-->

HIDUP, MASALAH, dan ISLAM KAFFAH


Ummu Aqeela

Jembatan Kembar Cangar di Kota Batu kembali menjadi sorotan usai seorang pemuda asal Lumajang ditemukan tewas di dasar jurang. Polisi mendalami dugaan bunuh diri, sementara kesaksian petugas Tahura mengungkap momen terakhir korban sebelum tragedi terjadi. Mayat seorang pria kembali ditemukan di bawah Jembatan Kembar Cangar, Kota Batu, Kamis (23/4/2026) pagi. Penemuan ini menggegerkan warga karena menjadi kasus kedua dalam kurun kurang dari sebulan di lokasi yang sama.

Dari informasi yang beredar, selain jenazah di dasar jurang, ditemukan pula sandal di bibir jembatan serta satu sepeda motor terparkir yang diduga milik korban. Temuan ini memunculkan dugaan korban melompat dari jembatan. Belakangan, korban diketahui berinisial DPW (24), warga Kecamatan Candipuro, Lumajang. Kasat Reskrim Polres Batu AKP Joko Suprianto membenarkan penemuan mayat tersebut. Polisi langsung melakukan olah tempat kejadian perkara dan penyelidikan lebih lanjut.

Peristiwa ini menambah daftar kejadian serupa di lokasi yang sama. Dalam waktu kurang dari satu bulan, Jembatan Cangar kembali menjadi lokasi dugaan bunuh diri. Kasus sebelumnya bahkan sempat viral di media sosial dan menarik perhatian publik secara luas. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran akan meningkatnya kasus serupa di lokasi yang sama.

*Faktor Penyebab Bunuh Diri*

Peningkatan angka bunuh diri sesungguhnya menggambarkan betapa buruknya mental masyarakat yang terbentuk. Mental yang lemah menandakan bahwa masyarakat tidak cukup kuat menghadapi tantangan dan ujian hidup.

Munculnya gangguan kesehatan mental merupakan faktor internal yang di pengaruhi cara pandang tertentu, yaitu pandangan hidup sekuler yang menjauhkan agama dari kehidupan. Akibatnya, masyarakat mengalami krisis identitas sebagai hamba, serta krisis keimanan yang membuat seseorang mudah goyah, gampang tersulut emosi, nafsu sesaat serta pikiran yang kalut. Inilah penyebab masyarakat kita sakit, yaitu lemahnya iman sehingga mengganggu kesehatan mental.

Selain itu, gangguan mental terjadi juga tidak bisa dilepaskan dari sistem saat ini yang menaungi yaitu kapitalisme. Kapitalisme memandang kehidupan berjalan dengan sisi hidup materialistis. Standar kebahagiaan diukur dengan materi. Kemuliaan dan kemapanan hidup juga diukur dengan segala sesuatu yang bersifat kemewahan, dan semua standart itu disodorkan tanpa jeda lewat media-media yang saat ini mudah diakses lewat gawai ditangan kita. Dengan gaya hidup seperti itu mendorong individu untuk melakukan hal yang dilarang oleh Allah, tidak peduli halal dan haram. Sistem kapitalisme sekularisme tidak menjadikan individu menjauh dari rasa bersyukur, bermental kuat, serta sabar dalam menjalani kehidupan.

*Islam adalah Solusi*

Tidak ada manusia hidup tanpa masalah dan tidak ada masalah tanpa ada solusinya. Dan bunuh diri bukan solusi untuk menyelesaikan masalah. Tindakan ini hanya akan menambah dosa dan membawa penderitaan bagi diri sendiri, keluarga, dan orang-orang di sekitar. Islam menawarkan solusi yang lebih baik untuk menghadapi berbagai rintangan dan kesedihan dalam hidup.

•Pertama, menanamkan akidah Islam sejak dini pada anak-anak. Dengan penancapan akidah yang kuat, setiap anak akan memahami visi dan misi hidupnya sebagai hamba Allah Taala hingga dia dewasa, yakni beribadah dengan menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Prinsip ini harus dipahami bagi seluruh keluarga muslim sebab orang tua adalah pendidikan pertama bagi anak-anaknya. Negara akan membina dan mengedukasi para orang tua agar menjalankan fungsi pendidikan dan pengasuhan sesuai akidah Islam.

•Kedua, menerapkan kurikulum pendidikan berbasis akidah Islam. Sejarah Islam telah membuktikan bahwa kurikulum pendidikan Islam mampu melahirkan generasi kuat imannya, tangguh mentalnya, dan cerdas akalnya. Negara akan mengondisikan penyelenggaraan pendidikan yang bertujuan untuk membentuk sya’siyah Islam terlaksana dengan baik. Generasi harus memiliki pola pikir dan pola sikap yang sesuai syariat Islam. Dengan begitu, mereka akan memiliki bekal menjalani kehidupan dan mengatasi persoalan yang melingkupinya dengan cara pandang Islam.

•Ketiga, peran negara. Remaja dan pemuda merupakan salah satu kelompok yang paling rentan terhadap perilaku bunuh diri. Salah satu hal yang juga harus diperhatikan dari kasus bunuh diri adalah terjadinya copycat suicide, tindakan bunuh diri yang dilatarbelakangi ingin meniru kasus bunuh diri sebelumnya. Seringkali mereka mengalami krisis identitas sehingga tidak mampu menyaring mana yang harus jadi panutan dan mana yang tidak layak dijadikan teladan.

*Peran Negara dalam Islam*

Pada era digital, internet telah menjadi sumber utama informasi yang memberikan penggambaran tidak pantas mengenai bunuh diri dan masalah kesehatan mental. Apalagi jika melihat tayangan/tontonan yang mengangkat perihal bunuh diri. Media berperan sangat signifikan dalam menciptakan lingkungan kondusif bagi pertumbuhan kesehatan jiwa tiap individu. Hal ini membutuhkan peran negara dalam melakukan kontrol dan pengawasan terhadap media dalam menyebarkan informasi dan tontonan. 

Melalui media, negara harus menciptakan suasana iman, tontonan yang menuntun pada ketaatan, bukan yang mengarah pada kemaksiatan. Sebab, Islam memandang bahwa menjadi tanggung jawab negara mengurus dan menjaga rakyatnya, baik fisik maupun psikisnya. Kesejahteraan bukan sebatas terpenuhinya kebutuhan jasmani, melainkan juga terpeliharanya kesehatan mental rakyat.
Sebagaimana hadits Rasulullah saw., “Imam adalah raa’in (gembala) dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR Bukhari).

Dalam negara yang berlandaskan Islam kafah niscaya akan membentuk pondasi keimanan yang kokoh bagi setiap individu. Sehingga takwa dan tawakal menjadi modal besar dan pedoman utama dalam mengarungi kehidupan dunia. Islam juga menegaskan bahwa kebahagiaan hakiki seorang Muslim terletak pada keridaan Allah SWT. Dengan begitu, masalah bunuh diri akan tuntas karena setiap individu muslim dapat memahami hakikat dan jati dirinya sebagai hamba dengan menjadikan Islam sebagai the way of life. 

Ketika Islam menjadi jalan hidup bagi setiap muslim, tidak akan ada generasi yang sakit mentalnya, mudah menyerah, atau gampang putus asa. Mereka akan menjadi generasi terbaik dengan mental sekuat baja dan kepribadian setangguh para pendahulunya. Namun semua ini hanya bisa diraih, ketika negara yang berlandaskan islam kaffah sudah berdiri. Karena dengannya tidak hanya nyawa kita yang terjaga, namun akal serta keimanan kita.

Wallahu’alam bishshowab.