PRIHATIN MARAKNYA PENGHINAAN PADA GURU
Oleh : Ummu Hurairah
(Ibu Peduli Umat)
Memprihatinkan apa yang terjadi di dunia Pendidikan saat ini. Guru yang seharusnya dihormati karena tugas mulianya mencerdaskan generasi penerus, tapi saat ini direndahkan oleh para murid-muridnya. Ada guru yang dihina, dipukul oleh siswa, sampai diancam oleh orang tua siswa. Parahnya lagi bahkan ada yang sampai dilaporkan ke ranah hukum karena memberi sanksi disiplin. Dampaknya jelas memperburuk proses Pendidikan yang ada, karena guru jadi mengalami tekanan psikologis sehingga enggan menegur murid. Ada pula yang memilih diam demi menghindari konflik.
Sebuah video yang viral di media sosial menunjukkan sikap tak sopan sejumlah siswa pada seorang guru di dalam kelas. Mereka mengejek dan melakukan gestur acungan jari tengah yang merupakan tindak melecehkan. Ini terjadi di SMAN 1 Purwakarta (www.detik.com, Sabtu 18 April 2026) (1). Walaupun guru yang menjadi korban penghinaan tersebut, Ibu guru Syamsiah, yang merupakan pengajar mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) di SMA Negeri 1 Purwakarta ini telah memilih memaafkan siswa yang mengolok-oloknya; tetap tragedi ini mencoreng dunia Pendidikan saat ini (www.bandung.kompas.com, Senin 20 April 2026) (2). Syamsiah, atau yang akrab disapa Bu Atun, menyatakan tidak akan membawa kasus pelecehan etika ini ke ranah hukum. Cukup baginya melihat para siswa menangis dan menyesali perbuatan mereka sebagai bukti bahwa pembinaan karakter sedang berjalan.
Tragedy ini mempersuram kondisi dunia Pendidikan saat ini, sontak menuai kecaman karena dinilai mencerminkan krisis akhlak anak didik saat ini. Berbagai kejadian tersebut tidak lagi sebatas kasuistik, tapi menjadi pola yang berulang; yang menunjukkan memudarnya penghormatan terhadap guru sebagai pendidik. Padahal seharusnya guru ditempatkan pada posisi terhormat, karena guru bukan sebatas menstransfer ilmu; melainkan bertanggungjawab sebagai pendidik yang pembentuk kepribadian, penuntun arah hidup, bahkan sering disebut sebagai "orang tua kedua" untuk anak. Pergeseran posisi guru ini menuntun logika kita untuk mempertanyakan, apa yang membuat posisi guru semakin direndahkan?
Penyebab tragedi ini terjadi karena paradigma pendidikan saat ini berkerangka sekuler kapitalistik. Pendidikan sebatas untuk memenuhi kebutuhan pasar, yaitu menghasilkan tenaga kerja yang kompetitif, adaptif, dan produktif secara ekonomi. Indikator eberhasilan diukur melalui angka, nilai, peringkat, sertifikasi, dan serapan kerja. Sedangkan karakter, adab, akhlak, sopan santun; hanya menjadi pelengkap kurikulum sehingga tidak dianggap penting. Sekularisme kapitalistik juga memisahkan agama pendidikan. Dampaknya akhlak dan adab terpinggirkan, karena benar dan salah menjadi relatif. Menghormati guru tidak lagi dianggap sebagai akhlak dan adab yang wajib dilakukan, tapi sebatas norma sosial yang bisa dinegosiasikan; yang saat dianggap tidak menguntungkan akan mudah dilanggar.
Sekuler kapitalisme juga menggeser relasi pendidikan menjadi relasi dagang, di mana siswa dan orang tua siswa sebagai "konsumen", sedangkan sekolah dan guru sebagai "penyedia jasa"; sehingga guru dituntut untuk memuaskan "pelanggan". Ketika terjadi ketidakpuasan pada siswa; baik berupa teguran, nilai, atau sanksi; reaksi yang muncul bisa berupa protes keras, bahkan kekerasan pada guru. Dampaknya guru kehilangan otoritas moralnya dan perlahan berubah menjadi pihak yang harus berhati-hati agar tidak "menyinggung" pihak yang dilayani. Paradigma sekularisme kapitalisme telah melahirkan generasi yang cerdas secara akademik, tetapi tak bermoral. Terbiasa menuntut hak, tapi tidak dilatih untuk menunaikan kewajiban. Sibuk menuntut ketidaknyamanan diri, tapi tidak berempati terhadap orang lain. Maka tak heran saat ini marak terjadi penghinaan dan kekerasan terhadap guru.
Berbeda dengan Islam. Dalam perspektif Islam, pendidikan bertujuan untuk melahirkan insan yang bertakwa, bukan sebatas transfer ilmu. Pendidikan harus mampu menjadikan anak didik paham bahwa Allah sebagai pusat orientasi hidupnya. Dari sinilah lahir motivasi besar untuk memuliakan guru, semata-mata karena untuk menunaikan perintah Allah. Dalam Islam, guru memiliki kedudukan yang tinggi. Selain sebagai pengajar (mu’allim), guru juga sebagai pembina (murabbi) dan pencetak kepribadian Islam.
Para ulama klasik menekankan bahwa keberkahan ilmu sangat bergantung pada adab murid terhadap gurunya. Seperti ada kisah seorang murid rela menunggu lama di depan rumah gurunya hanya untuk meminta izin belajar. Tidak berani mengetuk pintu karena khawatir mengganggu. Ada juga kisah murid yang tidak berani duduk lebih tinggi dari gurunya, atau tidak berbicara sebelum diizinkan gurunya. Imam Malik pun, seorang ulama besar, pernah berkata bahwa ia mempelajari adab selama bertahun-tahun sebelum mendalami ilmu.
Penghormatan pada guru Ini bukan bentuk kultus individu, tapi bentuk penghormatan pada guru sebagai sumber ilmu dan jalan untuk mendapatkannya. Semua adab ini dilakukan sebagai pancaran kekuatan akidah, sebagai kesadaran sebagai hamba Allah, bahwa menghormati guru adalah kewajiban yang ditetapkanNya sehingga harus ditunaikan. Maka dibutuhkan perubahan paradigma Pendidikan, dari sekuler kapitalistik menjadi Islam. Maka butuh Islam diterapkan secara sempurna (kafah) sebagai pondasi penerapan Pendidikan berdasakan akidah Islam, yang hal ini hanya bisa diwujudkan melalui tegaknya institusi negara khas Islam yang menjadi satu-satunya yang bisa menjamin penjagaan terhadap penerapan Islam kafah, yaitu Khilafah. Perincian yang harus dilakukan Khilafah yaitu :
Pertama, pendidikan harus dikembalikan pada tujuan utamanya, yaitu untuk membentuk kepribadian yang berlandaskan akidah. Yaitu dengan cara menanamkan kepribadian Islami pada anak didik, dengan membentuk pola pikir (akliah) Islami dan pola jiwa (nafsiah) Islami. Hal ini dengan cara menanamkan ilmu-ilmu Islam berupa akidah, pemikiran, dan perilaku islami. Maka kurikulum Negara Khilafah disusun untuk mewujudkan tujuan tersebut.
Kedua, peran guru dikembalikan sebagai pencetak kepribadian Islam, sehingga harus diberi ruang dan kepercayaan penuh untuk membimbing, menegur, dan mendisiplinkan murid dalam koridor sesuai syariat. Khilafah sebagai negara dan masyarakat berkewajiban melindungi posisi guru yang seperti ini, bukan justru melemahkannya. Seperti arahan dari Allah SWT dalam firman-Nya :
"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatirkan terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. " (Terjemah Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 9).
Ketiga, Khilafah akan menjamin keluarga akan berperan sentral dalam pendidikan karakter. Rasulullah bersabda :
"Muliakanlah anak-anakmu, perbaikilah adab mereka." (HR Ibnu Majah).
Dalam Islam, orang tua adalah madrasah pertama bagi anak, sehingga anak akan menghormati guru karena melihat teladan dari orang tuanya yang juga menghormati guru. Konsistensi antara rumah, sekolah, masyarakat, dan pengkondisian system yang diterapkan Khilafah menjadi kuncinya. Dalam hal ini, Khilafah akan memastikan setiap orang tua paham “tarbiyal aulad” yaitu cara mendidik anak sesuai Islam.
Keempat, budaya masyarakat, media, lingkungan sosial, dan kebijakan publik harus mendukung terbentuknya penghormatan pada guru; yang akan dikawal ketat oleh Khilafah. Ketika guru dihargai secara sosial dan dilindungi secara sistemis, posisi mereka akan kembali kuat dan menjadi terhormat di mata peserta didik.
Wallahualam Bisawab
Catatan Kaki :
(1) https://www.detik.com/jabar/berita/d-8449993/viral-siswa-acungkan-jari-tengah-dan-lecehkan-guru-di-purwakarta?page=2
(2) https://bandung.kompas.com/read/2026/04/20/125016178/ibu-guru-syamsiah-di-purwakarta-tak-tahu-direkam-saat-diolok-siswa-sedih?utm_source=Various&utm_medium=Referral&utm_campaign=traffic_share-3b738987bdc8bd9169c19aefe54b5d25

Posting Komentar