Ramadhan Berkah Ramadhan Bersyariah
Oleh : Ummu Fathan
Dalam hitungan hari, Ramadhan akan tiba. Bulan yang istimewa ini kembali lagi mendatangi kaum muslimin. Ia membawa begitu banyak keutamaan dan keagungan, yang disiapkan bagi mereka yang bersungguh-sungguh menginginkan. Ia juga membaww rahmat dan ampunan bagi siapapun yang mengejarnya. Siapapun yang mengetahui, tentu akan memaksimalkan kesempatan bertemu ramadhan untuk lebih serius mengejar dan mendapatkan keutamaan tersebut.
Panen pahala di bulan Ramadhan adalah kesempatan emas bagi setiap muslim. Bahkan lipatan pahala itu dinaikkan levelnya berkali-kali lipat tatkala lailatul qadar datang. Namun sayangnya tidak semua muslim beruntung menikmati dan menjalani Ramadhan dengan prima. Ada yang terhalang karena secara internal berada di fase iman lemah. Ada yang terhalang karena secara fisik dan lingkungan sedang diuji oleh Allah sebagaimana yang dialami kaum muslimin di Gaza dan juga saudara-saudara korban bencana di Sumatera, Jawa, dan lainnya.
Bagi kondisi pertama, tentu amat disayangkan. Kemulian Ramadhan sangat mahal untuk diabaikan, apalagi diremehkan dengan cara terang-terangan tidak menjalankan puasa di siang harinya. Terkait hal ini, Rasulullah SAW mengingatkan dalam sabdanya yang artinya: "Ketika aku sedang tidur, datanglah dua orang laki-laki kepadaku. Mereka lalu memegang kedua lenganku." Beliau pun melanjutkan hadits tersebut. Di dalamnya beliau berkata: "Kemudian keduanya membawaku. Tampaklah suatu kaum yang digantung pada tumit mereka. Terbelah sudut mulut-mulut mereka. Mulut mereka pun mengalirkan darah." Aku bertanya: "Siapakah mereka ini?" Dijawab: "Mereka adalah orang-orang yang berbuka puasa Ramadhan sebelum waktunya halal bagi mereka untuk berbuka.".... (HR. An-Nasa'i).
Kondisi kedua adalah keadaan yang memberikan banyak renungan. Di satu sisi terus mengingatkan kita agar senantiasa bersyukur dengan Rahman dan Rahim Allah yang memberikan diri dan lingkungan keadaan baik. Di satu sisi menjadi pengetuk hati nurani untuk senantiasa berempati, berupaya membantu sesuai kemampuan, bersungguh-sungguh mendokan kebaikan mereka, berikhtiar menyuarakan keadaan mereka agar mendapatkan pertolongan dan bantuan langsung dari pihak yang seharusnya bertanggungjawab atas apa yang sedang terjadi.
Dua kondisi ini perlu diselesaikan. Selain dengan penebalan iman, juga dengan perbaikan menejemen pelayanan kepada umat. Moment Ramadhan adalah waktu yang tepat. Sebab di bulan ini nuansa keimanan sedang berada di puncak. Kesempatan baik untuk kembali mengajak manusia mendapatkan ketakwaan. Puasa ditujukan agar bertakwa, takwa sendiri tidak bisa dilepaskan dari kepatuhan menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Dan takwa inilah yang pada akhirnya menentukan derajat kemuliaan manusia di hadapanNya, sebagaimana firmanNya dalam Alquran surat Al-hujurat ayat 13.
Seluruh perintah Allah dan laranganNya dimuat dalam Alquran. Keduanya menjadi aturan yang lazim disebut syariat, yang semestinya digunakan menentukan rute hidup manusia. Sehingga takwa dan syariat adalah dua hal berkaitan yang mustahil dipisahkan. Takwa juga tidak bisa diamputasi hanya dengan menjalani sebagian syariat saja. Memilih yang disenangi untuk dilakukan, melewati yang dianggap sulit dan berat untuk ditinggalkan. Takwa itu dikerjakan pada semua aspek syariat, sehingga cahaya kebaikan dari syariat itu benar-benar bisa terpancar utuh. Ketika syariat semuanya ditaati dan dilaksanakan, kemuliaan tidak lagi menjadi milik perorangan, melainkan menjadi milik Islam. Wibawa IsIam yang menerapkan syariat pernah terbukti secara empiris dan historis sepanjang pulahan abad, semenjak dari zaman Rasulullah hingga zaman Kekhalifahan Utsmaniyah.
Selama zaman itu, individu dijaga iman internalnya agar senantiasa terpelihara takwanya. Bisa dan berkemauan menjalankan puasa Ramadhan dan mengejar keutamaan bulan suci tersebut secara sadar. Secara eksternal, muslim pun dijaga supaya layak kondisi dan lingkungannya. Ada peran dan tanggungjawab penguasa yang meriyah setiap keadaan warganya. Kisah di masa Khalifah Umar bin Khattab adalah salah satu yang banyak dikenal dan bisa dijadikan pelajaran. Di masa kepemimpinan beliau terjadi 'Amul Ramadah di Madinah selama berbulan-bulan, sekaligus merebak wabah tho'un di wilayah Syam yang sampai merenggut nyawa Shahabat Abu Ubaidah bin Jarrah. Kala itu, beliau menunjukkan tanggung jawab yang nyata dengan cara turut menjalani hidup sederhana, sekaligus mengerahkan berbagai upaya untuk menangani kedua musibah tersebut. Kekuasaan dikerahkan untuk membantu rakyat sampai melibatkan distribusi bantuan pangan dari wilayah Islam lainnya.
Semua yang dilakukan di masa Umar, yang dilanjutkan oleh khalifah lain di masa Kakhilafahan Umayyah, Abbasiyah, hingga Utsmaniyah adalah teladan bahwa kemuliaan itu ekuivalen dengan ketaatan pada syariat. Umat IsIam bisa mulia jika syariat dijadikan panduan dalam mengatur urusan mereka. Maka tidak heran jika di zaman itu Islam dan kaum muslimin tampil gemilang sebagai mercusuar peradaban. Bahkan mereka unggul dalam berbagai kancah, dengan jejak-jejak karya yang masih bisa diwarisi sampai saat ini. Teknologi, ilmuwan, dan buku begitu banyak terlahir di masa itu. Keberkahan yang langka ditemukan di zaman sekarang.
Oleh sebab itu, momentum Ramadhan yang di dalamnya terkandung kewajiban puasa agar bertakwa, adalah kesempatan terbaik untuk mengembalikan keberkahan bagi Islam dan kaum muslimin. Caranya adalah dengan kembali meluruskan makna takwa, kembali mematuhi syariat, kembali menjadikannya sebagai tolak ukur dalam kehidupan pribadi hingga bernegara. Dengan menjalankan syariahlah keberkahan akan benar-benar hadir. []

Posting Komentar