-->

DI PERSIMPANGAN ANTARA PERDAMAIAN, SYARIAT DAN LOYALITAS UMAT


Oleh : Evi Derni S.Pd

Partisipasi Indonesia dalam dewan perdamaian (BOP) tak tanggung-tanggung. Presiden Prabowo Subianto telah menegaskan Indonesia akan melakukan pengiriman pasukan perdamaian TNI ke wilayah Gaza Palestina sebanyak 8000 personil. TNI akan ditugaskan menjadi bagian dari pasukan stabilisasi internasional di Gaza. Indonesia menerima tawaran posisi wakil komandan (deputi commander ISF). Nantinya 8000 pasukan TNI itu akan bertugas bersama pasukan stabilisasi internasional (ISF) yang anggotanya merupakan gabungan dari negara anggota dewan perdamaian (BOP) Gaza. Prabowo juga menyebut kemungkinan ada tim advance yang akan dikirim lebih dulu ke Gaza. Tim advance dikerahkan dalam jumlah yang tidak terlalu besar karena misi penugasan mereka diantaranya untuk memastikan wilayah dan menganalisis risiko selama nantinya pasukan dari TNI bertugas bersama ISF. (Detiknews, 20 Februari 2026).

Langkah Indonesia mengirimkan pasukan ke Palestina menunjukkan bahwa Indonesia adalah good boy yang selalu mengikuti arahan AS. Ketika AS membentuk BOP Indonesia bergabung dan mendukung, ketika AS melalui BOP mendirikan ISF Indonesia pun mendukung langkah AS tersebut, bahkan Indonesia termasuk negara pertama yang mengirimkan pasukan ke Palestina. Tampak bahwa keterlibatan Indonesia dalam ISF berada di bawah kerangka solusi dua negara yang akan melanggengkan penjajahan zionis atas Palestina. Tentu saja bagi pemerintah Indonesia ini merupakan hal yang sangat membanggakan, terlebih lagi ketika akhirnya pihak AS tidak sungkan-sungkan mendaulat Indonesia sebagai wakil komandan bagi pasukan ISF. Alih-alih menyadari posisinya sebagai pihak yang dimanfaatkan presiden malah menyatakan siap mengerahkan pasukan lebih banyak lagi jika memang diperlukan.

Terlebih lagi pusat komando ISF ternyata ada di wilayah zionis dan dikomandoi oleh AS sebagai sekutu utamanya. Wajar jika keberadaan pasukan Indonesia di ISF dipandang hanya menjadi alat mempercepat target pelucutan senjata para pejuang Gaza sebagai martir perlawanan. Dengan demikian AS dan zionis mendapat karpet merah untuk segera mewujudkan peta masa depan kawasan yang dimulai dengan proyek new Gaza yang sejatinya tidak lebih dari pembersihan terselubung demi perluasan kolonialisme di keseluruhan Palestina.

AS adalah negara yang secara nyata dan terang-terangan memerangi kaum Muslim di beberapa negeri muslim secara langsung sebagaimana di Irak dan Afghanistan maupun secara tidak langsung dengan memberikan dukungan politik dan persenjataan sebagaimana yang terjadi dalam penjajahan Israel di Palestina atau beberapa serangan terhadap Yaman Suriah dan sebagainya. Dengan fakta tersebut maka dalam pandangan Islam, AS dihukumi sebagai ad daulah Al kafirah Al harbiyah al muharibah bi Al fi'li, yakni negara kafir harbi yang sedang memerangi umat Islam secara nyata atau biasa disebut kafir harbi fi'lan. Telah sepakat mayoritas ulama bahwa tidak boleh bagi seorang muslim untuk berperang melawan kaum muslim bersama orang-orang kafir seperti fakta bergabungnya Indonesia ke dalam BOP dan janji pengiriman TNI sebanyak 8000 personil ke AS. Ini berdasarkan sabda nabi "barang siapa mengangkat senjata melawan kita maka ia bukanlah termasuk golongan kita." Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata jika seorang dipaksa berperang dalam perang saudara tidak dibolehkan baginya berperang melainkan harus menghancurkan senjatanya dan bersabar hingga ia terbunuh secara tidak adil. Kesimpulannya hukum menjadi tentara AS yang statusnya kafir harbi fi'lan dan secara fakta selalu memusuhi kaum muslim adalah haram. Bergabung dengan militer kafir harbi seperti ISF adalah haram termasuk kategori menyerahkan loyalitas (wala') kepada orang kafir bahkan musuh. Sebaliknya syariatnya mewajibkan setiap muslim untuk berjihad memerangi kaum kafir yang memerangi kaum muslim serta mengusir mereka yang menjajah negeri-negeri muslim.

Sungguh kita wajib berlepas diri dari pemimpin kaum muslimin yang berdiam diri dari memberikan pertolongan-Nya kepada kaum muslimin dan kita juga berlepas diri dari para ulama yang diam terhadap kezaliman pemimpin dan membenarkannya termasuk berlepas diri dari tentara muslim yang seharusnya berjihad di bawah Panji lailahaillallah tapi malah tunduk pada komando kaum kafir dan aliansi yang dipimpin kafir penjajah. 

Wallahu a’lam bishawab.