-->

Bukti Razia Hanya Menertibkan Fisik, Bukan Jiwa

Oleh: Sarah Lubna

Pernah terbayang di benak kita, seorang siswi yang pagi harinya berpamitan dengan jilbab rapi, ternyata menyimpan "kostum penyamaran" di dalam tasnya? Bukan untuk pertunjukan seni, tapi untuk membolos dan merokok di warung remang-remang. Fenomena ini bukan sekadar kenakalan remaja biasa, melainkan tamparan keras yang membuktikan bahwa sistem kedisiplinan kita selama ini baru menyentuh kulit, belum menyentuh hati.


Fakta yang Bikin Geleng Kepala, kejadian di Bengkulu, Jumat (13/3/2026) kemarin, benar-benar jadi tamparan keras. Satpol PP Kota Bengkulu mengamankan sejumlah pelajar perempuan yang nekat membolos sekolah. Uniknya—atau mirisnya—mereka menyamar jadi laki-laki! Pakai tutup kepala, bergaya ala pria, duduk nongkrong sambil merokok di warung saat jam pelajaran.


Kepala Satpol PP, Sahat M Situmorang, bercerita kalau awalnya petugas cuma razia rutin. Tapi pas dicek tasnya, ternyata ada jilbab di sana. Jadi skenarionya: dari rumah pamit sekolah rapi sebagai siswi, tapi di tengah jalan ganti kostum jadi pria biar bisa bolos bareng pelajar laki-laki tanpa dicurigai warga. 


Kreativitas yang salah jalan. Kenapa Razia Saja Nggak Pernah Cukup? Kalau kita mau jujur, fenomena razia ini cuma menyentuh permukaan. Tanpa penanaman nilai Aqliyah (pola pikir) dan Nafsiyah (pola sikap) Islam, razia itu cuma jadi ajang main kucing-kucingan. Petugas datang, mereka lari; petugas pergi, mereka balik lagi.
Masalah siswi yang melakukan tasyabuh (menyerupai laki-laki) ini tanda kalau mereka nggak paham syariat.


Karena kita hidup di atmosfer sekuler-liberal yang menganggap identitas gender itu cair, boleh diatur sesuka hati. Di sistem ini, "kebebasan" jadi tuhan baru. Pelajar merasa punya hak penuh atas dirinya selama dianggap "nggak merugikan orang lain". Akhirnya, aturan sekolah dianggap sebagai beban yang harus diakali, bukan prinsip yang harus dijaga.


Negara yang sekuler cuma bisa kasih solusi teknis: razia, tangkap, panggil orang tua, selesai. Akar masalahnya—yaitu gaya hidup bebas dan kosongnya pemahaman agama—nggak pernah disentuh.


Solusi Islam adalah membentuk "Rem" dari Dalam Diri. Dalam pandangan Islam, mendidik generasi itu bukan cuma tugas sekolah, tapi kerja bareng antara keluarga, masyarakat, dan negara. Islam nggak cuma main potong rambut atau sita barang, tapi membenahi "mesin" di dalam kepalanya lewat tiga langkah fundamental:

Aqidah sebagai Fondasi: Islam menanamkan aqidah agar pelajar punya "polisi dalam diri". Mereka sadar kalau setiap detik perbuatannya diawasi Allah. Jadi, disiplin itu lahir karena rasa tanggung jawab kepada Pencipta, bukan karena takut sama Satpol PP.

Membentuk Kepribadian (Syakhsiyah) Islam: Pendidikan bukan cuma soal pinter matematika atau fisika, tapi soal bagaimana pola pikir dan pola sikapnya sesuai syariat. Siswa dibentuk agar punya rasa malu, menjaga kehormatan diri, dan bangga dengan identitas fitrahnya sebagai laki-laki atau perempuan.

Menjaga Fitrah: Dalam Islam, aturan pergaulan itu jelas. Larangan menyerupai lawan jenis bukan sekadar gaya-gayaan, tapi untuk menjaga kehormatan. Nggak ada ceritanya perempuan harus jadi pria cuma buat merasa "bebas".

Negara dalam sistem Islam nggak bakal membiarkan pelajar berjuang sendirian di tengah gempuran media dan lingkungan yang rusak. Negara bakal memastikan kurikulumnya bener, lingkungan sosialnya sehat, dan media nggak jualan gaya hidup bebas. Ditambah lagi, masyarakatnya juga aktif melakukan amar makruf nahi munkar—saling menjaga, bukan cuek bebek.

Kalau semua elemen ini jalan, kita nggak butuh lagi tuh razia yang kejar-kejaran di warung remang-remang. Karena generasinya sudah paham siapa diri mereka dan untuk apa mereka belajar. Ayuk wujudkan negara khilafah Islamiyah yang mampu menjaga generasi waras sesuai fitrohmya.
Wallahu a'lam.