-->

Sisi Politik Isra’ Mikraj yang Kerap Terlupakan‎


‎‎Peristiwa Isra’ Mikraj yang mengisyaratkan kepemimpinan Islam, yaitu isyarat kepemimpinan umat Islam atas seluruh agama, bangsa, dan umat lain di seluruh dunia kerap luput dari pembahasan ketika memperingati peristiwa tersebut. 

“Sisi politik peristiwa Isra’Mikraj kerap luput dari pembahasan ketika perayaannya yang digelar di penjuru negeri,” ungkap Aktivis Muslimah, Ustadzah Weny Ummu Fatih, dalam Kajian Muslimah Shalihah Rutin, Isra Mi'raj: Dimensi spiritual dan Politik, (24/12/2026) di Cipayung, Depok.‎
Padahal, menurut Weny, sisi politis inilah yang penting diketahui Muslim seluruh dunia agar semangat menjalankan Islam secara kaffah dan melanjutkan kehidupan Islam tak pernah padam. 
‎”Merujuk sebuah kitab karya Prof. Dr. Rawwas Qal’ah Jie berjudul Qirā`ah Siyāsiyyah li As-Sīrah An-Nabawiyyah halaman 75-83, isyarat kepemimpinan itu nampak ketika peristiwa Isra’, yakni ketika Rasulullah SAW diperjalankan oleh Allah SWT dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha,” jelasnya di hadapan 12 peserta.
‎”Nah, di Masjidil Aqsha inilah, Rasulullah SAW shalat bersama para nabi dan Rasulullah SAW tampil sebagai imam. Berarti di belakang Rasululah SAW adalah para makmum yang terdiri dari nabi-nabi, di antaranya Nabi Musa dan Nabi Isa, ‘alaihimā as-salām,” lanjutnya.
‎Dari peristiwa itulah, paparnya, Prof. Dr. Rawwas Qal’ah Jie menuliskan telah terjadi pencabutan estafet kepemimpinan Bani Israil yang memimpin dunia saat itu yang selanjutnya diberikan kepada umat Muhammad SAW. “Hal ini jelas mengandung isyarat keridhan Allah akan kepemimpinan umat Islam sebagai penerus peradaban,” sebutnya.
‎Lanjutnya, dengan demikian, sejak peristiwa itu pula, manusia menjadi tidak sah beramal dengan ibadah agama-agama Bani Israil (Yahudi dan Nasrani) yang telah mengalami banyak sekali distorsi dan perubahan (tahrīf). 

“Inilah salah satu pelajaran terpenting dari peristiwa Isra’ Mi’raj dalam dimensi politik," pungkasnya.[]Mega Marlina