-->

Indonesia Bergabung dengan Board of Peace, Pengkhianatan terhadap Muslim Palestina


Oleh : Alimatul Mufida (Mahasiswa)

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto menyampaikan optimisme kuat terhadap tercapainya perdamaian di Gaza usai menandatangani Board of Peace (BoP) Charter yang diinisiasi oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Indonesia secara resmi bergabung dengan Board of Peace. Alasan pemerintah bergabung adalah demi perdamaian Palestina. Untuk sekadar bergabung, Indonesia harus membayar sebesar 1 miliar dolar (Rp17 triliun) agar dapat memperoleh keanggotaan tetap. Padahal dewan perdamaian tersebut sejatinya tidak pernah ada, itu tidak lain hanyalah suatu wadah yang dibuat oleh Trump (AS) agar seolah-olah perbuatannya untuk mengeksploitasi Gaza dibenarkan oleh negara-negara lain yang termasuk dalam anggotanya. Trump, sebagai inisiator ia memiliki kendali penuh dan satu-satunya kuasa hak veto dalam BoP.

Board of Peace dibentuk bukan untuk perdamaian Palestina, bagaimana mungkin disebut sebagai dewan perdamaian jika yang menciptakan adalah dalang di balik peristiwa genosida di Gaza? Amerika Serikat adalah negara yang menyuplai senjata dan membiayai segenap kebutuhan IDF secara penuh yang kemudian digunakan untuk menghabisi nyawa rakyat Palestina. Jika dikatakan sebagai dewan perdamaian seharusnya pihak Palestina terlibat. Tetapi faktanya Palestina bahkan tidak dilibatkan sama sekali, alih-alih melibatkan Palestina justru Netanyahu laknatullah lah yang terlibat langsung menjadi anggota. Tidak ada kompromi dengan pelaku kriminal. Ini bukanlah proyek perdamaian ataupun pembebasan melainkan proyek yang dibagun demi kepentingan geopolitik dan ekonomi Amerika Serikat. Sejatinya Trump ingin menguasai Gaza, mengusir penduduknya, dan membangun Gaza Baru yang berisi gedung-gedung pencakar langit, wisata pantai, pelabuhan, bandara, dan menara apartemen. Gaza adalah tanah yang diberkahi, tanahnya subur, kaya akan mineral yang bernilai jual tinggi. AS memahami ini secara detail. Di sinilah kepentingan diciptakannya Board of Peace. BoP justru ditujukan untuk menghancurkan Palestina. Mengambil alih wilayah Gaza, juga sekaligus menghilangkan esensi tanah ribath. Keberadaan negara-negara muslim (termasuk Indonesia) hanya menjadi pelengkap legitimasi. BoP adalah alat untuk merealisasikan 20 poin rencana Trump atas Gaza. Keikutsertaan negeri-negeri muslim dalam BoP berarti pengkhianatan terhadap muslim Gaza.

Palestina tidak butuh Board of Peace dan apapun itu yang termasuk dalam rencana AS. Yang Palestina butuhkan adalah pembebasan dari ketemu Zionis. Kebebasan diraih apabila para pengganggu diusir. Perdamaian hakiki bagi Palestina hanya akan terwujud jika Zionis hengkang dari wilayah Palestina. Satu-satunya jalan untuk mewujudkan hal ini adalah jihad. Palestina membutuhkan sosok yang berani menggerakkan pasukan militer untuk memerangi Zionis. Namun, ini hari tidak ada satupun pemimpin yang berani mengerahkan pasukan untuk menolong Palestina. Para pemimpin negara muslim sibuk dengan urusan domestiknya. Rakyat dalam negeri saja tidak dipedulikan apalagi merealisasikan perdamaian lintas negara? Semua hanyalah ilusi saat sistem yang berlaku adalah kapitalisme-sekuler. Khilafah adalah satu-satunya institusi yang
 
akan mengomando jihad akbar untuk membebaskan Palestina. Pembebasan dilakukan seperti pada masa kekhilafahan Umar bin Khattab dan Salahuddin Al-Ayubi. Pembebasan tidak bermakna pengambilalihan sumberdaya dan wilayah tetapi bermakna lebih jauh yaitu penegakkan hukum Allah yang artinya penghapusan kesewenang-wenangan, kesenjangan, dan mengarahkan kembali tujuan suatu bangsa menuju kemakmuran dan juga barakah akhirat. Perdamaian dunia tidak akan tercapai apabila bersekutu dengan negara kafir yang menjadi aktor utama dan pelaku genosida. Bergabung dengan Board of Peace berarti melegalkan kebiadaban AS dan Zionis yang tengah memerangi muslim Palestina. Sudah saatnya negeri-negeri muslim bersatu di bawah satu kepemimpinan yaitu Khilafah. Sudah sepatutnya kaum muslimin menjadikan Khilafah sebagai agenda utama dan segera merealisasikannya. Hanya dengan Khilafah Palestina dapat dibebaskan.
Wallahu a'lam bis shawwab