Harapan, Masa Depan, dan Kehilangan
Oleh : Meidy Mahdavikia
Ada berita yang selesai kita baca lalu hilang begitu saja. Namun ada juga yang tinggal dan tersimpan cukup lama di dalam pikiran. Jujur saja, kisah YBR termasuk yang sulit saya lupakan.
Seorang anak berusia 10 tahun di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, kehilangan hidupnya karena beban yang terlalu berat untuk anak seusianya. Ia bukan sedang berjuang memahami pelajaran yang sulit. Ia bukan juga anak yang bermasalah. Hal yang membuatnya tertekan justru sesuatu yang bagi sebagian dari kita terdengar sangat sederhana, orang tuanya tidak mampu membelikan buku tulis dan pulpen.
Saya membayangkan betapa kecilnya benda itu di tangan kita, tetapi betapa besarnya maknanya bagi keluarga yang hidup dalam keterbatasan.
Dilansir dari Tirto.id (4/2/2026), sebelum tragedi itu terjadi, YBR sempat menulis surat. Ia menuliskan kebingungan dan rasa bersalah karena tidak bisa memenuhi permintaan sekolah. Anak 10 tahun merasa bersalah atas kondisi yang bukan ia ciptakan. Kalimat itu saja sudah cukup membuat hati terasa sesak.
Kemudian seperti dikutip dari News.detik.com (5/2/2026), pihak sekolah menagih biaya pendidikan hingga Rp1,2 juta per tahun. Mungkin bagi sebagian orang jumlah itu tampak biasa. Namun bagi keluarga di pelosok NTT dengan kondisi ekonomi terbatas, angka tersebut tentu tidak ringan. Di sinilah saya merasa persoalannya tidak sesederhana urusan satu keluarga saja.
Kita sering mengatakan pendidikan adalah hak setiap anak negeri. Namun dalam kenyataannya, masih ada anak yang merasa tertekan hanya karena tidak mampu memenuhi kebutuhan sekolah. Ketika alat tulis saja menjadi beban, rasanya wajar jika kita bertanya di mana letak tanggung jawab yang seharusnya melindungi mereka.
Dalam praktiknya, sistem pendidikan hari ini berjalan secara administratif. Negara membuat kebijakan dan sekolah menjalankan aturan, tetapi persoalan biaya sering kali tetap kembali ke orang tua. Sekolah membutuhkan biaya operasional dan dari situlah muncul berbagai bentuk pungutan. Bagi keluarga yang mampu mungkin ini tidak menjadi masalah yang besar. Namun bagi keluarga yang hidup pas-pasan, tambahan biaya sekecil apa pun bisa memengaruhi banyak hal dalam hidup mereka.
Tekanan itu kadang tidak terlihat. Anak mungkin tidak banyak bicara. Mereka tetap datang ke sekolah dan tetap duduk di kelas. Namun di dalam hati mereka bisa tumbuh rasa malu atau merasa berbeda. Perlahan kepercayaan diri itu hilang. Padahal mereka hanya korban keadaan.
Sistem sekuler yang memisahkan kebijakan publik dari nilai agama sering kali memandang persoalan ini sebatas urusan anggaran. Jika dana ada maka akan dilayani. Jika tidak maka masyarakat diminta memahami keterbatasan yang ada. Dalam situasi seperti ini kelompok yang paling lemah biasanya yang pertama merasakan dampaknya dan anak-anak termasuk di dalamnya.
Islam memandang pendidikan bukan sekadar layanan umum melainkan hak anak yang wajib dijamin negara. Negara diposisikan sebagai raa’in, pengurus rakyat. Artinya bukan hanya membuat aturan tetapi juga memastikan kebutuhan dasar rakyatnya benar-benar terpenuhi. Dalam sistem Islam pembiayaan pendidikan diambil dari Baitul Mal yang mengelola harta umum sesuai syariat. Dengan mekanisme ini pendidikan tidak seharusnya menjadi beban bagi keluarga yang kesulitan ekonomi.
Selain itu Islam juga menekankan pentingnya peran keluarga dan masyarakat dalam menjaga anak. Anak tidak boleh menghadapi tekanan hidup sendirian. Jika ada kesulitan, negara harus hadir lebih dahulu bukan menunggu sampai terjadi hal yang tidak diinginkan.
Bagi saya kisah YBR adalah pengingat untuk kita semua. Ini bukan sekadar berita yang akan tenggelam oleh isu lain. Ini seperti pertanyaan yang terus mengganggu apakah sistem yang kita jalankan hari ini sudah benar-benar melindungi yang paling rapuh.
Selama biaya pendidikan masih menjadi beban bagi keluarga miskin risiko serupa tetap ada. Islam menawarkan solusi yang tidak hanya bersifat empati setelah kejadian tetapi jaminan menyeluruh agar setiap anak berhak mendapatkan haknya. Dalam sistem Islam, tidak boleh ada anak yang merasa sendirian menghadapi kerasnya kehidupan ini.
Semoga ini menjadi pelajaran bagi kita semua bukan hanya sekadar kesedihan sesaat. Karena setiap anak berhak tumbuh dan belajar tanpa tekanan yang melampaui usianya. Mereka bukan hanya generasi penerus tetapi amanah yang harus dijaga bersama.
Wallahu 'alam

Posting Komentar