-->

PENGKHIANATAN DI BALIK KATA “DAMAI”


Oleh : Irawati Tri Kurnia
(Ibu Peduli Umat)

Viral dan heboh warga Indonesia dan warganet menanggapi Keputusan presiden Prabowo untuk bergabung dengan “Board of Peace” (Dewan Perdamaian Gaza) yang dibentuk oleh presiden Amerika Donald Trump, dengan dalih untuk mempercepat penyelesaian konflik (www.tirto.co.id, Jumat 23 Januari 2026) (1) . Sontak banyak suara protes dari warganet. Terlihat dari banyak akun di media sosial yang menyuarakan keberatan tentang hal ini. Menteri Israel menyerukan untuk menghancurkan seluruh Gaza dan mengusir paksa warganya (www.tribunnews.com, Kamis 22 Januari 2026) (2).  

Amerika pun sudah menyiapkan pembangunan New Gaza, wilayah penuh pencakar langit dan futuristic, tapi tanpa melibatkan warga Gaza sama sekali (www.bbc.com, Jumat 23 Januari 2026) (3), di mana proyek ini ada unsur nepotisme pihak Trump, yang menyerahkan pada menantunya Jared Kushner dalam pengerjaannya (www.mediaindonesia.com, Jumat 23 Januari 2026) (4). Terlihat sekali ambisi Amerika dalam pembentukan Board of Peace ini (BOP/Dewan Perdamaian Gaza) untuk mengendalikan Gaza secara total, dengan dalih PBB telah gagal untuk menengahi konflik di sana (www.kompastv.com, Jumat 23 Januari 2026) (5).

Amerika dan Israel berambisi untuk menguasai Gaza dan menghilangkan jejak genosida dengan membangun New Gaza. Semua ini dilakukan untuk memperkuat posisi kendali politik internasional, salah satu caranya untuk pembentukan BOP ini dengan merangkul negeri-negeri muslim, termasuk Indonesia. Semua itu dilakukan sebagai siasat untuk menguasai dan mengendalikan Gaza secara total. Amerika sebagai negara adidaya, telah menahbiskan dirinya sebagai polisi dunia; tapi bukan untuk kedamaian dunia, tapi demi ambisi pribadinya. Tagline “America Great Again” berusaha dia wujudkan dengan menghalalkan segala cara, tak peduli itu menerjang norma HAM (Hak Asasi Manusia) yang selama ini diperjuangkannya. Politik luar negeri khas Amerika adalah “imperialisme” alias penjajahan dalam segala bidang. Amerika memiliki rekam jejak panjang sebagai penjajah besar; dengan melakukan sejumlah invasi, kudeta dan penghancuran banyak negeri-negeri muslim; seperti Afganistan, Irak, Libya, Suriah, dan Sudan. Indonesia terjajah secara politik dan ekonomi, Palestina terjajah secara fisik melalui anteknya yaitu Israel. Inilah potret buram ideologi kapitalisme yang diemban Amerika, menghalalkan segala cara.

Kapitalisme juga membuat umat Islam terpecah menjadi banyak negara dalam ikatan nasionalisme dan bentuk negara “nation state”. Ini membuat mereka semakin lemah dan mudah diadu domba, juga mudah didikte oleh negara adidaya. Tidak ada lagi ruang untuk menjalin persaudaraan sesama saudara seakidah Islam, alias ukhuwah Islamiyah terkoyaklah sudah. Ini mewakili sikap Indonesia yang seharusnya berpihak pada kepentingan saudara seakidahnya umat Islam Palestina yang tinggal tersisa di Gaza, tapi malah bergabung dengan BOP buatan Amerika yang masih bersimbah darah umat muslim Gaza. Dan dengan dinginnya presiden Prabowo menjawab saat ditanya alasan bergabung dengan BOP : “Perdamaian akan terjadi jika kita bisa menjamin keamanan Israel”, ucapan yang melukai hati seluruh umat Islam, dan merupakan bentuk pengkhianatan pada Islam dan kaum Muslimin. Ucapan yang terlontar hanya karena takut jika Amerika akan lebih menekan pemerintah Indonesia secara politik dan ekonomi. Tidak tampak sedikit pun rasa percaya diri untuk mengambil sikap yang berbeda. Tak peduli perasaan rakyatnya yang mayoritas muslim, yang mempunyai keinginan kuat untuk membela saudara seakidah di Palestina dan ingin memperjuangkan kemerdekaan mereka, bebas dari penjajahan Israel dan Amerika sebagai pembela terkuat Israel. BOP sejatinya alat penghancur Palestina, dibalut kata manis “Peace”; yang sejatinya hanyalah perdamaian semu. Allah telah mengingatkan kita :
“Allah sekali-kali tidak akan pernah memberikan jalan bagi kafir untuk menguasai kaum Mukmin (Terjemah Al-Qur’an Surat An-Nisa’ [4]: 141).

Ada beberapa faKtor yang perlu diwaspadai berkaitan dengan BOP ini :

Pertama: BOP merampas hak rakyat Palestina, karena Palestina akan dikelola oleh pihak asing. Ini adalah penjajahan gaya baru.

Kedua: BOP menuntut pelucutan senjata warga Gaza, termasuk Hamas; dengan alasan stabilisasi, rakyat yang dijajah diminta menyerahkan alat perlawanannya. Tapi anehnya, pihak penjajah tentara Israel tetap bersenjata lengkap dan siap membunuh warga Palestina kapan saja. Jaminan keamanan Gaza diserahkan pihak asing, yaitu pihak musuh. Ini jelas melanggar perintah Rasulullah saw. telah bersabda:
“Siapa saja yang terbunuh karena membela hartanya maka ia syahid. Siapa saja yang terbunuh karena membela keluarganya, atau membela darah (jiwa)-nya atau membela agamanya maka ia syahid” (HR at-Tirmidzi).
Hadis ini menunjukkan penghargaan tinggi pada tindakan membela diri terhadap penjajahan.

Ketiga: BOP tidak melibatkan rakyat Palestina. Aneh sekali. Padahal merekalah korban penjajahan dan genosida. Ironisnya, si penjajah Israel malah masuk sebagai anggota dewan ini.

Keempat: BOP tetap mempertahankan eksistensi negara Israel. Tidak ada tuntutan pembongkaran negara penjajah itu dan pengembalian tanah Palestina yang dirampasnya. Padahal inilah akar masalah Palestina : penjajahan oleh Israel. Maka wajar penjajah harus diusir, serta tanah yang mereka ambil harus dikembalikan. Tapi isu ini tidak disentuh sama sekali.

Kelima: Keterlibatan para pemimpin Muslim dalam BOP merupakan pengkhianatan terhadap Palestina, dan pada umat Islam secara umum. Mereka duduk bersama Israel si penjajah dan terlibat dalam skema yang mengamankan penjajahan. Padahal Allah SWT telah melarang hal ini dalam firman-Nya :
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan Y4hud1 dan Nasrani sebagai pemimpin” (Terjemah Al-Qur’an surat Al-Maidah [5]: 51).

Wilayah Gaza dan Palestina sejatinya tanah milik umat Islam yang dirampas oleh Israel. Allah SWT melarang umat Islam untuk tunduk patuh dan memberikan loyalitas pada negara kafir. Solusi untuk membebaskan Gazadan Palestina bukanlah dengan negosiasi. Solusi satu-satunya adalah dengan mengusir Israel dari Palestina dengan jihad. Jihad inilah yang telah Allah SWT perintahkan:
“Perangilah kaum kafir itu di mana saja kalian temui mereka dan usirlah mereka dari tempat mana saja mereka telah mengusir kalian..” (Terjemah Al-Qur’an Surat Al-Baqarah [2]: 191).
Lalu pada ujung ayat ini Allah SWT lalu menegaskan:
“..Jika mereka memerangi kalian maka perangilah mereka. Demikianlah balasan setimpal bagi kaum kafir”.

Mengusir Israel cukup dengan mengerahkan tentara Muslim dari negara-negara Arab saja. Masalahnya, umat Islam saat ini tidak memiliki institusi global sebagai pemersatu mereka, yaitu Khilafah. Khilafah dulu mampu menghimpun seluruh potensi, sumber daya dan kekuatan umat - termasuk militer - di seluruh dunia, sehingga mampu menjadi pembela dan pelindung umat sedunia. Termasuk Palestina. Karena itu umat Islam sedunia sangat membutuhkan Khilafah. Mengacu sabda Rasulullah saw :
“Imam (Khalifah) adalah perisai (pelindung)... (HR al-Bukhari dan Muslim).
Faktanya, sepanjang sejarah, hanya pada era Khilafahlah kemuliaan Islam serta darah dan kehormatan kaum Muslim benar-benar terjaga. 

Seperti pada masa Khalifah Harun ar-Rasyid. Saat Kaisar Romawi Timur (Bizantium) saat itu, Nikephoros I, mengirim surat yang bernada meremehkan dan menolak membayar upeti (jizyah), Khalifah Harun ar-Rasyid membalas suratnya dengan tegas, “Dari Harun, Amirul Mukminin, kepada Nikephoros, Anjing Romawi! Aku telah membaca suratmu. Jawabannya adalah apa yang akan segera kamu lihat! Bukan apa yang akan kamu dengar.” Setelahnya segera Beliau bersama pasukannya menyerang dan mengalahkan Romawi. Akhirnya, Romawi kembali tunduk pada Khilafah.

Begitu juga pada masa Khalifah al-Mu‘tashim Billah. Saat itu ada seorang Muslimah ditawan dan dilecehkan oleh tentara Romawi di Amuriyah (wilayah Turki bagian tengah) dan ia berteriak memanggil sang Khalifah. Sampailah berita ini pada Khalifah al-Mu‘tashim Billah. Beliau segera menyambut panggilan itu. Tanpa diplomasi dan dewan internasional sebagai ciri khas politik luar negeri ala sekuler kapitalisme saat ini, beliau segera menyambut seruan Muslimah tersebut dengan meneriakkan : “Aku penuhi panggilanmu!” Lalu beliau segera mengerahkan pasukan besar dan menyerbu Amuriyah dan menang. Wilayah Amuriyah yang dulunya di bawah kekuasaan Romawi, akhirnya masuk wilayah Khilafah. Saat itu 30 ribu pasukan Romawi tewas dan 30 ribu lainnya berhasil ditawan.

Saat masa Sultan Abdul Hamid II sang penguasa Khilafah Utsmaniyah, Theodor Herzl tokoh zionis Yahudi menawarkan harta dalam jumlah sangat besar kepada beliau agar diberi hak atas tanah Palestina. Jawaban beliau tegas : “Aku tidak akan menyerahkan walau sejengkal tanah itu! Ia bukan milikku. Ia adalah milik umat Islam!”. Pada masa beliau juga, Prancis pernah diancam olehnya agar segera menghentikan rencana pementasan drama berjudul “Mahomet” karya Henri de Bornier di Prancis. Karena drama itu menghina Rasulullah saw. Ancamannya tegas : Jika penghinaan kepada Rasulullah saw. tetap dilakukan, opsi militer (jihad) sangat terbuka. Prancis pun takut dan membatalkan rencana pementasan drama tersebut. Pada masa Khilafah pula, penguasa Muslim pu bersikap tegas pada Amerika. Pada abad ke-18, Amerika pernah terpaksa membayar upeti (jizyah) kepada Khilafah Utsmaniyah agar kapal-kapal mereka bisa melintas dengan aman di Afrika Utara (Aljazair, Tripoli, Tunis). 

Rekam jejak sejarah di atas membuktikan satu hal : Khilafah itu nyata adanya sebagai pemerintahan Islam global. Sepanjang sejarahnya Khilafah mampu memelihara kemuliaan Islam, serta melindungi kehormatan dan darah kaum Muslim. Sehingga di saat ada ancaman global Amerika dan Barat yang makin meningkat atas Dunia Islam saat ini, juga adanya fakta para pemimpin muslim selama 78 tahun telah gagal untuk membebaskan Palestina hingga detik ini; cita-cita untuk mendirikan kembali Khilafah adalah pilihan yang paling rasional. Terlebih karena Khilafah adalah bagian penting dari syariah Islam.

Wallahualam Bisawab

Catatan Kaki : 
(1) https://tirto.id/alasan-ri-gabung-board-of-peace-wujud-konkret-dukung-palestina-hpMz?utm_medium=Share&via=TirtoID&utm_source=Whatsapp
(2) https://www.bbc.com/indonesia/articles/clymmppzkzpo
(3) https://search.app/8ENMA
(4) https://mediaindonesia.com/internasional/852885/profil-jared-kushner-menantu-donald-trump-dan-arsitek-rekonstruksi-gaza
(5) https://search.app/wBsg2