-->

GAGAL BELI BUKU, GAGAL HIDUP. IRONI NEGERI INI


Oleh : Susanti Pratiwi Sagala, S.Si.
Aktivis dakwah 

Saifullah Yusuf, Menteri Sosial (Mensos) menyoroti kasus anak kelas IV Sekolah Dasar (SD) berinisial YBS di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) gantung diri. YBS sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pulpen. Namun, ibunya tak dapat memenuhi karena tak memiliki uang. (liputan6.com 4/2/2026).

Tidak sekedar duka biasa yang sedang menghiasi berita belakangan ini. Namun, teguran untuk kondisi negeri ini yang tak ada habisnya. Buah dari keadaan ekonomi yang masih menitikberatkan pada sistem ekonomi-kapitalisme yang tak akan memandang kemiskinan menjadi masalah yang harus segera diberantas hingga akar-akarnya. Kasus YBS hanyalah bagian kecil saja kelalaian yang terjadi, dimana nyawa lebih murah dari sebuah buku dan pena. Masih banyak lagi kasus yang serupa bahkan lebih miris. Tak ada yang mampu membendung hal itu karena kondisi ekonomi saat ini sedang tidak baik-baik saja. Orang bilang Indonesia itu negeri yang sangat kaya dari sisi sumber daya alamnya. Akan tetapi saat ini kalimat itu hanyalah sebuah fiktif belaka, sebab kekayaan negeri ini tidak tahu lari kemana. Bukankah seharusnya distribusi kekayaan ini kembali kepada masyarakat dalam bentuk kesejahteraan ataukah dalam bentuk pelayanan umum mulai dari pemenuhan sandang, pangan dan papan? Apa lagi sektor Pendidikan yang akan berdampak sangat besar untuk penerus bangsa ini, selayaknya memajukan dari pemenuhan sarana dan prasarana dalam Pendidikan hingga menghasilkan bangsa yang cerdas dan gemilang? 

Balik lagi jika kepentingan itu semua untuk sekedar formalitas negara dalam menjalankan tugas saja maka, jelas ini bukan menjalankan sesuai dengan fitrahnya. Dimana pemimpin seharusnya melayani masyarakatnya dan mendapatkan hak-haknya sebagai warga negara yang dilindungi oleh penguasa di negerinya. Menjadikan sumber daya alam sebagai alat untuk memenuhi amanah dan tanggungjawab dengan menyalurkan dengan adil. Bukan mengaturnya untuk kepentingan para kapital hingga tak tahu kemana rimbanya SDA itu. Hingga masalah dari ekonomi terus-menerus bertubi-tubi menghantui rakyat. Sudah saatnya masyarakat mendapatkan keadilan dalam hidupnya dengan hidup sesuai fitrahnya.

Pernah adanya dalam sejarah yang mencatat kegemilangan hidup manusia sesuai fitrahnya yang diatur dengan sistem islam yang bernama Khilafah. Dipimpin oleh seorang Khalifah. Sistem yang berasal dari Sang Pencipta manusia itu sendiri, yang juga lebih mengetahui mahluk ciptaan-Nya. Sebagaimana, pada massa Khalifah Harun Al-rasyid, pengelolaan sumber daya alam yang disimpan di Baitul mal kemudian disalurkan kepada Masyarakat secara merata dan adil hingga suatu saat Baitul mal melimpah, tidak diketahui mau disalurkan kemana lagi. Sebab, Masyarakat sudah merasa sejahtera. Sektor Pendidikan didukung mulai dari sarana dan prasarana juga asupan makanan bergizi untuk para siswa dengan cuma-cuma. Dengan menerapkan kembali aturan islam akan menepis kemiskinan dari kehidupan masyarakat bukanlah utopis. Saatnya kita kembali menerapkan aturan Ilahi. Dan menjemput kesejahteraan itu.
Allahu ‘alam bishawab.[]