Kisah pilu Kemiskinan Merenggut Harapan Kecil Anak 10 Tahun Berakhir Bundir
Oleh. Susi Ummu Musa
"Kertas tii Mama Reti (Surat untuk mama Reti). Mama Galo Zee (Mama pelit sekali). Mama molo ja'o galo mata mae Rita ee mama (Mama baik sudah, kalau saya meninggal mama jangan nangis). Mama jao galo mata mae woe Rita ne'e gae ngao ee (Mama saya meninggal, jangan menangis, juga jangan cari saya). Molo mama (Selamat tinggal mama)."
Seperti itulah pesan terakhir yang ditulis seorang anak berusia 10 tahun disecarik kertas hingga ia berpikir untuk mengakhiri hidupnya.
Dilansir tirto.id - Sepucuk surat menjadi saksi bisu kepergian anak berinisial YRB (10), siswa kelas IV SD di Kabupaten Ngada, NTT, yang mengakhiri hidup diduga karena tak mampu membeli buku dan pena. Merespons tragedi ini, KPAI menggelar case conference bersama Kemendikdasmen hari ini (4/2/2026) untuk mendalami faktor ekonomi, pola asuh, hingga dugaan perundungan di lingkungan sekolah.
Sontak dari peristiwa memilukan sekaligus memalukan ini membuat masyarakat begitu prihatin atas kejadian ini, bukan sepeda atau baju yang dipinta melainkan hanya sebuah buku dan pena namun dalam keadaan ekonomi yang begitu sulit orang tua belum mampu untuk membelikannya.
Bukan pelit bukan pula sayang mengeluarkan uang untuk keperluan anaknya namun ada potret lain yang harus dipenuhi yaitu perut.
Bukan hanya sebuah keinginan kecil dari bocah 10 tahun itu yang berat,tapi biaya sekolah yang harus dibayar kan juga terasa berat terutama bagi rakyat miskin.
Kehidupan yang serba kekurangan harus dibagi dengan tuntutan yang lain sehingga apa yang dirasakan orang tua berdampak kepada anak-anak.
Bundir bukan jalan pintas bagi siapapun yang saat ini merasakan kehidupan yang sempit dan sulit, maka awasilah dan berikan pengertian untuk mendampingi anak anak kita.
Jelas ini bukan keinginan kita yang hidup dibawah bayangan kelam dibalik megahnya dinding istana.
Jas mewah dan koleksi mobil para elite dinegeri ini adalah pemandangan diatas penderitaan rakyat.
Tidak ada rasa iri bagi rakyat biasa melainkan dimana letak keadilan itu?
Rakyat juga sama mengeluarkan pajak dan membeli kebutuhan pokok yang terus melambung tinggi.
Namun kenyataannya rakyat miskin lah yang menjadi korban ketidakadilan dinegri ini.
seharusnya hak rakyat atas pendidikan dijamin oleh negara sehingga rakyat tidak terbebani dengan biaya.
Namun paradigma sekuler kapitalisme yang saat ini diemban oleh negri ini telah menghapus itu semua, faktanya rakyat harus berjuang sendiri memenuhi kebutuhan hidup yang serba mahal ini. Penderitaan akibat sekularisme kapitalisme ini harus diakhiri, yakni dengan senantiasa mendakwahkan Islam sebagai akidah siyasiyah di tengah-tengah masyarakat. Perlu dipahami bahwa Islam bukan agama ritual yang hanya cukup dijalankan melalui ibadah personal, seperti salat, puasa, zakat atau haji.
Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam Kitab Nizamul Islam menjelaskan, bahwa Islam adalah ideologi yang lahir dari akidah Islam. Akidah Islam menyatakan bahwa satu-satunya Al Khaliq (pencipta) dan Al Mudabbir (pengatur) hanyalah Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Kuncinya adalah menguatkan pondasi mereka melalui aqidah Pandangan hidup mereka, hanya negara yang bisa membangunnya dengan atmosfer kehidupan untuk lahirnya generasi emas tersebut.
Islam mencatat sejarah yang unggul yang memayungi dunia. Mercusuar bagi peradaban Islam lainnya. Semua itu terwujud sebagaimana dampak penerapan sistem pendidikan Islam, sistem itu mengutamakan pembentukan kepribadian Islami peserta didik serta mewujudkan peradaban maju dan mulia. Sistem pendidikan itu ditopang oleh penerapan. Ideologi Islam oleh negara khilafah. Zaman keemasan peradaban Islam itu bahkan telah terbukti menjadi rujukan bagi bangsa- bangsa lainnya.
Wallahu a lam bissawwab

Posting Komentar