DI BALIK PERSETERUAN K-NETZ DAN SEABLINGS DI MEDSOS
Oleh : Irawati Tri Kurnia
(Ibu Peduli Umat)
Memantau perkembangan perseteruan antara K-Netz dan SEAblings akhir-akhir ini yang kian memanas dan berkembang menjadi perang digital, cukup seru dan menghibur. Tak pelak, ini hiburan terseru di awal bulan Ramadan ini. Perang digital antara Knetz dan SEAblings semakin memanas di platform X (dulu Twitter) pada awal 2026. Perseteruan di media sosial ini antara netizen Korea Selatan, yang dikenal sebagai Knetz; dengan netizen Asia Tenggara yang kemudian menyebut diri mereka sebagai SEAblings.
Konflik ini dimulai saat konser band Korea Selatan DAY6 yang digelar di Axiata Arena, Kuala Lumpur, Malaysia, pada 31 Januari 2026. Saat konser, sejumlah fansite asal Korea Selatan tertangkap membawa kamera profesional dengan lensa tele; yang oleh pihak promotor telah dilarang untuk dibawa ke venue dan dilarang penggunaan DSLR serta lensa besar demi kenyamanan penonton serta aturan hak cipta. Aksi itu direkam oleh penonton dan diupload, lalu viral di media sosial. Dari sinilah konflik bermula. Setelah foto dan video pelanggaran tersebar, netizen Malaysia mengkritik fansite yang dianggap tidak menghormati aturan dalam konser karena mengganggu penonton lain. Pihak fansite pun tersulut emosinya. Muncullah perdebatan panas (www.suara.com, Sabtu 14 Februari 2026) (1).
Awal perdebatan masih tentang etika konser. Tapi mulai memanas ketika salah satu fansite yang diprotes merespons dengan emosional, bahkan saat wajah oknum fansite yang melanggar aturan diunggah oleh sebagian penonton sebagai bentuk protes,; maka semakin menegang situasinya. Lantas sejumlah Knetz lantas menuding bahwa ini upaya doxing (menurut Cambridge Dictionary, Doxing adalah tindakan mencari atau mempublikasikan informasi pribadi seseorang di internet tanpa izin yang bersangkutan) . Dari sinilah gelombang komentar balasan mulai bermunculan, memperluas konflik dari isu aturan konser menjadi persoalan antar komunitas netizen. Tidak mereda setelah permintaan maaf oknum Knetz, konflik justru semakin melebar. Sejumlah akun yang diasosiasikan sebagai Knetz melontarkan komentar yang dianggap menyerang identitas masyarakat Asia Tenggara. Beberapa komentar menyentuh stereotip ekonomi, warna kulit, hingga mempertanyakan mengapa penggemar Asia Tenggara mendukung artis Korea. Narasi tersebut memicu kemarahan luas karena dinilai tidak lagi membahas insiden awal, melainkan menyerang martabat kawasan.
SEAblings adalah singkatan dari South East Asia Siblings. Ini adalah bentuk solidaritas digital kolektif antara netizen Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam. Mereka bersatu karena merasa ada kesamaan yang erat, yaitu sesama saudara Asia Tenggara yang menjadi obyek perundungan K-Netz. SEAbling meluncurkan "serangan balik" terhadap apa yang dipersepsikan sebagai kesombongan dan rasisme sistemik dari sebagian netizen Korea Selatan (KNetz) (www.kompas.com, Sabtu 21 Februari 2026) (2). Sebenarnya ini bukan luka pertama rasisme K-Netz pada warganet Asia Tenggara. Rekam jejak rasisme digital dari K-Netz terhadap Asia Tenggara memiliki sejarah panjang. Dulu di Indonesia ada skandal forum "Indosarang" pada 2024, web khusus orang-orang Korea, di mana para pekerja Korea di Indonesia ketahuan melontarkan hinaan terhadap agama dan fisik orang lokal Indonesia. Juga sebelumnya ada tindak rasisme orang-orang Korea terhadap Lisa BLACKPINK, hanya karena dia berasal dari Thailand. SEAblings mulai kehabisan kesabarannya dan membalas dengan isu-isu sensitif Korea seperti tingkat kelahiran yang rendah (zero birth rate), standar kecantikan yang obsesif, hingga tekanan sosial yang memicu angka bunuh diri tinggi.
Di balik memanasnya adu komentar antar dua kubu di dunia digital ini, ada fakta pergeseran geo ekonomi yang berpotensi menjadi ancaman terhadap pondasi ekonomi dan pengaruh politik Seoul di kawasan selatan. Para pengamat kebijakan luar negeri di Seoul sudah lama menyadari bahwa masa depan ekonomi Korea tidak bisa lagi hanya bergantung pada "empat kekuatan besar" (AS, China, Jepang, Rusia), tapi juga pada ASEAN melalui kebijakan New Southern Policy (NSP). Maka dirancanglah untuk mengangkat derajat hubungan Korea Selatan - ASEAN setara dengan hubungan mereka dengan Washington atau Beijing. Ini sebagai upaya perluasan target pasar. Tapi ada penghalang besar di sini. Saat pemerintah Korea Selatan sibuk menawarkan investasi ke pemerintah ASEAN, masyarakat digitalnya malah justru membangun tembok rasisme yang semakin tebal dari hari ke hari ke penduduk ASEANnya. Rasisme netizen bukan lagi sekadar masalah perilaku individu, tapi akan menjadi ancaman nyata bagi kepentingan nasional Korea.
Faktanya, ASEAN bukan sekadar perluasan pasar, tapi sudah menjadi jantung pertumbuhan bagi industri kreatif Korsel. Data tahun 2025-2026 menunjukkan Indonesia kini memegang pangsa pasar musik K-Pop global sebesar 18,47 persen, jauh tinggi dibandingkan Korsel sendiri yang hanya sekitar 7 persen. K-Drama dan industri layanan kecantikan (K-Beauty) pun sama, begitu juga di negara ASEAN lainnya. Kemakmuran agensi raksasa seperti HYBE Corporation (perusahaan hiburan multinasional dan konglomerat asal Korea Selatan ) atau SM Entertainment (salah satu perusahaan agensi hiburan dan label rekaman terbesar di Korea Selatan), serta stabilitas ekspor manufaktur Korea Selatan, sangat bergantung pada loyalitas netizen Asia Tenggara. Perlawanan SEAblings mengirimkan pesan yang sangat tajam bagi Seoul: "Jangan gigit tangan yang memberimu makan."
Paradigma sekuler kapitalistik telah mengubah wajah dunia maya. Yang dulu sebatas sebagai tempat mencari informasi, akhirnya menjadi sarana penghubung yang kebablasan antara pekerja seni dan penikmat karya seni, antara idol dan penggemarnya; yang cenderung menempatkan idol sebagai “segalanya” atau berhala baru. Menjadi penggemar hari ini bukan lagi soal menikmati musik atau karya; namun menyeret ke pusaran loyalitas, kesiapsiagaan, dan kesediaan untuk membela. Setiap kritik pada idol dianggap ancaman, setiap komentar negatif dianggap serangan (www.kumparan.com, Senin 23 Februari 2026) (3). Sehingga ketika Knetz atau netizen Korea mengeluarkan opini tertentu, banyak SEAblings (penggemar internasional) merespons bukan sebatas penggemar dan pembaca, tetapi sebagai pasukan berani mati untuk membela idolnya. Bahkan mereka membuat thread klarifikasi, membanjiri komentar, mengangkat tagar, dan memproduksi narasi tandingan; yang semua dilakukan sukarela dan tanpa kontrak. Mereka terikat dengan wujud figuritas pada Idol, dan dalam kasus ini bahkan menyeret pada pusaran ikatan batil lainnya yaitu berdasarkan persamaan warna kulit (sesama warga ASEAN yang rata-rata berkulit sawo matang), ikatan yang lemah karena hanya terikat saat situasi tertentu; yaitu seperti saat ini, mereka sama-sama dibully oleh pihak K-netz. Walau dalam hal ini, pihak SEAblings yang menjawab komentar balasan sebatas pembelaan diri bahwa mereka tidak serendah itu, itu bisa dibenarkan. Tapi jika ada yang balas mencaci maki, tentu ini tidak bisa dibenarkan. Warga Korsel pun sama, Sebagian netizen mereka merasa dirinya lebih unggul dibandingkan warga ASEAN, sebuah perasaan rasis yang batil, karena menganggap manusia unggul dari standar capaian duniawi. Padahal apa yang mereka lakukan dengan menghina dan merendahkan orang lain, itu menunjukkan kerendahan akhlak mereka sebagai manusia.
Pihak pemerintah Korsel yang meredam problem ini karena akan mengancam kepentingan ekonomi mereka pun, juga menunjukkan bahwa ekonomi sekuler kapitalistik saat ini sangat bergantung pada kemauan pasar, cenderung didikte oleh pasar. Tidak mampu menciptakan kemandirian pasar. Produk yang mereka pasarkan, berupa budaya K-Pop dan Drakor, juga skincare dan wisata, semua adalah produk menjual nilai-nilai kenikmatan duniawi, yang membius rakyat dunia sehingga semakin jauh dari nilai agama. K-Pop menjual khayalan, drakor menjual Impian duniawi, yang bisa diwujudkan dengan memakai skincare (produk kecantikan) dan tempat wisata mereka. Mirisnya, produk semacam ini yang mayoritas, sedangkan sisanya berupa kemajuan hasil iptek mereka seperti produk hp, produk elektronik, mobil, dan lain-lain; yang relative bebas nilai karen hasil karya manusia dari sains dan teknologi yang aman dikonsumsi.
Berbeda dengan Islam. Islam menekankan betul bahwa manusia dinilai berdasarkan ketakwaannya, bukan warna kulit dan kecantikannya. Ini mengacu firman Allah SWT :
"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa." (Terjemah Al-Qur’an surat Al-Hujurat: 13).
Sehingga pandangan rasisme adalah haram dalam Islam, seperti yang banyak bercokol di benak orang-orang Korsel; juga di benak Sebagian warga ASEAN.
Dulu saat Islam belum hadir di tengah-tengah manusia, masih banyak orang berperang hanya karena masalah sepele. Berebut Wanita, mata air, harta, kedudukan, dan lain-lain. Tidak jauh beda dengan kondisi masyarakat saat ini yang hanya perkara sepele mereka akhirnya berkelahi. Tak jarang ada yang berujung pada tindak pembunuhan. Tapi begitu Islam hadir, perbedaan warna kulit dan kesempurnaan fisik tidak menjadi berarti, karena Allah hanya memuji hamba-Nya yang paling bertakwa. Bilal yang bekas budak berkulit hitam legam, berdiri setara dengan sahabat Nabi yang lain yang berkulit putih, karena mereka sama-sama manusia yang bertakwa. Bahkan Bilal menduduki posisi Istimewa di hadapan umat Islam, karena terkenal sebagal muadzinnya Rasulullah yang kerap melantunkan suara adzan dengan indahnya.
Dalam Islam, pihak negara, yaitu Khilafah, tidak akan menerapkan kebijakan perdagangan luar negeri dengan mengimpor produk yang membahayakan akidah umat; seperti yang dilakukan negara-negara ASEAN saat ini terhadap produk K-Pop, drakor, produk kecantikan dan wisata. Karena di dalamnya sarat nilai hadharah (peradaban) yang khas dari negeri asalnya, yang akan memperlemah iman masyarakat. Music hanya boleh sebatas yang bisa memperkuat iman, seperti nasyid, dan tanpa mempertontonkan kecantikan dan lekuk tubuh Wanita. Film yang diperbolehkan yang berisi propaganda kebesaran nilai-nilai Islam dan arah kebijakan Khilafah yang memuliakan manusia. Produk kecantikan yang diperbolehkan tentu yang halal sehingga dipastikan sertifikasi halalnya oleh Khilafah, juga tidak diperuntukkan untuk mengeksploitasi kecantikan Wanita, tapi sebatas untuk kesehatan saja. Sedangkan wisata pun demikian, tidak akan dikomersialkan, tapi malah dibuka luas; dengan catatan wisatanya bersifat wisata religi dan bertujuan untuk memperkuat iman umat Islam. Produk K-Pop dan drakor rawan menempatkan idol sebagai berhala, sehingga produk seperti ini tentu akan dilarang masuk ke negeri Khilafah. Bagi warga Khilafah yang menghina warga lain pun, akan dikenai sanksi yang tegas. Khilafah juga berhasil mencegah upaya Kerajaan Perancis yang akan menggelar teater yang menghina Rasulullah, dengan mengancam akan mengirimkan pasukan untuk memerangi mereka. Karena tugas Khilafah untuk menjaga keimanan warganya, dan menjaga kemuliaan Islam, menjaga kemuliaan Allah dan Rasulullah, dan menjaga umat Islam.
Dengan pengaturan Islam secara sempurna dalam naungan Khilafah, pandangan rasisme bisa ditekan bahkan dihilangkan. Tentu ini didukung dengan beredarnya produk konsumsi music, film, produk kecantikan dan wisata yang bisa memperkuat iman warga Khilafah; sehingga perang saling hina di media sosial tidak akan terjadi.
Wallahualam Bisawab
Catatan Kaki :
(1) https://www.suara.com/lifestyle/2026/02/14/104248/9-fakta-dan-kronologi-perang-knetz-vs-seablings-memanas-di-medsos
(2) https://www.kompas.com/global/read/2026/02/21/134214070/geopolitik-seablings-vs-knetz-dan-alarm-keras-untuk-korea?utm_source=Various&utm_medium=Referral&utm_campaign=AIML_Widget_Mobile
(3) https://kumparan.com/saya-maulida/seablings-vs-knetz-ilusi-aktivisme-digital-26sHtuLHVsd

Posting Komentar