Anak Kehilangan Zona Aman Di Tengah Kehidupan Liberalis
Anak Kehilangan Zona Aman Di Tengah Kehidupan Liberalis
Oleh. Susi Ummu Musa
Sungguh dilema, kita pikir hidup ditengah perkembangan zaman yang serba canggih ini kita akan lebih gampang dan lebih modern dalam berinteraksi dengan sosial lingkungan kita, namun faktanya saat ini ternyata ada suatu dimensi lain yang justru mengganggu anak anak kita.
Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode 2025–2026 menemukan indikasi masalah kesehatan jiwa pada hampir 10 persen anak di Indonesia. Dari sekitar 7 juta anak yang telah menjalani skrining, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mendeteksi gejala kecemasan dan depresi dalam jumlah signifikan. Hal ini disampaikan oleh Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin dalam konferensi pers yang diselenggarakan di Kantor Kemenkes, Jakarta, Senin (9/3).
Hal ini memicu tanda tanya ada apa dengan anak anak Indonesia yang terganggu mentalnya?
Gangguan mental anak bahkan mengarah ke arah yang serius yaitu bunuh diri.
Mengutip data KPAI, sejak 2023–2026 terjadi 116 kasus bunuh diri anak di Indonesia. Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi di Asia Tenggara dan fenomena ini bukan hal baru karena telah terjadi berulang.
Komisioner KPAI Diyah Puspitarini mengungkapkan bahwa sebelum anak mengakhiri hidup, biasanya terdapat perlakuan yang menyakiti dirinya. Sebagian besar kasus, menurut catatan KPAI, dilakukan dengan gantung diri.
Psikolog Shinta Sari Shaleh menilai persoalan bunuh diri anak bukan sekadar persoalan individu, melainkan persoalan sistem yang belum mampu membangun ruang aman bagi anak. Ia menekankan pentingnya edukasi nasional bagi guru dan orang tua untuk memahami tumbuh kembang anak secara utuh.
Tanpa panduan yang kuat tentang tujuan hidup, banyak dari mereka kehilangan arah ketika hidup tidak sesuai ekspektasi. Mereka mudah cemas, tertekan, bahkan terpuruk. Dalam dunia yang terus menuntut pencapaian tanpa memberi ruang untuk memahami makna hidup, banyak yang akhirnya merasa kosong, terasing, dan kehilangan pegangan.
Pendidikan sekuler liberal juga belum menunjukkan hasil dalam membentuk generasi, Kurikulum hanya berfokus pada pencapaian kognitif, namun kurang memberi ruang pada pembinaan karakter dan nilai spiritual yang menyeluruh. Akibatnya, banyak remaja tumbuh dengan identitas goyah, mudah menyerah, dan mencari pelarian instan saat menghadapi masalah.

Posting Komentar