Era Digital dan Pengaruhnya Terhadap Gen Z dan Aktivisme
Oleh : Sari Bara Mutiara
Pendahuluan
Era digital merupakan keniscayaan sejarah yang tidak dapat dihindari. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah menghadirkan berbagai kemudahan dalam kehidupan manusia, mulai dari akses informasi, pendidikan, hingga partisipasi sosial dan politik. Namun di balik kemudahan tersebut, era digital juga membawa beragam pengaruh negatif yang secara perlahan membentuk cara berpikir, bersikap, dan bertindak generasi muda, khususnya Generasi Z (Gen Z).
Islam sejak awal telah mengingatkan bahwa setiap perubahan zaman membawa ujian bagi keimanan manusia. Allah SWT berfirman:
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan dari jenis manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu.” (QS. Al-An‘am: 112)
Ayat ini menegaskan bahwa pengaruh yang tampak indah dan menarik—termasuk melalui teknologi—tidak selalu netral dan dapat menyesatkan jika tidak disikapi dengan iman dan akal yang lurus.
Gen Z sering dipandang sebagai generasi yang lemah secara mental, mudah rapuh, dan terlalu bergantung pada validasi media sosial. Meski demikian, pada saat yang sama, Gen Z juga memiliki potensi besar sebagai generasi kritis yang mampu menginisiasi perubahan sosial melalui ruang digital. Fenomena aktivisme digital menjadi bukti bahwa Gen Z bukan sekadar generasi pasif, melainkan aktor perubahan yang signifikan.
Ruang Digital yang Tidak Netral
Penting untuk disadari bahwa ruang digital bukanlah ruang yang netral. Ia dibangun dan didominasi oleh nilai-nilai sekuler-kapitalistik yang menempatkan kebebasan individu, keuntungan ekonomi, dan popularitas sebagai orientasi utama. Algoritma media sosial, budaya viral, serta ekonomi atensi secara sistematis membentuk pola pikir pragmatis dan instan.
Dalam konteks ini, Gen Z sebagai digital native tumbuh dan berkembang di dalam ekosistem nilai tersebut. Akibatnya, cara pandang mereka terhadap kehidupan, kebenaran, moralitas, bahkan agama, sering kali dipengaruhi oleh standar-standar sekuler yang relatif dan individualistik.
Aktivisme Gen Z: Peluang dan Tantangan
Di sisi positif, era digital membuka ruang luas bagi lahirnya aktivisme glokal (global-lokal). Gen Z dapat dengan mudah belajar, membangun jejaring, menyuarakan keadilan, dan mengadvokasi isu-isu sosial melalui media sosial. Kesadaran terhadap isu lingkungan, kemanusiaan, dan ketidakadilan global menunjukkan potensi kritis yang besar.
Namun di sisi lain, aktivisme Gen Z juga menghadapi berbagai problem. Pergerakan yang muncul sering kali bersifat pragmatis, reaktif, dan berorientasi pada validasi publik. Tekanan untuk terlihat “peduli” di ruang digital dapat menggeser aktivisme dari perjuangan substansial menjadi sekadar performativitas.
Selain itu, pengaruh nilai inklusif-progresif yang dominan di ruang digital mendorong Gen Z untuk mempertanyakan otentisitas agama dan tradisi. Mereka cenderung membangun nilai sendiri yang berbeda dengan generasi sebelumnya, yang tidak jarang berujung pada relativisme kebenaran dan krisis identitas.
Menyelamatkan Generasi dari Hegemoni Sekuler-Kapitalistik
Melihat realitas tersebut, upaya menyelamatkan generasi dari hegemoni ruang digital yang sekuler-kapitalistik menjadi sangat mendesak. Penyelamatan ini bukan dengan menolak teknologi, melainkan dengan membangun paradigma berpikir yang benar dalam memandang kehidupan dan perubahan.
Allah SWT mengingatkan agar kaum beriman tidak larut mengikuti arus pemikiran yang menyimpang:
“Dan janganlah kamu mengikuti kebanyakan orang di muka bumi ini, karena mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.” (QS. Al-An‘am: 116)
Paradigma berpikir sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan harus digantikan dengan paradigma berpikir Islam yang menempatkan akidah sebagai asas. Islam tidak hanya dipahami sebagai ritual spiritual, tetapi sebagai sistem kehidupan yang mengatur pemikiran, perasaan, dan perbuatan manusia.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya di dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasad; jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, ia adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan pentingnya pembinaan akidah dan pola pikir sebagai fondasi utama dalam menyelamatkan generasi.
Arah Pergerakan Gen Z yang Sahih bagi Aktivis Dakwah
Bagi aktivis dakwah, Gen Z bukan sekadar objek binaan, tetapi subjek strategis perubahan. Pergerakan Gen Z perlu diarahkan agar tidak berhenti pada solusi parsial dan simbolik. Aktivisme yang sahih adalah aktivisme yang berangkat dari kesadaran iman dan bertujuan mengubah realitas sesuai tuntunan Islam.
Allah SWT berfirman:
“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar serta beriman kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 110)
Ayat ini menjadi landasan ideologis bagi aktivisme dakwah. Aktivisme bukan sekadar ekspresi kepedulian, tetapi amanah amar makruf nahi mungkar yang harus dijalankan secara terarah dan bertanggung jawab.
Paradigma Islam memberikan kerangka berpikir yang komprehensif untuk mengkritisi sistem yang rusak sekaligus menawarkan solusi sistemis. Dengan paradigma ini, Gen Z tidak hanya menjadi agen perubahan yang reaktif dan mencari validasi digital, tetapi pemimpin perubahan yang visioner dan berprinsip.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah dengan tangannya; jika tidak mampu maka dengan lisannya; jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)
Hadis ini menjadi pedoman bahwa perubahan harus dilakukan secara bertahap, terorganisir, dan sesuai kapasitas, bukan sekadar viral di media sosial.
Sinergi Keluarga, Masyarakat, dan Negara
Upaya menyelamatkan dan mengarahkan Gen Z tidak dapat dibebankan pada individu semata. Diperlukan sinergi antara keluarga, masyarakat, dan negara. Keluarga berperan sebagai benteng pertama dalam menanamkan akidah dan kepribadian Islam. Masyarakat berperan menciptakan lingkungan yang sehat secara pemikiran dan sosial. Negara memiliki tanggung jawab strategis dalam mengatur sistem pendidikan, media, dan kebijakan publik agar tidak tunduk pada kepentingan kapitalistik semata.
Penutup
Era digital adalah medan perjuangan baru. Gen Z berada di garis depan medan ini, dengan segala potensi dan tantangannya. Dengan paradigma Islam yang sahih serta dukungan sistemik dari keluarga, masyarakat, dan negara, Gen Z dapat diarahkan menjadi generasi pelopor perubahan yang tidak hanya kritis, tetapi juga solutif dan berorientasi pada kebenaran hakiki.

Posting Komentar