Surat Pilu Siswa Tak Mampu Beli Buku
Oleh : Fatimah Abdul (Aktivis Muslimah)
Inilah jeritan hati dari anak malang yang tidak mampu untuk bertahan menghadapi gempuran hidup yang makin kejam. Seolah dunia ini diam atas keluhannya yang tak dapat didengar. Adalah seorang siswa SD kelas IV di Kabupaten Ngada Nusa Tenggara Timur, yang tewas mengenaskan karena bunuh diri akibat tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan sekolahnya.
Melalui secarik kertas dia berpesan kepada mama, “Surat untuk mama Reti. Mama pelit sekali. Mama baik sudah, kalau saya meninggal mama jangan nangis. Mama saya meninggal, jangan menangis, juga jangan cari saya. Selamat tinggal mama.”
Peristiwa ini tentu saja menjadi cambuk bagi kita semua untuk lebih memahami bahwa negeri ini tidak sedang baik-baik saja. Bagaimana bisa seorang anak yang mungkin saja masih belum baligh mampu memikirkan jalan keluar yang sedemikian rupa? Benarkah ini semua disebabkan oleh faktor ekonomi, atau karena pola asuh yang salah ataukah dia hanyalah korban perundungan yang akhir-akhir ini marak terjadi di berbagai sekolah di Indonesia? Lantas bagaimana cara mengakhiri fenomena bunuh diri pada remaja dan anak yang semakin marak terjadi? Pertanyaan ini sungguh harus mendapatkan jawaban supaya kejadian yang sama tidak terulang lagi dan lagi.
Mendapatkan pendidikan adalah hak setiap anak. Ini merupakan suatu hal yang harus dipenuhi. Oleh siapa? Tentu saja pemenuhan ini adalah tanggungjawab negara bukan? Namun jika kasus seperti ini terus terjadi maka perlu adanya evaluasi mengapa kasus seputar anak terus saja terjadi.
Sering terjadinya kasus semacam ini adalah bukti bahwa hak seluruh anak untuk mendapatkan akses atas sekolah gratis tidak terpenuhi dan tidak dijamin oleh negara. Para pejabat terkait tidak bekerja dengan maksimal untuk mengupayakan segala sesuatunya berjalan dengan semestinya. Ini adalah bukti bahwa negara telah lalai dalam memelihara kebutuhan dasar rakyat miskin dan anak-anak terlantar baik dari sisi pangan, pendidikan, keamanan dan kesehatan mereka.
Fakta yang terjadi dalam sistem pendidikan yang notabene bukan dari islam adalah bahwasanya sistem pendidikan yang kita adopsi ini berasal dari sistem pendidikan kapitalistik. Sistem ini sangatlah membebani hidup masyarakat. Bagaimana tidak, sistem yang dianggap sebagai buah dari peradaban modern telah menjadikan sekolah dan dunia kesehatan sebagai ladang bisnis, dikomersialkan serta membuat kehidupan masyarakat semakin sulit. Sehingga, beban biaya sekolah yang tinggi tersebut berakibat fatal bagi siapa saja yang tidak mampu secara ekonomi. Memicu meningkatnya kasus bunuh diri pada kalangan anak-anak dan remaja yang rentan dari segala sisi.
Untuk mencegah kasus bunuh diri yang terjadi pada remaja bukanlah perkara yang mudah. Akan tetapi dalam islam tidak ada masalah yang tidak bisa dipecahkan. Semua problematika umat manusia pasti ada jalan keluar. Dalam persepsi islam, hak anak atas pendidikan dalah tanggung jawab umum negara. Biaya pendidikan tidak boleh dibebankan kepada orangtua wali murid melainkan negara. Islam mengatur segala bentuk perlindungan dan keamanan anak dalam keluarga serta lingkungan sosialnya. Sementara itu pembiayaan pendidikan dan kesehatan melalui mekanisme Baitul Mal yang mana baitul mal ini memiliki sumber pemasukan yang bervariasi dan sangat banyak. Salah satunya adalah hasil pengelola Sumber Daya Alam yang berlimpah, sehingga mampu untuk membiayai kehidupan warga negaranya. Dengan demikian, negara mampu untuk menjamin kebutuhan hidup rakyatnya baik pangan, sandang, dan papan serta kebutuhan kolektif mereka yaitu pemenuhan atas jaminan keamanan, pendidikan, kesehatan dan fasilitas umum. Untuk itu kita membutuhkan institusi negara yang menerapkan syariat Islam dalam bingkai khilafah yang akan mewujudkan diterapkannya hukum-hukum islam sehingga aturannya dapat menyelesaikan masalah bunuh diri pada anak-anak dan remaja serta problematika seluruh umat manusia. Menciptakan kehidupan yang lebih baik untuk generasi yang akan datang yang penuh dengan kedamaian dan kesejahteraan. Wallahu'alam biisshaawab. []

Posting Komentar