-->

Terjebak Utang Saat Lebaran, Islam Hadir Membebaskan


Oleh : Ummu Ayya

Lebaran selalu hadir dengan kehangatan yang selalu dirindukan setiap keluarga. Pelukan yang sudah lama dirindukan, senyuman yang kembali terjalin, serta doa-doa yang mengalir di antara takbir. Namun di balik senyuman ceria itu, terdapat banyak keluarga yang merasa gelisah. Ada sebuah beban yang tak terlihat, tetapi sangat terasa. Beban tersebut disebut utang.

Fenomena ini bukan hanya sekadar pengalaman individu. Data dari Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan bahwa pinjaman dari berbagai sektor seperti pinjaman online, pembiayaan, dan gadai mengalami peningkatan selama Ramadan dan Idulfitri. Kenaikan ini sejalan dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat menjelang Lebaran, seperti dilansir oleh Detik. com pada 12 Januari 2026. Fakta ini menandakan bahwa ada yang tidak sehat dalam struktur ekonomi rumah tangga. Lebaran yang seharusnya menjadi momen kegembiraan justru bagi sebagian orang berubah menjadi awal dari masalah keuangan.

Kondisi ini semakin terlihat jelas saat kita mendengar peringatan dari Achmad Nur Hidayat. Ia mencatat adanya semacam tradisi tahunan menjelang Lebaran, di mana masyarakat justru tertekan oleh berbagai masalah kehidupan, khususnya akibat kenaikan harga barang. Meskipun program-program seperti diskon, bantuan sosial, dan pasar murah telah digelontorkan dengan dana besar, kenyataannya intervensi tersebut belum cukup untuk menopang stabilitas ekonomi keluarga, sebagaimana dilaporkan oleh Inilah. com pada 14 Maret 2026.

Ia menegaskan bahwa fenomena ini menunjukkan betapa rentannya keadaan rumah tangga di Indonesia ketika dihadapkan pada kenaikan harga, biaya mobilitas, fluktuasi nilai tukar, serta jaringan pengaman sosial yang belum sesuai sasaran. Lebaran yang seharusnya menjadi waktu untuk pulang ke kampung halaman dan berbagi malah terasa sempit bagi sebagian keluarga.

Data ekonomi semakin memperjelas keadaan ini. Inflasi tahunan pada bulan Februari 2026 tercatat mencapai 4,76 persen, melampaui target yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Pada waktu yang bersamaan, nilai tukar rupiah yang diungkapkan melalui JISDOR pada 10 Maret 2026 mencapai Rp16. 879 untuk setiap dolar Amerika. Kedua indikator ini menyiratkan bahwa biaya hidup tengah meningkat, sementara daya tahan ekonomi keluarga semakin lemah. Fenomena ini menegaskan bahwa tekanan ekonomi menjelang Lebaran bukan hanya sekadar pandangan, melainkan kondisi nyata yang dirasakan oleh banyak orang. (inilah. com, 14/3/32026)

Di tengah keadaan seperti ini, utang menjadi solusi yang sering diambil. Bukan karena keinginan, melainkan karena terpaksa. Kebutuhan terus meningkat, sementara pendapatan tidak cukup. Perayaan Lebaran dalam konteks hari ini bukan hanya sekadar kegiatan spiritual, tetapi telah disokong oleh kapitalisasi yang menciptakan standar sosial tertentu. Baju baru, hidangan berlimpah, dan tradisi pulang kampung menjadi indikator kebahagiaan yang seolah menjadi kewajiban.

Tekanan ini beroperasi dengan halus namun memiliki pengaruh yang kuat. Keluarga merasa perlu mengikuti perkembangan agar tidak dianggap kurang. Ketika finansial tidak memadai, utang menjadi pilihan yang diambil. Terlebih di era digital, akses terhadap pinjaman semakin mudah. Dana bisa didapatkan dengan cepat tanpa melalui proses yang panjang. Namun, kemudahan ini justru meningkatkan risiko. Cicilan yang menumpuk, bunga yang tinggi, dan tekanan psikologis mulai menjadi konsekuensi setelah Lebaran.

Lebih lanjut, keadaan ini menunjukkan bahwa ekonomi masyarakat tidak bergantung pada kekuatan produksi yang sehat. Perputaran ekonomi justru didorong oleh utang. Keluarga kini tidak lagi hidup dari penghasilan yang memadai, melainkan dari pinjaman yang harus diselesaikan dengan tambahan beban. Bahkan untuk kebutuhan sehari-hari, sebagian mulai menggantungkan diri pada utang yang berbasis riba. Ketergantungan ini perlahan mengikis kemandirian dan kenyamanan hidup.

Isu ini bukan hanya kesalahan individu, melainkan masalah yang bersifat sistemik. Sistem ekonomi yang ada saat ini mendorong konsumsi, tapi tidak menjamin distribusi kesejahteraan yang adil. Kekayaan lebih banyak berputar di kalangan para pemilik modal, sementara sebagian besar masyarakat berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. Cerita tentang ekonomi inklusif sering disuarakan, tetapi belum mampu menghadirkan keadilan yang sesungguhnya.

Keluarga seharusnya tidak butuh untuk berutang. Mereka lebih membutuhkan sistem ekonomi yang benar-benar dapat meningkatkan taraf hidup. Sistem yang memberikan keseimbangan dan distribusi kekayaan secara merata, menjaga stabilitas harga, serta menciptakan lapangan pekerjaan yang baik agar kebutuhan dapat dipenuhi tanpa harus berutang.

Di sinilah Islam memberikan solusi yang tidak hanya dari segi teknis, melainkan juga dari segi ideologi. Ekonomi Islam tidak menjadikan utang sebagai landasan utama, terutama utang yang berbasis riba yang jelas diharamkan karena merugikan kehidupan. Islam melihat kesejahteraan sebagai pemenuhan kebutuhan dasar setiap individu secara adil dan bermartabat.

Dalam sistem Islam, negara bertanggung jawab langsung terhadap kesejahteraan warganya. Negara berperan aktif untuk memastikan kebutuhan dasar terpenuhi, mulai dari makanan, pakaian, tempat tinggal, pendidikan, hingga kesehatan. Distribusi kekayaan juga dijaga dengan mengelola sumber daya alam untuk kepentingan masyarakat secara keseluruhan, bukan hanya untuk kelompok tertentu.

Lapangan kerja yang baik sangat penting. Dengan adanya pekerjaan yang mencukupi kebutuhan hidup, ketergantungan pada utang dapat diperkecil. Keluarga dapat menjalani kehidupan dengan lebih tenang tanpa adanya beban cicilan yang menghantui.

Namun, semua ini memerlukan dukungan dari sistem politik yang sejalan. Tanpa kekuatan politik yang mandiri, penerapan ekonomi Islam tidak akan bisa berjalan dengan baik. Negara harus mampu mengambil kebijakan secara mandiri, tanpa terpengaruh oleh kepentingan global yang sering kali tidak mendukung kesejahteraan masyarakat.

Pada akhirnya, bulan Ramadan dan hari Idulfitri seharusnya menjadi saat yang tepat untuk meningkatkan ketakwaan secara menyeluruh. Ketakwaan ini tidak hanya berhenti pada ibadah pribadi, tetapi juga harus tercermin dalam sistem kehidupan yang adil dan menyejahterakan. Hari raya seharusnya memberikan ketenangan, bukan kecemasan.

Jika saat ini banyak keluarga harus berutang untuk merayakannya, maka masalahnya bukan hanya terkait pilihan individu, melainkan sistem yang mengatur kehidupan. Dari sinilah perubahan harus dimulai, agar setiap keluarga dapat merasakan arti kemenangan dengan hati yang lapang, tanpa utang yang membebani. Wallahu a’lam bisshawab. []