Merawat Takwa Dengan Menerima Islam Kaffah
Oleh : U Diar
Ramadhan semakin jauh bulannya, namun esensi capaian ibadah yang pernah dilakukan di sana sejatinya tidak boleh turut menjauh. Sebab Ramadhan bukanlah bulan penanda puncak ibadah, bukan sekadar posisi tertinggi yang harus diraih dalam urusan takwa. Ramadhan semestinya justru dijadikan sebagai bulan awal untuk memancangkan amal ibadah yang kokoh, agar terus menerus bisa dilakukan kembali di bulan-bulan berikutnya, agar ketakwaan tetap terpelihara selamanya.
Ramadhan bukan rumah sementara. Ia bukan bulan singgah amal ibadah yang jika sudah berlalu momennya berlalu pula ibadahnya. Ramadhan semestinya menjadi tungku pembakar segala sifat buruk penghalang takwa, sehingga setelah Ramadhan berlalu yang tersisa adalah sifat-sifat baik penjaga takwanya. Namun faktanya, hal itu sangat sulit dilakukan. Salah satu sebabnya adalah dikarenakan lingkungan ekosistem ibadah tidak ada lagi seiring berlalunya bulan ketakwaan tersebut. Padahal menurut Ibnu Rajab Alhanbali, amalan yang bisa dilakukan berkelanjutan adalah salah satu dari indikator diterimanya amal tersebut.
Menjadi penting untuk merawat takwa pasca Ramadhan. Sebab di tengah godaan duniawi yang ditumbuhkan dengan subur oleh kapitalis sekuler saat ini, perkara berbau agama dianggap tidak begitu penting jika dibandingkan dengan manfaat materi yang didapat. Mengejar taat terasa dikalahkan oleh kesibukan mengejar harta dan tahta ataupun kesenangan jasadiyah duniawi. Sehingga jika tidak dipaksakan untuk dirawat, takwa bisa pudar perlahan dan dianggap sekadar slogan yang akan kembali ramai diperbincangkan ketika Ramadhan datang kembali.
Padahal takwa adalah sebuah konsekuensi dari keimanan itu sendiri. Yakni dengan sukarela menjalankan apa saja yang diperintahkan oleh Allah sebagai Tuhan yang diimani dan sekaligus meninggalkan apapun yang dilarangNya, baik secara terang-terangan ataupun sembunyi-sembunyi, di semua tempat dan keadaan. Fokus yang dicari dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi semua laranganNya adalah untuk mendapatkan ridlo Allah semata, bukan karena manusia atau urusan dunia lainnya.
Fokus seperti ini akan didapatkan apabila di dalam diri manusia tersemat rasa takut akan sanksi dari Allah seraya berharap pada rahmat Allah. Konsep ini akan nampak pada perbuatannya yang serius dan sungguh-sungguh menjaga dirinya dari perbuatan-perbuatan maksiat sekecil apapun serta senantiasa bersegera dalam melakukan amal kebaikan, terutama amalan yang sifatnya diwajibkan oleh Allah.
Pada akhirnya konsep dan sikap ini akan melahirkan ketundukan hamba yang memelihara takwa pada kepatuhan terhadap Islam secara Kaffah, meyakinianya dengan pasti, menerima sepenuh hati, dan melaksanakan semuanya tanpa dipilihi yang sesuai seleranya saja. Tidak saja menjalankan aturan Allah dalam Alquran berkaitan dengan ibadah ritual, tetapi juga menerima dan mematuhi peraturan yang berkaitan dengan urusan ekonomi, muamalah, kepemimpinan, dll. Loyalitas hidupnya akan diberikan kepada Allah dan RasulNya, dengan hanya menjadikan yang berasal dari keduanya sebagai prioritas.
Walaupun pandangan manusia memandang aneh lantaran kekokohannya dalam berusaha menjalankan Islam Kaffah, mereka yang berupaya memelihara takwa tidak akan mundur. Sebab urutan berikutnya dalam proses ini adalah harus bersabar dalam menjalaninya, walaupun sangat tidak mudah. Bahkan ketidakmudahan ini pun sudah dikabarkan Nabi sejak dahulu melalui sabdanya yang artinya: "Akan datang kepada manusia suatu zaman saat orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api." (HR. At-Tirmidzi)
Tidak mungkin mampu menahan panasnya bara api jikalau tidak ada kesabaran yang luar biasa. Namun akan beda ceritanya jika Islam Kaffah ini dipraktekkan komunal dalam sekup global. Pada saat seperti itu, habitat hidup manusia sudah syarat dengan nilai-nilai agama, sehingga menerima Islam secara Kaffah sebagai bagian dari konsekuensi takwa tidak lagi menjadi tantangan tersendiri. Semoga segera ada lingkungan demikian.

Posting Komentar