-->

Idul Fitri, Perjuangan Meraih Kemenangan Hakiki


Oleh : Nining Ummu Hanif

Idul fitri berasal dari kata Id yang secara bahasa berasal dari kata aada – ya’uudu yang artinya kembali. Hari raya disebut ‘id karena hari raya terjadi secara berulang-ulang, dimeriahkan setiap tahun, pada waktu yang sama. Sedangkan kata fitri berasal dari kata afthara, yang artinya berbuka atau tidak lagi berpuasa. Disebut Idul Fitri, karena hari raya ini dimeriahkan bersamaan dengan keadaan kaum muslimin yang tidak lagi berpuasa ramadan.

Idul fitri seringkali diartikan sebagai hari kemenangan. Kemenangan setelah selama satu bulan penuh berpuasa di bulan ramadan. Puasa tidak makan dan minum juga mengendalikan hawa nafsu sejak terbit fajar hingga waktu maghrib. Oleh karenanya biasanya kaum muslim merayakan hari kemenangan itu dengan berbagai tradisi seperti ketupat dan kue-kue khas lebaran, mudik, saling memaafkan dan baju baru.

Tidak dapat dipungkiri bahwa berbagai tradisi tersebut merupakan bagian penting dari Idul Fitri. Namun, semua itu seharusnya menjadi pelengkap, bukan pengganti makna utama. Sebab ramadan hakikatnya adalah bulan perjuangan bagi umat Islam. Idul Fitri seharusnya menjadi titik awal bukan akhir. Karena untuk menguji sejauh mana nilai-nilai Ramadan mampu bertahan dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam perjuangan bagi umat.

Saat ini kemenangan yang hakiki bagi umat Islam yaitu mengembalikan kehidupan Islam belum tercapai. Umat Islam perlu memperjuangkannya dengan usaha yang keras dan sungguh-sungguh. Apalagi saat ini kondisi umat Islam terpecah-pecah menjadi lebih dari 50 negara (nation state) bahkan beberapa diantara negara-negara muslim malah menjadi sekutu dengan negara kafir harbi.

Lemahnya Kesadaran Umat

Saat ini memang kesadaran umat Islam untuk memaknai ramadan sebagai perjuangan masih lemah karena belum sampai pada kesadaran ideologis Islam. 
Padahal untuk mencapai perubahan yang mendasar dan menyeluruh hanya akan terwujud jika muncul kesadaran ideologis. Sebabnya, hanya ideologi yang memiliki konsep yang mendasar dan menyeluruh.

Sedangkan kesadaran umat saat ini masih dominan bersifat praktis pragmatis. Hanya berdasarkan fakta dan realita yang mengikuti tren kekinian. Mengapa umat saat ini bersikap pragmatis? Karena benak umat ini sekian lama kosong dari pemikiran Islam, asas dan metode berpikir Islam yang produktif. Akibatnya, mereka tidak tahu bagaimana cara merespon fakta demi fakta yang datang silih berganti  di dalam hidupnya. (al wa’ie, 25/6/25)

Umat Islam saat ini dalam kondisi politik yang lemah. Padahal Allah Swt telah memberikan predikat sebagai sebaik-baiknya umat. Allah Swt berfirman :
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar, serta beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik." (QS. Ali Imran: 110)

Selain itu umat Islam mempunyai potensi yang besar dalam SDA, SDM dan geopolitik. Betapa tidak, sekitar 70% cadangan minyak dunia berada di negara-negara muslim. Bahkan gas bumi dan kekayaan tambang berada di mayoritas negara muslim. Sedangkan dari sumber daya manusia, umat Islam merupakan mayoritas penduduk dunia (sekitar 25% dari populasi penduduk dunia). Dari segi geopolitik, umat Islam juga mempunyai posisi strategis.

Membangun Kesadaran Politik Umat

Dengan berbagai potensi sumber daya yang melimpah dan posisi geopolotik umat Islam yang strategis maka yang wajib kita lakukan adalah melakukan ikhtiar dalam perjuangan untuk mengubah keadaan dunia yang sebelumnya jauh dari aturan Islam menuju keadaan yang tunduk dan patuh pada aturan Allah SWT. Dengan menerapkan Islam secara kaffah. 

Syariah Islam yang belum diamalkan secara kaffah dalam kehidupan kita inilah yang menyebabkan kehidupan kaum Muslim saat ini terpuruk, terjajah, hancur dan tertindas. Rasulullah saw menggambarkan umat Islam seperti tubuh yang satu, apabila satu bagian tubuh sakit, maka tubuh yang lain tentu saja akan merasakan sakit. Umat Islam juga bagaikan bangunan yang saling memperkuat satu dengan yang lain. Oleh karena itu penderitaan kaum muslim di Palestina yang dijajah dan dibantai oleh zionis Israel laknatullah, semestinya dirasakan oleh semua kaum muslim di seluruh dunia. 

Oleh karena itu perlunya partai politik Islam yang shahih, yang memprioritaskan dakwah untuk mengembalikan kesadaran politik umat. Kesadaran politik umat berdasarkan Islam akan membangun umat dengan karakteristik yang istimewa dan khas. Berupa pandangan universal terhadap kemashlahatan manusia yang ditinjau dari sudut pandang Islam. 

Berdasarkan ini umat Islam wajib menyakini bahwa hanya Islam yang bisa menyelamatkan seluruh dunia ini. Syariat Islam yang bersumber dari Allah Swt bukan aturan buatan manusia yang akalnya terbatas. Dengan dakwah Islam untuk meyakinkan bahwa mewujudkan seluruh syariah Islam secara sempurna tidak akan bisa dilakukan tanpa keberadaan daulah Islam (daulah Khilafah). Tanpa Daulah Khilafah, umat tidak akan ada yang menyatukan dan melindungi mereka.

Umat muslim seharusnya menjadikan Idul Fitri ini sebagai momentum pembuka jalan bagi “kahyr wabarokah”(kebaikan dan keberkahan) bagi kaum Muslim. Agar Idul Fitri tidak hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi benar-benar menjadi simbol kemenangan yang hakiki.

Wallahu a’lam bishawab