Duka Menyelimuti Langit Gaza, Dunia Terdiam
Oleh : Mumtaza
Derita rakyat Palestina, khususnya perempuan dan anak-anak, seakan tak menemukan ujung. Setiap kali dunia berbicara tentang gencatan senjata, setiap kali pula ledakan kembali memecah langit Gaza.
Tangis anak-anak dan jerit para ibu bukan lagi sekadar kabar sesaat, melainkan potret panjang tragedi kemanusiaan yang terus berulang. Gaza seperti dipaksa hidup dalam lingkaran luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Pertanyaannya, sampai kapan dunia membiarkan ini terjadi? Sampai kapan nilai kemanusiaan tunduk pada kepentingan politik dan kekuatan senjata?
Hilangnya Nyawa, Hilangnya Jejak
Laporan investigasi Al Jazeera berjudul The Rest of the Story mengungkap ribuan warga Palestina dinyatakan hilang sejak agresi dimulai pada Oktober 2023. Dugaan penggunaan senjata termal (termobarik) menambah kengerian tragedi ini. Senjata dengan daya hancur besar itu dituding menyebabkan banyak jasad sulit dikenali atau bahkan tak terlacak. Angka korban yang hilang disebut mencapai ribuan jiwa, dan ini bukan sekadar statistik. Di balik setiap angka ada nama, ada keluarga, ada cerita yang terputus secara paksa (cnnindonesia.com,14-02-2026).
Serangan terhadap Gaza juga terus berlangsung meski gencatan senjata diumumkan. Korban sipil, terutama perempuan dan anak-anak, terus berjatuhan. Rumah sakit kewalahan menerima pasien dengan luka berat. Fasilitas umum hancur, pasokan listrik dan air bersih terputus, serta tempat pengungsian tak lagi aman.
Anak-anak yang seharusnya belajar dan bermain kini tumbuh dalam ketakutan. Dunia menyaksikan tragedi ini melalui layar kaca dan media sosial, tetapi seolah tak mampu menghentikan. Perempuan dan anak-anak menjadi korban utama. Mereka yang paling lemah justru menanggung beban paling berat.
Mandulnya Sistem Global dan Standar Ganda Kemanusiaan
Penggunaan senjata dengan daya hancur masif terhadap wilayah padat penduduk menunjukkan wajah perang modern yang kian tak berperikemanusiaan. Jika warga sipil menjadi korban dominan, maka ini bukan lagi sekadar konflik bersenjata biasa, melainkan tragedi kemanusiaan serius. Banyak kalangan internasional menyebutnya sebagai bentuk kejahatan perang, bahkan genosida. Namun, kecaman demi kecaman belum juga menghentikan derita di Gaza.
Di sinilah kita melihat mandulnya sistem global. Lembaga-lembaga internasional berbicara tentang hak asasi manusia, tentang perlindungan warga sipil, tentang hukum humaniter internasional. Tetapi ketika pelanggaran nyata terjadi, respons yang diberikan sering kali tidak sebanding dengan penderitaan yang dialami korban. Resolusi demi resolusi tidak berdaya ketika berhadapan dengan kepentingan politik dan kekuatan militer negara-negara besar.
Standar ganda kemanusiaan tampak begitu jelas. Pelanggaran di satu tempat cepat dihukum dan dijatuhi sanksi, tetapi di tempat lain dibiarkan berlarut-larut. Retorika tentang perdamaian sering kali berhenti pada pidato dan konferensi, tanpa diikuti tindakan tegas yang mampu menghentikan kekerasan. Akibatnya, rakyat Palestina terus menjadi korban dari sistem global yang lebih mementingkan kepentingan strategis daripada nilai kemanusiaan.
Persatuan, Kepemimpinan, dan Perjuangan Bermartabat
Islam memandang penjagaan jiwa (hifzh an-nafs) sebagai prinsip mendasar dalam syariat. Setiap nyawa tak berdosa memiliki kehormatan yang wajib dilindungi.Karena itu, kejahatan terhadap warga sipil tidak dapat dinormalisasi. Tidak boleh ada pembenaran atas pembunuhan terhadap perempuan dan anak-anak. Islam menegaskan larangan keras membunuh non-kombatan, merusak fasilitas umum, dan melampaui batas dalam peperangan. Prinsip ini menunjukkan bahwa Islam berdiri di atas keadilan dan kemuliaan manusia.
Namun solidaritas tidak cukup berhenti pada simpati dan doa. Umat Islam membutuhkan kesadaran kolektif dan persatuan yang nyata. Ketika umat tercerai-berai oleh batas nasional dan kepentingan politik, kekuatan mereka melemah. Sebaliknya, persatuan akan melahirkan daya tawar politik dan diplomatik yang lebih kuat dalam membela rakyat tertindas.
Kepemimpinan yang berpihak pada umat dan berani memperjuangkan keadilan sangat dibutuhkan. Dunia Islam memiliki potensi sumber daya, populasi, dan posisi strategis yang besar. Jika potensi ini disatukan dalam kerja sama diplomasi, ekonomi, dan kemanusiaan yang kokoh, maka tekanan terhadap pelanggaran HAM dapat diperkuat. Bantuan kemanusiaan harus terus digalakkan, advokasi internasional harus diperluas, dan solidaritas global harus dibangun di atas nilai keadilan.
Jalan keadilan yang harus ditempuh dengan kebijaksanaan, keteguhan, dan persatuan.Gaza hari ini adalah cermin bagi dunia. Apakah kemanusiaan benar-benar dijunjung tinggi, atau sekadar menjadi slogan tanpa makna? Selama kezaliman masih terjadi, suara pembelaan tidak boleh padam. Namun suara itu harus tetap berada dalam koridor nilai Islam dengan menegakkan keadilan, menjaga jiwa manusia, dan memperjuangkan perdamaian yang hakiki.
Wallahu a‘lam bish-shawab.

Posting Komentar