ADA APA DIBALIK PROYEK NEW GAZA?
Oleh : Hotmalailatur Ramadhani Simbolon S.Pd
Pembicaraan tentang masa depan Gaza wilayah yang selama bertahun-tahun menjadi pusat konflik Israel dan Palestina kembali memanas di awal 2026. Pemerintah Amerika Serikat mengumumkan rencana mereka "membangun Gaza Baru"—proyek pembangunan dari nol wilayah Palestina yang hancur. Merujuk salindia presentasi resmi, AS akan membangun puluhan gedung pencakar langit, yang membentang di sepanjang pantai dan bekas perumahan di kawasan Rafah yang telah luluh lantak. Presentasi proyek ini disampaikan selama seremoni penandatanganan "Dewan Perdamaian" yang digagas Presiden AS, Donald Trump, di sela kegiatan Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss,(BBC.news 22/01/2026).
Peta yang ditampilkan pemerintah AS juga menunjukkan rencana pengembangan kawasan perumahan, pertanian, dan industri baru secara bertahap, untuk populasi yang mereka targetkan sekitar 2,1 juta orang.Peta Rencana Induk AS menunjukkan zona-zona yang disediakan untuk "wisata pantai", di mana mereka akan membangun 180 menara apartemen.Selain itu ada pula sejumlah zona untuk kawasan perumahan, kompleks pertanian dan industri, pusat data, manufaktur canggih, serta taman, dan fasilitas olahraga".Sebuah pelabuhan laut dan bandara baru dekat perbatasan Mesir, juga masuk dalam perencanaan tersebut, sehingga akan ada "penyeberangan trilateral" di mana perbatasan Mesir dan Israel bertemu.
Rekonstruksi akan dibagi menjadi empat fase, dimulai dari Rafah dan secara bertahap bergerak ke utara menuju Kota Gaza.Kushner mengatakan, dia yakin pembangunan "Rafah Baru" dapat diselesaikan dalam dua hingga tiga tahun.mereka sudah mulai membersihkan puing-puing dan melakukan sebagian pembongkaran. Dan, kemudian Gaza Baru. Itu bisa menjadi harapan, bisa menjadi tujuan, dengan banyak industri."Setelah itu, AS mengambil alih wilayah tersebut untuk mengubahnya menjadi "Riviera Timur Tengah".
Padahal Kondisi kemanusiaan juga masih sangat parah ditengan konflik dan genosida yang sedang terjadi.Hampir 1 juta orang kekurangan tempat tinggal yang memadai dan 1,6 juta orang menghadapi tingkat ketidakamanan pangan akut yang tinggi, menurut PBB.Tingkat kehancuran di Jalur Gaza kini "berada di kisaran 84%, dan di beberapa wilayah seperti Kota Gaza bahkan mencapai 92%,dan ditegah reruntuhan Gazah yang belum sempat dibersihkan dari darah dan puing-puing kehancuran gazah.sementara 2,2 juta penduduk Gaza dalam krisis kemanusiaan akut dengan sekitar 90 persen infrastruktur sipil hancur dan akses terhadap makanan,obat-obatan serta tempat tinggal dibatasi secara sistematis.
Maka proyek New Gaza akan menambah derita Palestina yang pada ahirnya membuka jalan mudah bagi penjajah AS menghilangkan kaum muslimin yang ada di Palestina serta akan menutup fakta bahwa tanah Gaza adalah milik kaum muslimin. Sejak awal, visi “New Gaza” memicu perdebatan tajam. Kritik utama tidak selalu tertuju pada skala bangunan, melainkan pada asumsi dasarnya. Banyak pengamat menilai bahwa pembangunan ekonomi tidak bisa dilepaskan dari isu kedaulatan, keamanan, dan hak politik warga Palestina. Ada pula kekhawatiran bahwa transformasi pesisir menjadi kawasan bernilai tinggi dapat mendorong marginalisasi penduduk lokal. Tanpa jaminan hak kepemilikan dan partisipasi, pembangunan vertikal berisiko menjadi simbol ketimpangan baru.Dengan kata lain, pertanyaan kuncinya bukan apakah 180 gedung tinggi bisa dibangun, melainkan untuk siapa dan dalam kerangka kekuasaan seperti apa? ataukah ini menjadi strategi baru untuk menguasai wilayah baru dan bisnis internasional? Rencana New Gaza juga muncul ditengah masih rapuhnya gencatan senjata di Gaza ketidak jelaskan nasib warga Palestina ditangan mereka dan krisis kemanusiaan yang parah.
New Gaza adalah program rusak yang mempromosikan seolah Gaza hancur libur karena gagal mengelola dirinya sendiri,padahal pada faktanya gazah dihancurkan secara sistematis oleh penjajahan Zionis AS mengubah Gaza menjadi proyek ekonomi adalah cara halus untuk menormalisasi penjajahan.
Donald Trump berbicara soal stabilitas yang dikorbankan suatu bangsa, yang dibayangkan adalah peta baru,nilai baru,untung baru,era Baru dan kekuatan yang baru,ketika momentum tiba mereka akan berlagak seperti otoritas perdamaian dan penentu jalan dan keputusan padahal semua itu hanyalah keuntungan bisnis dan politik pribadi dengan tenang berkata atas nama keamanan dan kedamaian mereka duduk sebagai penentu nasib mereka menunjuk siapa yang harus dikorbankan lalu dunia akan kehilangan kedamaian. Bukan karena rakyat tetapi arsitek yang menyamar sebagai penyelamat,inilah pola klasik kekuasaan menjadi otoritas damai sambil diam-diam menjadi produsen kekacauan dan kezholiman.padahal damai di hadapan mereka hanya ada jika kekuasaan tetap aman dan korban tetap bisa diganti.
Warga Gaza tidak pernah membrontak, mereka tidak memiliki senjata yang menghancurkan. mereka adalah korban yang sebenarnya,bukan ancaman yang terbukti bersalah.ini akan menjadi contoh perumpamaan pola kekuasaan yang selalu bermain di dua sisi yaitu sisi terkuat dan sisi paling terlemah. Maka yang harus kita bandingkan adalah kekuasaan bukan penderitaan,fiksi dipakai sebagai kaca pembesar pola bukan untuk melihat dan menyederhanakan tragedi nyata,korban tetaplah korban. Dalam dunia apapun itulah teknik kekuasaan dan introgasi keras mereka,brutal,penuh dengan ancaman,dan membuat dunia semakin kacau,kejahatan-kejahatan yang dihiasi dengan drama,penindasan tampil seperti keputusan sulit. Genosida dibungkus sebagai dilema moral dan berprikemanusiaan. Maka yang tersisa hanyalah dunia yang belajar berempati pada pelaku bukan pada korbannya. Kejahatan modern jarang tampil bengis ia hanya datang dengan narasi,air mata didepan camera dilengkapi dengan pidato yang penuh empati membuat pelaku tampak manusiawi sementara korban perlahan dilupakan.kita diajak memahami pelaku dan diminta sabar melihat korban serta dengan suka rela memberikan dukungan dan Perlindungan pada pelaku kerusakan atas nama kedamaian,keamanan dan keadilan. Padahal setiap data dan laporan,setiap suara yang terdengar adalah bukti yang tidak bisa dihapus apalagi dibantah. Rakyat Palestina berhak untuk merdeka ditanah mereka sendiri. sekali lagi, ini bukan lagi tentang politik yang begitu rumit tapi ini tentang kemanusiaan penghapusan etnis muslim secara terang-terangan. ini adalah cara mereka menertawakan seluruh dunia islam dan menganggap bahwa merekalah yang berhak mengatur Gaza ,dan merekalah yang berhak menentukan akan menjadi apa, dan proyek New Gaza ini akan menjadi serial dengan pelucutan senjata,monopoli kekuatan dan kekuasaan semuanya dilucuti dan hanya akan dikelola kekuatan internasional yang nantinya akan menjadi kota metropolitan "Yerusalem Baru" Gaza Metropole.
Dunia sedang mengajarkan kita hal aneh,korban diminta memahami keadaan,pelaku genosida dijaga martabatnya. Maka jika begini bentuk keadilan akan kalah. Bukan Palestina yang kalah tapi hati manusia itu sendiri dalam menyuarakan keadilan. Palestina hanya meminta agar keadilan tidak berpura-pura tuli. Saat kezholiman berbicara dengan lantang. Gaza benar-benar sendiri. Harusnya ini menjadi alarm yang serius bagi kaum muslimin di seluruh dunia bahwa menyetujui rencana Amerika Serikat untuk membangun Gaza Baru adalah langkah yang paling mudah untuk menghilangkan kaum muslimin bahkan di seluruh dunia. Ide tersebut juga mirip dengan bentuk lain dari pembersihan etnis atau kolonialisasi modern. Padahal Al-Qur'an tidak pernah meminta kita untuk menoleransi yang mengaku sebagai perbaikan dan kedamaian begitu juga islam tidak pernah mengajarkan perdamaian dengan memberikan keamanan dan dukungan kepada pelaku kezholiman. Selama penjajah belum dihancurkan setiap proyek hanyalah perpanjangan tangan kolonialisme,karena itu islam bukanlah konstruksi semu melainkan pembebasan total dibawah kepemimpinan Khilafah.
Wallahu a'lam bishowab.

Posting Komentar