-->

Akankah SKB Menjadi Solusi Koyaknya Jiwa Anak?


Oleh : Nur Faktul (Aktivis Muslimah) 

Kasus kesehatan jiwa pada anak-anak terus melonjak hingga hari ini. Seperti kasus anak bunuh diri, bullying, pelecehan seksual hingga kekerasan fisik maupun non fisik. Hal ini membuat kesehatan jiwa dan mental pada anak berada dititik kritis. Terlebih lagi kasus kasus ini seringkali terjadi pada ruang lingkup yang harusnya sangat aman bagi anak namun justru menjadi momok tersendiri. Seperti ditengah keluarga, sekolah hingga pertemanan. Untuk itu pemerintah mengambil langkah serius dengan teken SKB (surat keputusan bersama) sembilan kementerian dan lembaga. Diharapkan dengan SKB ini mampu memulihkan kembali kesehatan mental anak. Menko Pratikno menyoroti peran masing-masing sektor yang dipimpin oleh sembilan kementerian dan lembaga itu untuk mengatasi isu kesehatan jiwa anak-anak, mulai dari masalah keluarga yang kerap menjadi latar belakang isu kesehatan jiwa anak, selain juga kekerasan sekolah dan madrasah, sampai paparan terhadap konten tertentu di media sosial. Sehingga dibutuhkan kerjasama dengan banyak kementerian. antaranews.com

Krisis kesehatan mental hari ini merupakan hasil dari penerapan sistem sekuler di negeri ini. Dimana setiap orang bebas bertingkah laku tak peduli itu merugikan diri sendiri ataupun orang lain. Batasan halal haram yang harusnya jadi tolok ukur perbuatan kini tak lagi diindahkan. Sekolah bukan lagi jadi tempat pembentukan kepribadian, mental dan jiwa anak agar kuat ketika diterpa masalah, melainkan sebagai perantara mencari materi semata. Keluarga dan pertemanan yang harusnya saling ber amar makruf nahyi mungkar justru menjadi ajang saling memanfaatkan. Sistem sekuler membuat pemerintah hanya berfokus pada solusi setelah terjadi masalah bukan menyelesaikan pada akarnya. Ibarat genteng bocor, mereka hanya sibuk menadah airnya bukan memperbaiki gentengnya. Mengatasi krisis mental ini tak cukup hanya SKB, namun harus benar-benar menyelesaikan dari akar masalahnya dengan tegas bukan sekedar pertimbangan manfaat.

Sebagaimana islam yang dengan tegas mengarahkan pendidikan agar berbasis keimanan dan ketaqwaan, sehingga anak akan memiliki kepribadian dan mental yang sehat. Menyaring semua media sosial agar mampu mendukung pembentukan mental anak. Negara dengan sistem islam akan bertanggungjawab menjadi seorang pemimpin yang melindungi anak dan keluarga dari paparan nilai sekuler dan liberal kapitalistik. Dan semua paradigma politik dalam sistem pendidikan, kesehatan bahkan ekonomi harus diatur berdasarkan syariat islam. Dengan sistem islam maka problem seperti krisis kesehatan mental pada anak tidak akan pernah terjadi, sebab negara akan menjadi perisai terdepan agar anak-anak menjadi tonggak peradaban yang dinanti. MasyaAllah. Wallahu a'lam bi shawab.