KHILAFAH, MEMBEBASKAN PALESTINA DARI PENJAJAHAN SECARA NYATA
Oleh : Ummu Aqeela
Hamas meminta Dewan Perdamaian bentukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump segera membuktikan kegunaannya untuk Gaza. Langkah pertamanya adalah segera menghentikan rangkaian pelanggaran gencatan oleh Israel.
Pernyataan Hamas disiarkan pada Jumat (23/1/2026) dini hari. Beberapa sebelum itu, di Swiss, perwakilan sejumlah negara meneken piagam pembentukan Dewan Perdamaian. Tak ada sekutu AS di Eropa dan Amerika yang mau bergabung di dewan tersebut.
Tantangan yang kita tahu tidak akan bisa dibuktikan, karena damai versi mereka yang ada didalamnya (BOP) adalah jalan damai yang semu belaka. Tidak setiap jalan yang diberi nama “damai” benar-benar menuju keadilan. Sejarah menunjukkan, penjajahan kerap dibungkus dengan istilah-istilah indah agar ketidakadilan tampak dapat diterima. Karena meskipun berlabel “peace”, istilah perdamaian, stabilitasi, dan rekonstruksi sering menjadi kedok proyek penjajahan gaya baru, sebagaimana yang terjadi di Palestina.
Sejarah kerap berulang dengan wajah baru ketika penjajah tampil sebagai “penjaga perdamaian” untuk melanggengkan kezaliman. Board of peace (BoP) digagas dan dipimpin oleh Amerika Serikat (AS), negara dengan rekam jejak panjang, invasi, kudeta dan penghancuran negeri-negeri Muslim seperti Afganistan, Irak, Libya, Suriah, dan Sudan. Sungguh berharap kedamaian dari mulut penjajah adalah kebodohan yang nyata.
Board of Peace (BoP) adalah bentuk lain dari hubungan internasional ala negara kapitalis. Sebuah hubungan yang tidak pernah tulus untuk menegakkan keadilan sejati untuk membela yang tertindas. Tujuannya satu, yaitu untuk melanggengkan pengaruh, mengamankan kepentingan, dan menjadi polisi dunia. Setiap lembaga, dewan yang mereka bentuk, entah itu PBB, NATO, atau kini Board of Peace adalah alat untuk mencapai tujuan itu.
BOP bukan organisasi untuk menghentikan genosida, tapi proyek lanjutan dari genosida masal, yaitu mengambil alih wilayah yang sudah rata, dibangun ulang dengan dasar ekonomi, bukan penghentian perang yang berdasar dari kemanusiaan. Semua hanya dilihat dari aspek bisnis, dengan adanya New Gaza jelas sekali tujuan perang ini hanya untuk mengambil alih wilayah, dengan dalih memberantas teroris yang ada di Gaza.
Dalam pandangan Islam, masalah Palestina bukan konflik biasa yang cukup diselesaikan dengan dialog. Palestina adalah persoalan penjajahan yang nyata. Selama pendudukan masih berlangsung, selama tanah dirampas dan rakyat diusir, maka “perdamaian” yang ditawarkan hanyalah ilusi.
Islam menegaskan bahwa keadilan adalah syarat utama perdamaian. Tanpa keadilan, perdamaian hanya menjadi alat untuk melanggengkan kezaliman. Karena itu, Palestina tidak membutuhkan BoP atau rencana-rencana yang disusun oleh negara adidaya yang sejak awal berpihak pada penjajah. Yang dibutuhkan Palestina adalah penghentian pendudukan dan pemulihan hak-hak dasarnya sebagai bangsa yang merdeka.
Islam juga mengajarkan bahwa umat tidak boleh menjalin kerjasama politik yang menguatkan pihak-pihak yang secara nyata menzalimi kaum Muslim. Seharusnya, negeri-negeri Muslim mengambil jalan yang independen dan bermartabat, menyatukan suara politik, menggunakan pengaruh diplomatik dan ekonomi secara kolektif, serta menolak segala skema yang menjadikan Palestina sebagai korban kompromi global. Solidaritas tidak cukup diucapkan, tapi ia harus diwujudkan dalam pilihan kebijakan yang berpihak.
Maka dari itu, bersatunya kekuatan umat Islam tanpa terbatasi oleh sekat-sekat kepentingan nasional, hanya mungkin terjadi ketika ada Daulah Khilafah. Sebab, sekali lagi. Secara konsep, Khilafah adalah negara yang di-setting dengan sistem demikian. Khilafah satu-satunya pelindung umat yang hakiki, yang bakal melancarkan jihad terhadap siapa saja yang memusuhi Islam dan kaum muslim.
Dengan kekuatan politik Khilafah, personel yang memiliki kesadaran Islam yang sahih dan semangat jihad nan membara, juga persiapan militer yang optimal, serta pendanaan yang mencukupi, Khilafah akan siap menggelorakan jihad fisabilillah membebaskan Palestina di bawah komando sang Khalifah. Pembebasan Palestina tidak lagi berupa retorika basi, tetapi menjadi realitas pasti. Wallahua'lam bishshawab.

Posting Komentar