PERANG IRAN, GELOMBANG DEMO “NO KINGS”, DAN RETAKNYA DOMINASI GLOBAL
Oleh : Irawati Tri Kurnia
(Ibu Peduli Umat)
Dunia sedang di ujung keresahan. Perang Iran dengan Amerika tengah berlangsung, tengah memunculkan krisis energi sebagai cikal bakal krisis lainnya. Perang ini bukanlah perang militer biasa, akan tetapi mampu mengubah tatanan dunia.
Di satu sisi, Iran merupakan satu-satunya negara yang secara terbuka dan konsisten menantang dominasi Amerika; di saat negara-negara lain lebih memilih berkompromi dan diam. Di sisi lain, Amerika kekuatannya tidak sebatas pada sains dan teknologi; tapi juga pada persepsi global bahwa Amerika selalu kuat dan menang sehingga tidak bisa dikalahkan. Tapi kini persepsi ini retak.
Dalam tubuh Amerika, mengalami krisis dalam negeri yang parah. Unjuk rasa besar-besaran terjadi di Amerika Serikat (AS), jutaan warga turun ke jalan dalam demonstrasi bertajuk "No Kings" pada Sabtu, 28 Maret 2026 waktu setempat. Terjadi 3.300 aksi serentak di 50 negara bagian (www.idnfinancials.com, Minggu 29 Maret 2026) (1). Diperkirakan 8 juta warga Amerika ikut dalam aksi ini (www.cnnindonesia.com, Minggu 29 Maret 2026) (2). Ini sebagai ekspresi protes warga Amerika atas keterlibatan Amerika untuk memerangi Iran, di saat kondisi ekonomi sedang “keropos”. Utang nasional Amerika Serikat (AS) resmi menembus US$ 39 triliun (Rp 661.440 triliun) pada Maret 2026. Utang bengkak, menyusul lonjakan pengeluaran akibat konflik AS-Israel-Iran. Akibatnya utang per penduduk AS Rp 1,93 M. AS di ambang kebangkrutan (www.cnbcindonesia.com, Sabtu 28 Maret 2026) (3).
Sedangkan persepsi Amerika sebagai negara adi daya di dunia global juga mulai melemah. Selama bertahun-tahun, Amerika dijaga bukan hanya dengan kekuatan militer, akan tetapi juga melalui system keuangan global yang berpusat pada dolar. Minyak dunia diperdagangkan dengan dolar, sehingga mencuat istilah “Petrodolar”. Cadangan devisa di banyak negara pun disimpan dalam dolar. Transaksi internasional pun dalam dolar. Selama ini dolar menjadi mata uang yang mendominasi dan negara lain menjadi tergantung pada hal ini. Selama persepsi Amerika sebagai negara tak terkalahkan, maka ketergantungan pada dolar masih mampu dipertahankan. Tapi dalam kondisi saat ini, di mana dalam perang Amerika semakin terdesak oleh Iran; di sisi lain dalam negeri Amerika pun penuh guncangan dan krisis yang perpuncak pada gelombang demo “No Kings” kemarin. Maka bukan hanya Amerika secara fisik yang runtuh, tapi persepsi bahwa Amerika tak terkalahkan juga akan ikut runtuh. Ini akan berdampak dunia internasional mempertanyakan struktur kekuasaan dominasi keuangan global oleh dolar yang selama ini tidak tergoyahkan. Di titik inilah proses retaknya dominasi dolar akan terjadi.
Dunia internasional terdorong untuk mencari alternatif lain dalam sistem keuangan global. Negara besar semacam Cina, mulai mempromosikan penggunaan Yuan (mata uang Cina) dalam perdagangan internasional, termasuk dalam transaksi energi. Maka kini mencuat istilah “Petroyuan”. Negara-negara berkembang termasuk BRICS, mulai mengurangi ketergantungan mereka terhadap dolar, melalui mekanisme perdagangan bilateral, melalui mata uang lokal. Situasi ini tidak terjadi secara instan, tapi arah pergeserannya menjadi semakin jelas, bahwa dunia tidak lagi bergantung pada satu mata uang (Harian Kompas, Senin 30 Maret 2026).
Pada situasi ketidakpastian saat ini yang semakin meningkat, maka emas akan bisa kembali menjadi asset “lindung nilai” yang paling dipercaya. Karena di dalam Islam pun sudah menjadikan emas sebagai standar pelaksanaan mata uang yang diberlakukan yang berbentuk mata uang emas dinar, selain juga mata uang perak dirham. Karena emas memiliki standar yang berbeda dengan mata uang kertas (fiat money) semacam dolar. Emas tidak bisa dicetak secara sepihak. Emas juga tidak bergantung pada stabilitas negara tertentu. Maka jika situasi politik saat ini membuat dolar semakin goyah, maka permintaan terhadap emas cenderung meningkat.
Yang perlu digaris bawahi dalam hal ini, ada dua paradigma berbeda dalam melihat emas. Dalam system ekonomi sekuler kapitalistik saat ini, emas hanya sebatas komoditas (barang), yang dijadikan tempat pengembangan mata uang dengan diperdagangkan dan dihasilkan riba. Sedangkan dalam ekonomi berbasis syariah Islam, emas ditempatkan sebagai satuan mata uang. Emas dan perak dalam Islam diposisikan sebagai Currency (sistem mata uang), yang nilainya stabil; di tengah ketidakpastian sistem keuangan modern saat ini.
Tapi perlu diperhatikan, bahwa bergesernya dominasi tunggal menuju multipolar saat ini, tidak otomatis menghasilkan tata dunia yang lebih adil; melainkan hanya menggantikan satu bentuk dominasi dengan dominasi yang lain. Yang menjadi masalah bukan siapa yang berkuasa, tapi sistem tatanan global itu sendiri; yang saat ini menggunakan tatanan sekuler kapitalistik yang memisahkan agama dari aturan kehidupan. Sistem sekuler kapitalisme inilah yang menjadikan siapapun yang berkuasa, dia akan menjadikan mata uang, sumber daya, dan kekuatan politik sebagai alat dominasi.
Jadi dalam pergeseran tatanan dunia global saat ini, dari penguasa tunggal ke arah banyaknya kekuatan yang mengendalikan arah tatanan dunia; maka problemnya bukan sekedar bagaimana menggantikan posisi Amerika, tapi fakta bahwa dominasi dunia yang bukan lagi absolut dan dunia mulai bergerak pada tatanan yang baru; maka pertarungannya bukan hanya pada medan perang, tapi beberapa aspek, yakni : persepsi, system, dan arah peradaban global; yang ketiganya harus ditentukan oleh Syariat.
Penentunya utamanya dalam krisis saat ini, bukan sekedar siapa yang menang dan kalah, tapi sistem apa yang mengatur kehidupan manusia. Selama aturan yang dipakai adalah buatan manusia yang sarat dengan kepentingan, maka keadilan tidak akan terwujud. Seperti pada firman Allah surat Al-Maidah ayat 50 :
"Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?"
Ayat ini sebagai pengingat bahwa keadilan hakiki akan bisa diwujudkan saat memakai hukum Allah, bukan hukum manusia yang mudah berubah mengikuti kepentingan yang berkuasa. Hukum Allah akan maksimal jika diterapkan secara menyeluruh (kafah), yang dalam Islam mekanisme dengan penegakan Khilafah.
Umat manusia secara umum, dan khususnya umat Islam; hanya bisa disatukan dengan sistem Islam yang telah dicontohkan Rasulullah, yang dilanjutkan oleh para sahabat dan para Khalifah (para pemimpin Khilafah), yang mampu memberikan jaminan keadilan dan kesejahteraan yang langgeng. Karena terbukti Khilafah telah mampu menjadi adidaya selama 13 abad lamanya dan menorehkan kegemilangan peradaban dengan tinta emas yang tiada tanding, yang bahkan tidak mampu ditandingi oleh Amerika yang masih seabad berdirinya sudah diambang kehancuran.
Wallahualam Bisawab
Catatan Kaki :
(1) https://www.idnfinancials.com/id/news/62552/protes-no-kings-meledak-di-as-ribuan-aksi-soroti-kebijakan-trump
(2) https://www.cnnindonesia.com/internasional/20260329102618-136-1342234/foto-8-juta-orang-ikut-aksi-no-kings-demo-kebijakan-trump
(3) https://www.cnbcindonesia.com/research/20260328164837-128-722151/gara-gara-trump-setiap-bayi-amerika-nanggung-utang-rp19-miliar

Posting Komentar