetak tenaga kerja industri, bukan generasi yang memiliki kepribadian Islam. Karena itu lahirlah generasi yang cerdas secara akademik tetapi rapuh secara moral.
Kerusakan yang terjadi hari ini bukan sekadar akibat individu-individu jahat, tetapi karena sistem rusak yang terus melahirkan kerusakan baru dalam berbagai aspek kehidupan.
Solusi Islam: Kembali kepada Peraturan Hidup Islam Kaffah
Islam bukan sekadar agama ritual, tetapi peraturan hidup yang sempurna dan menyeluruh. Islam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, mulai dari ekonomi, pendidikan, sosial, hukum, hingga pemerintahan.
Dalam bidang ekonomi, Islam melarang riba, perjudian, monopoli, penipuan, dan eksploitasi ekonomi. Negara wajib menjamin kebutuhan dasar rakyat seperti pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Sumber daya alam dikelola negara untuk kesejahteraan rakyat, bukan diserahkan kepada oligarki atau korporasi asing.
Dalam bidang pendidikan, Islam menjadikan akidah sebagai dasar pembentukan generasi. Pendidikan bertujuan membentuk kepribadian Islam (syakhshiyah Islamiyyah) sehingga lahir generasi yang cerdas sekaligus bertakwa.
Dalam bidang sosial, Islam mengatur pergaulan laki-laki dan perempuan untuk menjaga kehormatan manusia dan menutup pintu kerusakan moral. Media dan teknologi diarahkan untuk membangun peradaban dan menjaga akidah umat.
Dalam sistem hukum, Islam menerapkan aturan yang bersumber dari wahyu Allah sehingga tidak dapat diubah sesuai kepentingan politik dan ekonomi. Sanksi ditegakkan secara adil tanpa pandang bulu untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.
Negara dalam Islam juga berfungsi sebagai ra’in (pengurus) dan junnah (pelindung) bagi rakyat. Negara bertanggung jawab penuh menjaga kesejahteraan, keamanan, dan akidah masyarakat berdasarkan syariat Allah.
Dengan penerapan Islam secara kaffah, kehidupan manusia tidak lagi diatur berdasarkan hawa nafsu dan kepentingan oligarki, tetapi berdasarkan aturan Allah Yang Maha Mengetahui kebutuhan manusia.
Penutup
Indonesia hari ini sedang menghadapi krisis multidimensi yang semakin serius. Berbagai problem yang muncul sejatinya berasal dari akar yang sama, yakni diterapkannya sistem sekuler kapitalistik yang menjauhkan manusia dari aturan Allah.
Selama kehidupan diatur berdasarkan hawa nafsu manusia dan kepentingan materi, maka kerusakan akan terus berulang dalam berbagai bentuk. Solusi parsial tidak akan mampu menyelesaikan problem secara tuntas.
Karena itu, umat Islam harus menyadari pentingnya kembali kepada peraturan hidup Islam secara kaffah. Hanya dengan syariat Allah, keadilan, keamanan, kesejahteraan, dan keberkahan hidup dapat terwujud secara nyata di tengah masyarakat.
Wallahu a'lam

Posting Komentar