BoP: Arsitektur Kekuasaan Global Baru
Oleh: Sin
Menanggapi dibentuknya Board of Peace (BoP), Cendekiawan Muslim Ustaz Ismail Yusanto menegaskan bahwa BoP itu bukan lembaga perdamaian, akan tetapi gaya baru dari hegemoni Amerika Serikat (AS).
“BoP hakikatnya bukanlah lembaga perdamaian melainkan sebagai arsitektur kekuasaan global baru berbasis hegemoni Amerika Serikat,” paparnya dalam rubik Hiwar Al-Wa’ie (Maret 2026).
BoP ini, tambahnya, dimandatkan oleh Resolusi DK PBB 2803 yang bertugas mengawasi gencatan senjata Gaza, mengelola rekonstruksi Gaza, dan mengatur pemerintahan transisi Gaza. Namun, dalam piagam resminya, BoP diperluas menjadi badan global penyelesaian konflik dunia dan itu melampaui isu Gaza.
Menurutnya, lahirnya BoP ini menuai banyak kritik. Seperti dinilai sebagai lembaga yang ultra-presidential globalism yaitu menjadikan Donald Trump sebagai pemegang kekuasaan absolut global.
“Donald Trump ini sebagai Chairman BoP, sebagai pemegang kekuasaan global dengan hak veto, hak penentu, hak penentu keanggotaan. Dan ini lebih otoriter dibanding Sekjen PBB,” jelasnya.
Sehingga pihak yang paling diuntungkan, tambah ustaz Ismail, adalah Amerika dan Israel. Melalui BoP, AS bisa bergerak tanpa veto Rusia-Cina. BoP juga memberikan pembenaran hukum bagi intervensi militer, penempatan pasukan, rekayasa rezim, dan pembentukan pemerintahan transisi.
Ia menjelaskan, dalam piagam BoP tidak ada kebebasan untuk Palestina. “Tidak ada kata freedom untuk Palestina, bahkan pendudukan Israel atas tanah Palestina akan dilegalkan secara struktural,” pungkasnya.

Posting Komentar