Darurat Banjir Masih Menghantui, Kapan Berakhir?
Oleh : Dinda Kusuma W T
Musim penghujan tahun ini telah berlalu sekian bulan. Terhitung kurang lebih sejak September 2025 hingga melewati 2026 musim hujan belum ada tanda-tanda akan berakhir. Sejatinya hujan adalah berkah yang diturunkan dari langit oleh Allah Swt. Sayang, buruknya perilaku manusia terhadap lingkungan membuat hujan tak lagi membawa berkah, bahkan membawa bencana besar yang memilukan. Banjir dan tanah longsor yang menimpa Aceh dan Sumatera Utara akhir tahun 2025 lalu adalah salah satu bencana besar yang selayaknya negeri ini bisa mengambil hikmah.
Pasca banjir dan tanah longsor yang menimpa Sumatera, ternyata masih banyak banjir-banjir lain yang menyusul. Fakta pahit yang harus kita terima bahwa bumi Indonesia telah menyalakan alarm cukup keras. Bahwa alam sudah sangat rusak dan kerusakn tersebut masif diseluruh penjuru negeri. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan bahwa hingga Selasa (27/1/2026) pukul 08.00 WIB, terdapat total 205 kejadian bencana di Indonesia sepanjang 2026, dengan 127 di antaranya merupakan bencana banjir (godstat.id, 27/01/2026).
Disisi lain, negara tampak abai dalam mengatasi persoalan banjir ini. Baik secara preventif maupun kuratif. Penanganan korban bencana berjalan sangat lamban. Hingga kini, belum ada komitmen khusus dari negara terkait menyudahi darurat banjir dan tanah longsor ini. Dari bencana Sumatera saja masih banyak PR negara yang terbengkalai. Belum lagi bajir di wilayah-wilayah lain.
Bencana banjir memang hampir selalu terjadi saat musim hujan. Meskipun begitu, pemicu banjir bukanlah hujan semata, faktor paling berperan terjadi banjir dan longsor adalah antropogenik atau pengaruh ulah manusia. Kerusakan lingkungan, menyebabkan daerah makin rentan terhadap banjir dan longsor. Beberapa kerusakan lingkungan pemicu longsor dan banjir seperti lahan kritis meluas, daerah aliran sungai kritis, persentase ruang terbuka hijau dan hutan minim, permukiman di dataran banjir, pelanggaran tata ruang, dan pengelolaan sampah buruk. Lalu sedimentasi, budidaya pertanian di lereng-lereng perbukitan atau pegunungan tanpa kaidah konservasi, dan lain-lain.
Akumulasi berbagai masalah ini, lebih tinggi dibandingkan upaya pengelolaan lingkungan menyebabkan wilayah makin rentan. Saat musim hujan, seolah-olah menakutkan karena akan muncul banjir, longsor, dan puting beliung yang selalu timbul korban jiwa. Begitu pula saat kemarau, muncul kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan, krisis air, kekeringan dan lain-lain. Politik lokal juga makin meningkatkan kerentanan, makin merebaknya izin usaha pertambangan di bagian hulu daerah aliran sungai, pendanaan pengurangan risiko bencana yang minim, staf profesional yang ditempatkan pada jabatan-jabatan strategis dan lain-lain terbatas. Tentu saja, masalah paling utama adalah berkurangnya hutan di Indonesia secara signifikan.
Fakta ini menunjukkan kepada kita bagaimana kejamnya para kapital. Mereka tidak segan melakukan perusakan hutan demi keuntungan pribadi semata. Tidak peduli pada dampak jangka panjang yang ditimbulkan. Pada akhirnya, masyarakat bawah lah yang paling merasakan kesengsaraan. Bencana alam seperti banjir dan tanah longsor bisa menyebabkan kerugian yang besar, baik materi maupun korban jiwa. Kerugian ini tidak mungkin menimpa para kapital yang bersekongkol merusak hutan, melainkan menimpa rakyat kecil yang hidup disekitar hutan tersebut. Lebih jauh lagi, kerusakan hutan global akhirnya akan merubah iklim dan menghancurkan bumi secara perlahan-lahan.
Kapitalisme hanya melihat kekayaan alam sebagai modal untuk meraup keuntungan. Para kapitalis memiliki ketergantugan atas sumber daya alam dengan melakukan pembebasan lahan, pertambangan, pemukiman, dan lainnya demi mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Bahkan hutan dijadikan komoditi dalam memajukan ekonomi nasional. Pertumbuhan ekonomi juga memberi peran sehingga mendorong manusia melakukan eksploitasi hutan tanpa memperhatikan kelestarian hutan dalam jangka panjang.
Inilah keniscayaan dalam sistem kapitalisme. Suatu sistem dimana segala sesuatu diukur dengan pertimbangan untung rugi secara materi. Sistem yang memungkinkan segelintir kaum pemilik modal memonopoli perekonomian dan mampu mengeksploitasi alam sekehendak mereka. Sistem yang menyengsarakan ini harus kita tinggalkan. Saatnya kita segera beralih kepada sistem yang lebih baik dan sempurna yaitu islam.
Dalam sistem islam, tidak akan terjadi eksploitasi alam secara besar-besaran dan sembarangan. Semua kebijakan dilakukan bukan demi keuntungan materi dan segelintir golongan belaka. Sebab sistem islam bertumpu pada rasa keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Seandainya hanya sistem islam yang diterapkan diatas muka bumi, maka niscaya Allah akan senantiasa menurunkan keberkahan dan tidak akan mendatangkan bencana bagi manusia. Wallahu A'lam bishsawab.

Posting Komentar