Lebaran Berujung Utang, Ketika Kebahagiaan Hari Raya Dibayar dengan Cicilan
Oleh : Ummu Aqila
Ramadan dan Idulfitri selalu identik dengan kebahagiaan, kebersamaan keluarga, dan meningkatnya konsumsi rumah tangga. Namun di balik suasana tersebut, banyak keluarga justru menghadapi tekanan ekonomi yang cukup berat. Pengeluaran meningkat untuk kebutuhan makanan, pakaian baru, transportasi mudik, hingga berbagai kebutuhan sosial lainnya. Sementara itu, pendapatan sebagian keluarga tidak mengalami peningkatan yang signifikan.
Akibatnya, tidak sedikit keluarga yang akhirnya memilih berutang untuk menutup kebutuhan selama Ramadan dan Lebaran. Fenomena ini bahkan diperkirakan terus meningkat setiap tahun, terutama melalui pinjaman online, multifinance, dan gadai. Kondisi ini menunjukkan bahwa kebahagiaan Lebaran bagi sebagian keluarga ternyata harus dibayar dengan beban cicilan setelah hari raya berakhir.
Hal ini terjadi karena daya tahan ekonomi sebagian rumah tangga masih tergolong lemah. Kenaikan harga barang, biaya transportasi yang meningkat, tekanan ekonomi global, serta jaring pengaman sosial yang belum sepenuhnya tepat sasaran membuat banyak keluarga tidak memiliki cadangan keuangan yang cukup. Ketika pengeluaran meningkat saat Lebaran, utang menjadi solusi yang dianggap paling cepat.
Kapitalisasi Ramadan dan Tekanan Sosial Konsumsi
Ramadan dan Lebaran saat ini tidak hanya menjadi momentum ibadah, tetapi juga momentum ekonomi. Berbagai promosi besar-besaran, diskon, dan kampanye belanja membuat konsumsi masyarakat meningkat tajam. Tradisi membeli baju baru, menyiapkan makanan berlimpah, memberi hadiah, hingga mempercantik rumah sering kali menjadi standar sosial yang seolah wajib dipenuhi.
Tekanan sosial inilah yang sering kali tidak disadari menjadi beban ekonomi keluarga. Banyak orang merasa tidak enak jika tidak membeli pakaian baru, tidak mudik, atau tidak menyediakan hidangan istimewa saat Lebaran. Akhirnya, pengeluaran dipaksakan meskipun kondisi keuangan tidak memungkinkan.
Di sisi lain, era digital memberikan kemudahan akses pinjaman secara instan. Pinjaman online hadir dengan proses cepat dan mudah, sehingga banyak keluarga menjadikannya solusi untuk memenuhi kebutuhan Lebaran. Padahal, kemudahan ini justru bisa menjadi jebakan, karena sebagian besar pinjaman menggunakan sistem bunga yang memberatkan di kemudian hari.
Akibatnya, perputaran ekonomi masyarakat justru ditopang oleh utang, bukan oleh peningkatan pendapatan. Sementara pertumbuhan upah berjalan lambat, kebutuhan hidup terus meningkat. Kondisi ini membuat keluarga semakin bergantung pada utang, bahkan untuk kebutuhan rutin.
Sistem Ekonomi yang Belum Menyejahterakan Keluarga
Fenomena meningkatnya utang keluarga sebenarnya menunjukkan adanya persoalan yang lebih mendasar, yaitu sistem ekonomi yang belum mampu menyejahterakan masyarakat secara merata. Pertumbuhan ekonomi sering kali hanya terlihat dalam angka statistik, tetapi tidak selalu dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Keluarga membutuhkan sistem ekonomi yang benar-benar mampu menciptakan kesejahteraan, bukan sekadar narasi ekonomi inklusif. Sistem ekonomi yang dibutuhkan adalah sistem yang mampu menciptakan distribusi kekayaan yang merata, sehingga kesejahteraan tidak hanya dinikmati oleh pemilik modal, tetapi juga oleh seluruh masyarakat.
Selain itu, masyarakat juga membutuhkan sistem ekonomi yang stabil, baik dari sisi nilai mata uang maupun harga barang. Ketika harga barang terus naik dan nilai uang melemah, maka daya beli masyarakat akan terus menurun. Dalam kondisi seperti ini, utang sering kali menjadi jalan keluar yang dipilih, meskipun berisiko.
Yang tidak kalah penting, sistem ekonomi harus mampu menyediakan lapangan kerja yang layak dengan penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Jika masyarakat memiliki pekerjaan yang layak dan pendapatan yang stabil, maka ketergantungan pada utang akan berkurang dengan sendirinya.
Sistem Ekonomi Islam sebagai Solusi
Islam memiliki sistem ekonomi yang bertujuan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat secara merata. Dalam sistem ekonomi Islam, praktik riba dilarang karena dapat menimbulkan ketidakadilan dan menjerat masyarakat dalam utang berkepanjangan. Islam juga mengatur distribusi kekayaan melalui zakat, infak, sedekah, serta pengelolaan sumber daya alam oleh negara untuk kepentingan rakyat.
Sistem ekonomi Islam juga menekankan stabilitas ekonomi, distribusi kekayaan yang adil, serta tanggung jawab negara dalam menjamin kebutuhan dasar masyarakat dan menyediakan lapangan kerja. Dengan sistem seperti ini, keluarga tidak akan bergantung pada utang untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Namun penerapan sistem ekonomi Islam membutuhkan dukungan sistem politik yang sejalan, sehingga negara memiliki kekuatan untuk membuat kebijakan ekonomi yang berpihak pada kesejahteraan rakyat dan tidak bergantung pada tekanan ekonomi global.
Mengembalikan Makna Ramadan dan Lebaran
Ramadan dan Idulfitri seharusnya menjadi momentum meningkatkan ketakwaan, kesederhanaan, dan kepedulian sosial, bukan justru menjadi momen konsumsi berlebihan yang berujung utang. Jika sistem ekonomi dan sosial berjalan dengan adil dan berpihak pada kesejahteraan masyarakat, maka Lebaran tidak lagi menjadi beban ekonomi bagi keluarga.
Sudah saatnya momentum Ramadan dan Idulfitri dikembalikan pada makna yang sebenarnya, yaitu membentuk ketakwaan, memperkuat solidaritas sosial, dan menghadirkan kesejahteraan yang nyata bagi seluruh masyarakat. Dengan demikian, kebahagiaan Lebaran tidak lagi dibayangi oleh tagihan utang setelah hari raya, tetapi benar-benar menjadi hari kemenangan yang membawa ketenangan lahir dan batin.
Wallahu alam Bishowab

Posting Komentar