-->

BERDIRI DIATAS EMAS, BERJALAN TANPA ALAS


Oleh : Ummu Aqeela

Badan Pusat Statistik atau BPS Nabire mencatat angka kemiskinan di Provinsi Papua Tengah itu meningkat menjadi 28,90 persen pada Maret 2025, dibandingkan pada September 2024, yang berada pada persentase 27,60 persen.
Kepala BPS Nabire, Dio Ginting mengatakan persentase ini menempatkan Papua Tengah sebagai provinsi dengan angka kemiskinan tertinggi kedua di Indonesia. Urutan pertama adalah Papua Pegunungan dengan persentase 30,03 persen. 

Dio Ginting menggulas BPS melakukan penghitungan angka kemiskinan melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (SSEN). Penghitungan kemiskinan itu dilakukan dua kali dalam setahun, untuk level provinsi yaitu kondisi pada Maret dan September. Dari situlah didapatkan berbagai indikator, salah satunya angka kemiskinan.

Papua.....
Papua menyimpan kekayaan yang luar biasa, Papua merupakan wilayah kaya akan bahan tambang, seperti tembaga, emas, batu bara, besi, batu kapur, pasir kaolin, minyak bumi dan gas bumi. Tapi fakta kekayaan di atas tidaklah memberikan dampak yang signifikan terhadap kesejahteraan rakyatnya. Papua menjadi salah satu wilayah Indonesia yang masih tertinggal oleh akses kesehatan, pendidikan, infrastruktur dan fasilitas lainnya.

Kemiskinan di tanah emas masih menjadi PR bagi bangsa ini, apalagi selama bertahun-tahun kekayaan Papua hanya dinikmati oleh para investor asing yang mencuri emas. Bukan rahasia lagi kekayaan Papua hanya milik asing, yang selama ini pemerintah telah melegalkan penjajahannya atas nama kerjasama. 

Kemiskinan yang kian menggejala di Papua menggambarkan buruknya penerapan sistem ekonomi kapitalisme, disamping hilangnya fungsi negara sebagai pengatur urusan rakyat yang berperan penting dalam mequjudkan kesejahteraan. Bagaimana tidak, sumber daya alam yang seharusnya dikelola oleh negara justru dialihkan kepada pemilik modal atau kapital. Inilah mengapa Papua sulit bersaing dengan wilayah lainnya, baik dari segi infrastruktur maupun dalam kehidupan sosial lainnya.

Sejatinya, kekayaan alam yang disediakan oleh Allah Swt. mampu mencukupi dan mensejahterakan manusia. Namun, sumber kekayaan alam yang di peruntukan bagi kemaslahatan umat itu tidak dikelola dengan sistem yang sahih. Akibatnya, terjadi ketimpangan di masyarakat. Misalnya saja, distribusi barang dan jasa yang hanya berputar pada segelintir orang orang kaya. Belum lagi, kerusakan alam yang terjadi karena ketamakan perusahaan pemodal yang hanya mengejar keuntungan materi tanpa mempertimbangkan kelestarian ekosistem. Dari sinilah, pentingnya keberadaan sebuah sistem hidup yang sahih dan keberadaan negara yang menjalankan sistem tersebut.

Sistem ekonomi kapitalisme telah terbukti gagal dalam mensejahterakan umat. Maka, satu-satunya jalan untuk mengentaskan kemiskinan di Papua adalah dengan menerapkan sistem ekonomi Islam.

Islam adalah sistem hidup yang sahih. Islam memiliki cara yang khas dalam menyelesaikan masalah kemiskinan. Syariat Islam memiliki banyak hukum yang berkaitan dengan pemecahan tersebut. Salah satu pemecahan masalah kemiskinan ini adalah mengembalikan fungsi dan peran negara yang sesuai dengan syariat Islam, termasuk dalam pengelolaan sumber daya alam milik umum.

Dalam pandangan Islam, tambang emas yang ada di Papua merupakan kemilikan umum. Sehingga, pengelolaannya wajib dilakukan oleh negara. Adapaun hasilnya, dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk pelayanan publik, seperti pendidikan dan kesehatan. Selain itu, negara wajib menyediakan lapangan pekerjaan, dan menyantuni para fakir dan miskin.

Seperti itulah sejatinya fungsi dan peran negara. Namun, ini hanya bisa kita temui ketika sistem yang diterapkan negara adalah Islam kafah. Solusi yang tersistematis telah terbukti sepanjang penerapan sistem Islam, baik historis maupun empiris. Sungguh, keadilan dan kemuliaan hidup di bawah sistem Islam pernah dirasakan sepanjang sejarah penerapannya. Karena Islam adalah ideologi yang memberi Rahmat untuk seluruh alam semesta. Wallahu a’lam bishshawab.