DARI SELAT HORMUZ KE PERSATUAN UMAT
Oleh : Evi, S.Pd
Sudah dua pekan Iran menutup selat hormuz sejak dimulainya perang pada 28 Februari 2026. Penutupan jalur jalur vital energi global ini menghambat pengiriman 20% minyak dunia. Kapal-kapal tanker yang biasanya membawa minyak dari negara teluk dilarang melintas. Alhasil sejumlah negara seperti Irak, Uni Emirat Arab, dan Kuwait terpaksa mengurangi produksinya karena tangki penyimpanan penuh, akibat berkurangnya kemampuan untuk mengekspor minyak. Kondisi ini memicu lonjakan minyak mentah dunia. Kondisi semakin runyam karena aksi berbalas serangan yang menghantam fasilitas energi di Timur Tengah. Produksi sejumlah kilang minyak dan ladang gas terganggu. Sektor energi pun kian tertekan. (Kompas ID, 21 Maret 2026).
Selat hormuz adalah check point yang cukup strategis bahkan hampir per hari 20 juta barel berlalu lalang di selat hormuz atau seperlima dari ketersediaan minyak global. Bahkan, selat hormuz itu selama ini berbatasan dengan Oman tapi selat hormuz menjadi bagian selatannya Iran sehingga kapal-kapal bisa dikuasai oleh Iran. Maka, jika selat hormus ditutup bisa dibayangkan minyak itu tidak terdistribusi, bahkan ada biaya logistik yang akan naik termasuk juga biaya inventory dan lain-lain. Akibatnya, permintaan negara-negara khususnya net impor seperti Indonesia atau juga kawasan Asia Tenggara, Singapura, Malaysia tentu akan berpengaruh dengan adanya kenaikan harga energi. Maka, bagi negara-negara yang sangat bergantung kepada BBM atau energi terutama minyak turunannya bukan crude oil nya pasti akan berdampak pada inflasi di setiap negara imported. Tentu tekanan ekonomi di negara-negara seperti Indonesia yang bergantung pada suplai energi dari selat hormuz champion satu juta barel per hari karena lifting minyak di Indonesia 600 ribu per barel per hari dengan kebutuhan 1,6 juta barel per hari.
Iran dengan luas 75 kali Israel penduduknya kurang lebih sekitar 70 juta dengan cadangan minyak terbesar ke-4 setelah Venezuela dan Saudi. Kemudian, Iran yang relatif masih utuh, belum lagi uraniumnya juga gasnya, maka itu yang membuat Iran masih bertahan oleh karenanya produksi minyaknya diserap oleh Cina dan Cina mendapatkan harga murah dari minyak Iran. Bahkan pelan-pelan diduga juga akan melakukan dedolarisasi. Tentu ini menjadi dilematis bagi AS. Kemudian adanya pengetatan diselator dan pesan-pesan minyak di Arab yang kena serangan membuat beberapa negara Arab menurunkan pasokan atau produksi minyak mereka. Yang diuntungkan dalam bisnis minyak ini pada akhirnya Trump merelaksasi atau menurunkan kadar sanksi kepada Rusia, misalnya memberikan izin kepada India untuk membeli minyak Rusia lebih banyak. Jadi Rusia malah diuntungkan dengan perang ini karena minyak dari negara Timur Tengah menjadi tidak terdistribusikan dengan maksimal. Akhirnya Eropa mendesak AS untuk mengimpor dari Rusia karena sudah terdesak.
Pelajaran strategis dari konflik AS, Israel dan Iran bagi dunia islam terkait kedaulatan persatuan dan ketahanan politik bahwa yang pertama Iran memberikan pelajaran sangat berharga jika satu negara saja bisa begitu, apalagi kalau umat Islam bersatu, bahwa teknologi itu bisa dipelajari bisa dikuasai dan juga sebenarnya bisa dibeli. Iran telah membuktikan meskipun dalam tekanan embargo. Apakah ini kemudian menjadi kemenangan hakiki berupa hancurnya Israel kemudian AS tentu masih memerlukan waktu untuk mengetahui yang sebenarnya. Maka, penting bagi kita untuk menjelaskan kepada umat betapa pentingnya persatuan untuk menghadapi makar-makar dari dunia.
Tatanan yang terbaik tidak lain berdasarkan Syariah. Iran khususnya dan dunia Islam umumnya membutuhkan tatanan terbaik yaitu Islam, termasuk di dalamnya ekonomi. Ini yang kedua bahwa dalam bidang ekonomi sanksi itu mungkin akan dialami. Maka, khilafah itu tegak soal keuangan. Penggunaan mata uang Dinar itu tidak bisa diintervensi oleh siapapun karena dia menilai dirinya sendiri negara islam tidak bergantung pada kurs mata uang asing (dolar), neraca perdagangan dan lain-lain. Dia akan ambruk jika ada penemuan emas besar-besaran dan itu tidak mungkin karena emas itu akan ditemukan pasti dalam jumlah yang terbatas. inilah cara terbaik untuk kita membangun ekonomi secara mandiri.
Allahualam a'lam bishawab.

Posting Komentar