Campak Meningkat, Apakah Solusinya hanya Vaksin?
Oleh : Rizka Amalia S.kom., Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok
Kasus campak di Indonesia kembali menunjukkan tren mengkhawatirkan pada awal 2026. Lonjakan ini memicu kejadian luar biasa (KLB) di berbagai daerah dengan ribuan kasus suspek. Data Kementerian Kesehatan mencatat, hingga minggu ke-9 tahun 2026 terdapat 10.826 kasus suspek dan 8.716 kasus terkonfirmasi, tersebar dalam 45 KLB di 29 kabupaten/kota.
Sepanjang 2025–2026, sebanyak 72 kematian akibat campak dilaporkan, mayoritas menyerang balita. Penyebaran kasus mencakup sejumlah provinsi, mulai dari Sumatra hingga Sulawesi. Bahkan, seorang dokter yang tengah menjalani masa internship dilaporkan meninggal dunia dengan dugaan terinfeksi campak. Fakta ini menegaskan bahwa campak bukan sekadar penyakit ringan, melainkan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.
Ironisnya, penyakit yang sebelumnya jarang terdengar ini justru kembali meningkat. Salah satu penyebab utama adalah menurunnya cakupan imunisasi rutin hingga sekitar 25%. Penurunan ini berpotensi mengembalikan campak sebagai penyakit endemik dalam 5–10 tahun mendatang.
Seorang epidemiolog dari Universitas Gadjah Mada, dr. Riris Andono Ahmad, menjelaskan cakupan imunisasi sangat menentukan terbentuknya kekebalan kelompok (herd immunity). Ketika cakupan berada di bawah ambang yang dibutuhkan, maka kekebalan populasi tidak cukup untuk mencegah penularan, sehingga wabah mudah terjadi. Namun, apakah solusi dari persoalan ini cukup dengan vaksinasi semata?
Perspektif Islam: Pendekatan Menyeluruh
Dalam pandangan Islam, wabah penyakit tidak hanya dipahami sebagai persoalan medis, tetapi juga sebagai tanggung jawab negara dalam menjaga jiwa manusia (hifzh an-nafs). Karena itu, solusi yang ditawarkan tidak parsial, melainkan menyeluruh—mencakup aspek pencegahan, penanganan, hingga perlindungan sosial.
Rasulullah SAW telah memberikan panduan yang relevan dalam menghadapi wabah, “Jika kalian mendengar wabah di suatu negeri, jangan kalian memasukinya, dan jika terjadi di tempat kalian berada, jangan keluar darinya.”
Hadis ini menjadi dasar konsep karantina wilayah. Dalam konteks campak, penerapannya dapat berupa isolasi pasien, penutupan sementara sekolah, serta pembatasan aktivitas di wilayah terdampak untuk menekan penyebaran.
Selain itu, negara berkewajiban menyediakan layanan kesehatan yang memadai dan dapat diakses seluruh masyarakat. Dalam sejarah Kekhalifahan Islam, institusi kesehatan seperti bimaristan telah memberikan layanan gratis dengan fasilitas lengkap, termasuk perawatan hingga pasien pulih.
Islam juga menekankan pentingnya pencegahan. Kaidah fikih menyebutkan bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati. Dalam konteks modern, hal ini mencakup imunisasi yang aman dan halal, edukasi masyarakat, serta upaya menjaga kebersihan dan daya tahan tubuh.
Peran Gizi dan Ilmu Pengetahuan
Campak sangat rentan menyerang anak dengan imunitas lemah. Karena itu, pemenuhan kebutuhan gizi menjadi bagian penting dalam penanganan wabah. Negara harus memastikan ketersediaan pangan bergizi serta memberikan bantuan kepada keluarga yang membutuhkan, guna mencegah malnutrisi yang dapat memperparah kondisi pasien.
Di sisi lain, pengembangan ilmu pengetahuan juga menjadi bagian tak terpisahkan. Tokoh seperti Ibnu Sina dalam Al-Qanun fi al-Tibb telah membahas penyakit menular secara sistematis. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi Islam mendorong riset, inovasi, dan pengembangan metode pengobatan.
Penutup
Dengan demikian, penanganan campak tidak cukup hanya mengandalkan vaksinasi, meskipun perannya sangat penting. Diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif, meliputi karantina yang tepat, layanan kesehatan yang merata, edukasi publik, pemenuhan gizi, serta dukungan terhadap riset.
Islam menawarkan kerangka solusi yang menyatukan iman dan ilmu, serta menempatkan negara sebagai pihak yang bertanggung jawab penuh dalam melindungi kesehatan masyarakat. Pendekatan ini tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga preventif dan sistemik, sebuah konsep yang tetap relevan dalam menghadapi tantangan kesehatan di era modern.[]

Posting Komentar