Dari Diplomasi ke Konfrontasi, Iran di Ujung Tanduk?
Oleh : Evi Derni S.Pd
Teheran, otoritas Iran membantah pihaknya telah mendapat ultimatum dari presiden Amerika Serikat, Donald Trump untuk mencapai kesepakatan nuklir. Trump sebelumnya mengklaim dirinya telah memberikan tenggang waktu kepada Teheran untuk memulai perundingan dan mengancam aksi militer Trump. Dalam pernyataan terbaru pada minggu 1 Februari kembali mengharapkan agar Amerika Serikat dapat mencapai kesepakatan dengan Iran setelah, pemimpin tertinggi Teheran Ayatullah Ali Khemenei memperingatkan bahwa setiap serangan Amerika Serikat terhadap Iran akan memicu perang regional. (detiknews, Senin 2 Februari 2026).
Apa yang akan mungkin kita saksikan di Iran dalam beberapa waktu yang akan datang, kemungkinan opsi sudah ada di mejanya Trump, mau memakai cara kasar atau cara lain untuk menekan, karena ujung dari semua tidak akan jauh-jauh dari rezim change (perubahan rezim) dan tentu ini harus kelihatan legal. Kalau rakyat menuntut untuk mengganti bukan hanya orangnya misalnya tuntutan untuk pemimpin tertinggi Iran yaitu Ali agar turun, bahkan juga menuntut pergantian sistem yang sekarang disebut wilayatill fiqih yang termanifestasikan dalam Republik Islam Iran yang mulai banyak digugat. Amerika Serikat punya banyak strategi termasuk menjadikan kekuatan oposisi dan situasi krisis terutama krisis ekonomi sebagai pintu masuk sebagaimana pada tahun 1998.
Penting untuk kita pahami apa yang terjadi di Iran adalah sebuah gerakan politik yang berpotensi menjadi serangan militer secara nyata, sebagaimana yang dilakukan di Venezuela atau yang terjadi pada tahun kemarin perang 12 hari. Hal ini sebenarnya hanya akal-akalan saja, Sesungguhnya ini bukan perang walaupun kelihatan seperti perang. Bahwa ini hanya sidopor (perang semu) hanya untuk membangun pencitraan.
Iran pada faktanya memiliki banyak kelemahan yang menjadi celah berbagai upaya untuk intervensi asing dan unsur oposisi, salah satunya melalui mata uang yang akhirnya membuat mereka mengalami demonstrasi. Meski mereka masih mampu bertahan sampai hari ini, karena mereka transaksi tanpa tergantung pada dolar yang ada di sana, salah satunya dengan Cina, Rusia. Iran tetap rapuh dalam permainan politik entitas Yahudi dan Amerika Serikat.
Kini AS menemukan momentum kemarahan rakyat akibat krisis ekonomi. Krisis ekonomi ini merupakan bahan bakar yang ampuh untuk mengobarkan perlawanan. Internal Iran memang sedang babak belur, ekonomi yang karut-marut, dan sanksi internasional PBB, AS dan negara-negara lainnya membuat kondisi Iran kian terjepit. Sistem teokrasi yang sedang berjalan berada di ujung tanduk. AS sedang mengupayakan hal itu dan menginginkan sosok baru untuk berkuasa di Iran. Apalagi dengan perkembangan peta jalan Baru Timur Tengah AS berupaya membagi wilayah ini dan tidak menginginkan ada negara besar di kawasan itu sebagaimana kebijakan politiknya di masa lalu. AS hendak menjadi penguasa tunggal dan menentukan rencana barunya untuk Timur Tengah. Jika Iran nantinya mengangkat pemimpin baru tentu AS akan memastikan posisinya hanya sekedar boneka. Sesungguhnya Iran hanya membatasi diri saja sampai pada titik dia tidak diserang, tidak benar-benar mengusir entitas Yahudi prozionis. Maka penting kita ingatkan kembali urgensi kekuatan alternatif untuk mengalahkan Amerika Serikat dan para sekutunya.
Umat Islam harus memiliki kekuatan adidaya yaitu Khilafah Islam. Kalau narasi nya tetap seperti apa yang terjadi di Iran betapa banyak rakyat Iran yang menjadi korban. Kita ingatkan terus untuk bersikap kritis dan melakukan kritik dengan basis Islam. Fokuslah membangun adidaya Baru menuju kebangkitan hakiki dengan tegaknya Khilafah karena inilah yang nanti akan memberikan harapan bukan malah memberikan pencitraan yang akan membuat islam dan umat Islam terus menjadi objek kezaliman dan penjajahan kafir Barat.
Bahkan dalam piagam itu solusi dua negara pun tidak disinggung. Andai disinggung itu sesuatu yang ganjil karena masih mengakui penjajah Israel. Bagaimana Indonesia begitu yakin? kita melihat ini tepatnya sebagai politik pragmatis, pertimbangan kekuasaan politik, jika tidak bisa melawan maka harus mengikuti sangat jauh dari pertimbangan ideologis, termasuk prinsip kita sendiri yang mengatakan bahwa penjajahan di muka bumi harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan. Israel menjajah Palestina kenapa terus dibiarkan?
Maka, penting nya kita menanamkan menyemaikan visi perjuangan termasuk kepada para pemimpin dunia islam bahwa mereka sebenarnya mau mengurus rakyat ini dengan Islam atau tidak atau mereka hanya mengurus diri sendiri sehingga seharusnya ada keberanian. Maka, kita ingatkan kembali bahwa akar masalahnya adalah penjajahan maka penjajahnya itu yang harus diusir, untuk mengusir butuh kekuata, kekuatan itulah yang kemudian harus dibangun di tengah-tengah kaum muslimin. Inilah peluang dari sisi bangkitnya satu konstelasi baru dan mudah-mudahan umat Islam di berbagai tempat semakin menyadari tentang pentingnya mereka bersatu hingga kemudian nanti akan ada kekuatan politik yang riil yaitu Khilafah Islam.
Wallahu ‘alam Bishawab.

Posting Komentar