-->

Rajab, Isra Mi’raj, dan Rindu yang Terpendam


Oleh : Meidy Mahdavikia

Setiap kali bulan Rajab menyapa, kita sering mendapati kehidupan social kembali riuh dengan berbagai perayaan Isra Mi’raj. Media massa sering menampilkan peristiwa ini sebagai perjalanan penuh pesan kedamaian. Sebagaimana dilansir dari Liputan6.com (10/01/2026), peringatan Isra Mi’raj 2026 kerap dipandang sebagai ajakan hangat untuk memperkuat ibadah shalat dan menautkan kembali hati seorang hamba kepada Allah Subhanahu Wa Ta‘ala di tengah arus kehidupan modern yang serba cepat ini. Hal serupa juga dikutip dari Detik.com (10/01/2026), yang mengulas beragam tema Isra Mi’raj di sekolah dan masjid, dengan fokus pada pembentukan akhlak mulia serta ketenangan hati bagi generasi muda. Bahkan Tirto.id (11/01/2026), turut menyajikan naskah ceramah Isra Mi’raj yang dikemas dengan nada santai dan komunikatif agar nilai religiusnya dapat diterima oleh berbagai kalangan tanpa terasa berat.

Namun, jika kita mau jujur pada diri sendiri, ada sebuah kerinduan akan makna yang lebih mendalam dari sekadar seremoni rutin tahunan. Isra Mi’raj selama ini diperingati dengan penuh khidmat dan mengandung banyak inspirasi kebaikan, namun nilai-nilainya masih perlu lebih diwujudkan agar dapat dirasakan manfaatnya dalam menghadapi persoalan kehidupan yang nyata. Perjalanan agung Rasulullah SAW. ke langit sejatinya terjadi pada masa ketika beliau menghadapi tekanan sosial dan politik yang sangat berat di Makkah. Artinya, peristiwa ini bukan semata tentang ketenangan batin, melainkan juga penguat tekad bagi perjuangan dakwah yang menyeluruh. Di balik peristiwa tersebut terdapat pesan tentang hukum Allah Subhanahu Wa Ta‘ala yang menjadi pedoman agar kehidupan manusia di bumi dapat berlangsung secara adil dan penuh keberkahan.

Dalam catatan sejarah, kita mengetahui bahwa tidak lama setelah peristiwa Isra Mi’raj terjadi, muncul kesepakatan besar yang dikenal sebagai Baiat Aqabah. Peristiwa ini menjadi titik penting yang membawa petunjuk Allah Subhanahu Wa Ta‘ala untuk membentuk arah kehidupan masyarakat yang baru. Sayangnya, pembicaraan yang mengaitkan hubungan nilai-nilai ilahiah dengan kehidupan sosial dan politik semakin jarang kita dengar. Sistem kehidupan yang cenderung memisahkan agama dari kehidupan membuat makna Isra Mi’raj terasa kurang utuh. Kita seakan diajak untuk shalat dengan khusyuk di masjid, namun diminta membiarkan urusan ekonomi, hukum, dan kekuasaan berjalan jauh dari petunjuk Ilahi.

Saat Hukum Allah Tidak Lagi Menjadi Rujukan

Berbagai tragedi yang menimpa dunia muslim saat ini sering muncul di layar kaca hanya sebagai berita duka atau persoalan kemanusiaan yang berulang tanpa ujung. Penderitaan rakyat Palestina, misalnya, kerap dilaporkan sebagai konflik wilayah semata. Padahal, jika ditelaah lebih dalam, akar masalahnya berpangkal pada tatanan global yang sangat sekuler dan materialistik. Dalam sistem ini, hukum Allah Subhanahu Wa Ta‘ala dipisahkan dari pengaturan kehidupan bersama, sementara urusan sosial, politik, dan ekonomi sepenuhnya berada di tangan kekuatan yang kerap mengutamakan kepentingan tertentu.

Nasib saudara kita di Rohingya dan Uighur, yang juga sering dikutip media sebagai tragedi kemanusiaan, sejatinya memperlihatkan luka yang sama. Setelah Khilafah sebagai pemersatu umat runtuh lebih dari satu abad yang lalu, umat Islam hidup dalam perpecahan, terkotak-kotak dalam banyak entitas kecil yang mudah dipengaruhi dan ditekan oleh kepentingan global. Ketika hukum Allah Subhanahu Wa Ta‘ala tidak lagi dijadikan pedoman, yang muncul adalah kebijakan yang mendzalimi, jurang ekonomi yang semakin lebar, serta kerusakan sosial dan lingkungan. Dampaknya bukan hanya dirasakan oleh kaum muslimin, tetapi juga oleh seluruh umat manusia.

Dalam cara pandang sekuler, shalat yang dibawa Rasulullah SAW. melalui peristiwa Isra Mi’raj sering dipahami sebatas sebagai kewajiban individu. Padahal, dalam Islam, menegakkan shalat tidak hanya soal ibadah pribadi, tetapi juga tentang ketaatan kepada hukum Allah Subhanahu Wa Ta‘ala dalam seluruh kehidupan. Selama manusia masih lebih mengandalkan hukum buatan sendiri yang penuh kepentingan, kedamaian sejati akan sulit tercapai. Sistem sekuler demokrasi yang diterapkan di banyak tempat pun membuat hukum Allah Subhanahu Wa Ta‘ala semakin tersisih, padahal hukum-Nya adalah rahmat bagi seluruh alam.

Menegakkan Syariat, Mengembalikan Kejayaan

Momentum Isra Mi’raj seharusnya menjadi kesempatan kita berhenti sejenak, merenungkan, dan memikirkan langkah-langkah yang lebih nyata dan menyeluruh untuk kebaikan umat. Mengembalikan kemuliaan Islam tidak cukup hanya dengan memperbaiki akhlak diri sendiri, tetapi juga membutuhkan usaha nyata untuk menghadirkan sistem kehidupan yang berlandaskan syariat Allah Subhanahu Wa Ta‘ala secara menyeluruh. Kerinduan umat akan persatuan negeri-negeri Muslim dan kebebasan Palestina tak bisa lepas dari kepemimpinan yang adil dan teguh pada kebenaran. Menegakkan hukum Allah Subhanahu Wa Ta‘ala di muka bumi menjadi kunci untuk mengakhiri penindasan dan ketidakadilan yang menimpa banyak umat.

Sejarah Islam memperlihatkan bahwa umat ini memiliki warisan keteladanan yang besar. Tokoh seperti Sholahudin Al Ayubi dan Muhammad Al Fatih dikenal bukan hanya karena keshalehan pribadi, tetapi juga karena kepemimpinan mereka dalam menegakkan keadilan dan melindungi masyarakat. Mereka menyatukan teladan kenabian dan tanggung jawab kepemimpinan untuk menjadikan hukum Allah Subhanahu Wa Ta‘ala sebagai landasan kehidupan. Kepemimpinan Islam yang meneladani Rasulullah SAW menjadi upaya panjang untuk menghadirkan kembali pesan Isra Mi’raj dalam kehidupan sosial umat.

Dengan berhenti menjadikan Isra Mi’raj sekadar peringatan seremonial dan mulai memaknainya sebagai panggilan untuk perubahan yang sejati, umat akan diajak untuk berpikir lebih luas tentang arah peradaban Islam. Kepemimpinan Islam yang adil melalui penerapan Khilafah mampu mengembalikan martabat manusia dan menghadirkan kedamaian yang lama hilang di bawah sistem kapitalisme yang tidak adil. Bulan Rajab menjadi momentum untuk meneguhkan kembali komitmen, bahwa pesan langit yang disampaikan Rasulullah saw tetap relevan dan harus menjadi panduan bagi kehidupan umat di bumi saat ini.

Wallahu ‘alam