Saat Kemiskinan Menyayat Hati
Oleh : Ummu Ghoza
Penamabda.com-Lagi-lagi dunia pendidikan digemparkan dengan kasus siswa bunuh diri. YBR (10), tewas gantung diri lantaran orang tuanya tak mampu membelikan buku tulis. Siswa tersebut kelas IV sekolah dasar (SD) di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur. Sebelum tragedi tersebut, YBR dan siswa lainnya berkali-kali ditagih uang oleh sekolah sebesar Rp 1,2 juta. (detiknews.com, 05-02-2026).
Anak sekecil itu yang biasanya dibelikan buku, malah minta maaf karena dirinya merasa menjadi beban orang tua karena belum membayar buku. Sungguh miris nan memprihatinkan. Anak sebagai investasi masa depan, tapi hidupnya menjadi tidak berharga karena sekolahnya membuatnya malu.
Ini merupakan kejahatan sistemik. Tidak ada jaminan kebutuhan buku untuk pendidikan. Ini disebabkan negara abai atas tugasnya sebagai penjamin hak pendidikan anak. Negara membuat rakyatnya miskin pendidikan dan miskin finansial.
Kasus ini adalah bukti bahwa hak seluruh anak untuk sekolah gratis tidak dijamin oleh negara. Beban biaya sekolah yang tak terjangkau bagi rakyat miskin berdampak pada bunuh diri anak. Hal ini karena negara lalai memelihara kebutuhan dasar rakyat miskin dan anak-anak terlantar yang meliputi pangan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Masalah ini berakar dari sistem kapitalis sekuler yang semuanya membutuhkan cuan. Penerapan sistem pendidikan kapitalistik yang membebani masyarakat.
Beban yang menggunung berdampak meningkatnya kasus bunuh diri di usia anak-anak, menjadi indikator kejahatan. Sistem hari ini menjadikan negara abai terhadap rakyat dan lebih mementingkan para kapital. Sehingga adanya kapitalisasi pendidikan dan semua kebutuhan publik menjadikan harga lebih mahal. Ini menjadi salah satu faktor kemiskinan yang membuat rakyat tidak sanggup membeli kebutuhannya dan banyak yang bunuh diri.
Fenomena bunuh diri pun semakin merajalela karena kemiskinan ataupun mahalnya pendidikan. Kita sudah merasakan sulitnya bertahan hidup dengan berbagai kesulitan yang sengaja diciptakan di negeri muslim.
Telah tampak kejahatan sistem kapitalisme yang menghancurkan harapan generasi. Beratnya tekanan hidup berdampak pada kondisi mental yang negatif. Generasi yang rapuh, mudah depresi bisa berujung pada bunuh diri. Dengan demikian sudah saatnya kita buang sistem yang batil. Saatnya kita kembali pada janji Allah Swt. Hanya sistem Islam yang akan memberi keberkahan.
Dalam Islam, hak anak atas pendidikan adalah tanggung jawab umum negara. Perihal biaya pendidikan tidak boleh dibebankan pada orangtua. Islam mengatur perlindungan dan keamanan anak dalam keluarga dan lingkungan sosial (pengasuhan, pendidikan, kontrol sosial, jaminan negara terhadap hak dasar). Semua pembiayaan pendidikan melalui mekanisme baitulmal.
Sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw. yang mengayomi rakyatnya dengan amanah. Telah terbukti dalam sejarah bahwa sistem Islam (Khilafah Islamiyyah) pernah berjaya memberikan jaminan kesejahteraan seluruh rakyat selama 13 abad. Sabda Rasulullah saw. pun harusnya menjadi pengingat bahwa setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.
Kepemimpinan Rasulullah yang diikuti Khulafaurasyidin, dan khalifah sesudahnya yang memberlakukan syariat secara kaffah akan mewujudkan Islam rahmatan lilalamin. Keberkahan akan dapat dirasakan bagi seluruh generasi. Sehingga, tak akan ditemukan kisah kemiskinan yang sangat menyayat hati. Wallahu a‘lam bish shawab. []


Posting Komentar