-->

Darurat Kesehatan Jiwa Anak, Dampak Sekulerime dalam Kehidupan


Oleh : Asha Tridayana

Maraknya kasus yang melibatkan anak baik sebagai pelaku maupun korban menjadi masalah serius terkait kesehatan jiwa anak. Seorang anak yang semestinya memiliki fitrah keimanan dan jiwa yang suci kini justru terjerat persoalan hidup yang kompleks dan merubah mereka menjadi pribadi yang lain. Seperti banyaknya kasus anak bunuh diri, anak menjadi pelaku atau korban bullying, kemudian menjadi pelaku atau korban pelecehan seksual, terjerumus pergaulan bebas dan lain sebagainya.

Kekhawatiran ini membuat pemerintah berupaya melakukan langkah strategis untuk menanggulangi bertambahnya jumlah kasus. Apalagi risiko dan dampaknya bersifat multisektor yang tidak dapat diselesaikan oleh pihak tertentu maka diperlukan koordinasi dari semua bidang. Selain itu, kebijakan yang dibuat juga mesti komprehensif dan diimplementasikan secara terintegrasi. Hal ini disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno (www.hukumonline.com 06/03/26).

Tepatnya pada Kamis, 05/03/26 di Jakarta, sembilan Kementerian/Lembaga menandatangani Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Kesehatan Jiwa Anak yakni Menteri Kesehatan (Menkes), Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Menteri Sosial (Mensos), Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Menteri Agama (Menag), dan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN dan perwakilan Kapolri (m.antaranews.com 05/03/26).

Sementara itu, Menteri PPPA, Arifah Fauzi telah melakukan Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) Tahun 2024 ditemukan fakta 7,28 persen anak mengalami masalah kesehatan jiwa yang di antaranya juga mengalami kekerasan fisik, emosional, maupun seksual dalam satu tahun terakhir. Kemudian dari Menkes, Budi Gunadi menjelaskan berdasarkan data healing119.id dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), terdapat empat faktor utama masalah kejiwaan anak yakni konflik keluarga sebanyak 24-26 persen, masalah psikologis 8-26 persen, perundungan 14-18 persen, serta tekanan akademik 7-16 persen. Ditambah data Cek Kesehatan Gratis (CKG) menunjukkan anak dan remaja berpotensi mengalami gejala depresi dan kecemasan sekitar lima kali lebih tinggi daripada usia dewasa dan lansia (nasional.kompas.com 07/03/26).

Sangat memprihatikan, anak sebagai generasi muda justru menanggung masalah hingga berdampak pada kesehatan jiwanya. Krisis ini meningkat setiap tahun dan tidak hanya terjadi di kota besar, wilayah pelosok pun telah banyak kasus serupa. Merebaknya masalah kesehatan jiwa anak yang mendasari berbagai penyimpangan perilaku anak disebabkan oleh banyak faktor. Tidak hanya faktor internal tapi juga kondisi lingkungan hidup dan sistem yang menanunginya yakni sistem sekuler liberal.

Sistem yang berasaskan pemisahan aturan agama dari kehidupan ini menjadikan setiap individu memiliki kebebasan untuk mengatur hidupnya sendiri. Termasuk dalam berperilaku sekalipun dapat merugikan dan menyengsarakan orang lain. Sistem yang meniscayakan timbulnya beragam kerusakan karena aturan yang berlaku berasal dari akal manusia yang terbatas dan tentunya sesuai kepentingan setiap individu bukan demi seluruh umat manusia.

Ditambah lagi adanya hegemoni media global yang memang saat ini dipegang oleh negara adidaya pengemban sistem sekuler liberal. Maka nilai-nilai sekuler semakin masif menyebar ke seluruh penjuru dunia. Sementara paradigma dan nilai-nilai Islam semakin tergerus di tengah masyarakat. Menjadikan pemahaman kaum muslim terkait syariat Islam bertambah kabur bahkan terkubur seiring berjalannya waktu. Memang inilah yang menjadi tujuan negara Barat sebagai musuh Islam jelas menginginkan umat Islam terperosok dalam kebodohannya.

Tidak cukup melalui media global, sistem sekuler liberal juga menyasar pendidikan dasar baik level keluarga, sekolah hingga lingkungan masyarakat. Semestinya menjadikan akidah dan syariat Islam sebagai pondasi justru beralih pada tolok ukur materi yang menjadi landasan kesuksesan. Terlebih dapat dengan mudah menghalalkan cara demi mencapai tujuan yang diinginkan sementara saat tidak mampu mencapainya dapat mengganggu kondisi kesehatan jiwa dan kehilangan jati dirinya.

Berdasarkan fakta tersebut seharusnya sistem sekuler kapitalis segera dicampakkan agar masyarakat terbebas dari belenggu kerusakan dan menjadikannya musuh bersama seluruh umat. Dari sini dapat mengarahkan perjuangan dakwah agar terus berupaya mewujudkan perubahan hakiki yakni penerapan sistem Islam sebagai satu-satunya sistem yang dapat membawa keberkahan hidup.

Terlebih saat sistem Islam diterapkan dalam level negara sehingga negara memiliki tanggung jawab sebagai rain dan junnah atau sebaik-baik pengurus umat. Senantiasa memastikan anak dan keluarga terlindungi dari kerusakan nilai sekuler liberal kapitalistik. Negara juga berwenang membuat kebijakan yang sejalan dengan syariat Islam sehingga setiap individu tersuasanakan dengan Islam dalam seluruh aspek kehidupan.

Hal ini terintegrasi secara optimal baik sistem pendidikan, sistem kesehatan dan sistem ekonomi. Melalui pendidikan akan melahirkan individu atau generasi dengan kepribadian Islam yang kuat dan tangguh. Kemudian jaminan sistem kesehatan mampu mengatasi jika memang terdapat individu yang benar-benar mengalami gangguan fisik maupun kejiwaan. Ditambah dukungan sistem ekonomi yang menopang anggaran untuk memastikan mekanisme seluruh aspek tercapai sesuai dengan syariat Islam.

Demikianlah saat sistem Islam diemban oleh negara. Posisi negara benar-benar memahami perannya sebagai periayah umat sehingga terjamin kemaslahatan umat seluruhnya.

Wallahu'alam bishowab.