Lebaran dan Jeritan Ekonomi Keluarga
Oleh F.S. Anjaly
Penamabda.com-Achmad Nur Hidayat, seorang ekonom UPN Veteran Jakarta, mengatakan bahwa masyarakat justru akan semakin terhimpit karena setiap tahunnya, menjelang Lebaran, harga barang semakin meningkat. Memang, pemerintah telah memberikan diskon, menggelar pasar murah, dan menyalurkan bantuan sosial dengan anggaran yang tidak sedikit. Namun, pada kenyataannya, kondisi ekonomi masyarakat Indonesia masih memprihatinkan. Bantuan tersebut belum sepenuhnya mampu menutupi total biaya perjalanan yang harus ditanggung oleh keluarga.
Mengutip artikel berjudul “Habis Makan Tabungan Terbitlah Makan Utang Setelah Lebaran, Ekonom: Hati-hati Keuangan”yang dimuat di Inilah.com pada Maret 2026, Achmad Nur Hidayat menyoroti fenomena tahunan ini sebagai tanda lemahnya ketahanan ekonomi rumah tangga. Ia menekankan bahwa kenaikan harga, ongkos mobilitas, tekanan kurs, serta jaring pengaman sosial yang belum sepenuhnya tepat sasaran menjadi faktor utama yang membebani masyarakat.
Momen Lebaran seharusnya menjadi hari penting yang penuh kebahagiaan—dirayakan bersama keluarga, tetangga, dan sanak saudara dalam suasana sukacita. Namun, berbeda dengan Lebaran tahun 2026, masyarakat Indonesia justru memikul beban berat yang seakan-akan tidak ada habisnya.
Bagaimana tidak? Biaya hidup yang terus meningkat bahkan melampaui kemampuan ekonomi rumah tangga. Keadaan ini sungguh mencekik rakyat, terutama rakyat yang berpenghasilan menengah ke bawah.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan per Februari 2026 tercatat mencapai 4,76 persen. Di sisi lain, menurut Bank Indonesia, kurs JISDOR pada 10 Maret 2026 menyentuh Rp16.879 per dolar AS. Kondisi ini menunjukkan adanya tekanan yang cukup kuat terhadap daya beli masyarakat.
Tekanan ekonomi tersebut, dalam pandangan penulis, berpotensi memicu berbagai persoalan sosial. Sebagian masyarakat mulai mencari jalan pintas untuk bertahan, seperti memanfaatkan pinjaman online atau terjerumus dalam praktik judi online, yang pada akhirnya justru memperburuk kondisi keuangan mereka.
Awalnya, langkah tersebut kerap dianggap sebagai solusi. Namun, seiring waktu, masalah justru semakin membesar. Ibarat api yang sempat padam, tetapi kemudian berkobar lebih besar. Masyarakat seakan terus menggali lubang untuk menutup lubang lainnya atas persoalan yang mereka hadapi. Risiko persoalan sosial lain pun turut meningkat.
Terlihat betapa rapuhnya kondisi ekonomi keluarga di Indonesia. Di tengah situasi tersebut, utang justru terus meningkat tanpa kendali. Alih-alih menjadi solusi, kondisi ini berpotensi menyeret masyarakat ke dalam kesulitan yang lebih dalam.
Oleh karena itu, keluarga membutuhkan kepastian atas janji-janji yang diberikan oleh para pemangku kebijakan. Mereka membutuhkan bantuan yang nyata, bukan sekadar narasi kosong ataupun skema pembiayaan yang justru menambah beban.
Indonesia membutuhkan sistem ekonomi yang mampu menyejahterakan masyarakat secara merata, bukan hanya berputar di kalangan pemilik modal. Sistem ekonomi yang stabil, baik dari segi harga barang, nilai mata uang, maupun ketersediaan lapangan kerja yang layak.
Dalam perspektif penulis, salah satu pendekatan yang dapat dipertimbangkan adalah penerapan prinsip-prinsip ekonomi Islam dalam tata kelola negara. Pendekatan ini menekankan peran negara yang kuat dalam menjamin kesejahteraan rakyat, mengurangi ketergantungan pada pihak asing, serta memastikan distribusi ekonomi yang lebih adil. Negara dalam naungan pemimpin yang tepat, tentu akan menjadi negara yang selalu mengedepankan keamanan dan kenyamanan dari rakyat yang dinaunginya, bahkan dalam persoalan ekonomi sekecil apa pun.
Dengan kepemimpinan yang berpihak pada rakyat, negara diharapkan dapat hadir secara nyata dalam mengatasi beban ekonomi masyarakat. Maka dari itu, negara Islam yang mampu menjunjung tinggi nilai-nilai Islamlah pasti bisa mewujudkannya. Pada akhirnya, momen Lebaran pun dapat kembali menjadi hari istimewa yang tidak hanya sarat akan makna spiritual, tetapi juga terbebas dari tekanan ekonomi yang berlebihan. Wallahu a'lam bishawab. []


Posting Komentar